17 Apr 2011

PRAN-SOEH (NGESTHI KASAMPURNAN) (J - L)

J. PENYEBARAN DI GUNUNGKIDUL

Pada tahun 1937 di Gunungkidul Yogyakarta, ada kejadian yang menjadi berita hingga kemana-mana, yaitu tenggelamnya R.W. Harjasujadi, Wedana di Semanu, ketika sedang berenang di pantai Selatan, yang ditemani oleh Controleur B.B. Yang menjadikan masalah adalah karena jasadnya yang tidak pernah kembali ke daratan, maka sebenarnya apa yang sedang terjadi? Banyak orang, bukan hanya pihak keluarga saja yang ingin mengetahui tentang hal itu. Banyak sudah para kyai dan dukun yang memberikan syarat bermacam-macam tidak dapat mengatasi hal itu, semuanya gagal total.

Sukiyata Marta Harja Sirwoko (SMH. Sirwoko) adalah orang yang senang berprihatin dan senang berguru kepada siapa saja, dan yang paling digemari adalah masalah kanuragan. Kemudian penduduk Semanu memintanya untuk dapat mencarikan keterangan mengenai tenggelamnya RW. Harjasujadi kepada Den Carik Jagalan, di Muthilan, yang mana menurut banyak orang beliau sudah sangat terkenal untuk hal-hal seperti itu. Datanglah SMH. Sirwoko kepada beliau dengan diantar oleh Leo Sarima Prawiradiharja, menantu Pak Suter Prebutan seorang umat Khatolik yang sedah menjadi siswa di sana.

Rama RPS. Sastrosoewignyo sudah mengetahui sebelumnya bila akan kedatangan tamu yang berasal dari Gunung Kidul itu, makanya kemudian beliau memanggil para muridnya agar ikut bersama-sama menghadapi tamu istimewa tersebut. Yah istimewa karena sebenarnya orang itu sudah dinanti-nanti kedatangannya dari tahun 1918. Setelah SMH. Sirwoko menghadap beliaunya kemudian mengatakan apa maksud dari kedatangannya itu, tetapi yang diinginkan adalah mengetahui sendiri apa yang terjadi atas peristiwa tersebut. Makanya kemudian disuruhnya untuk meminta sendiri kepada Gusti Allah dengan syarat-syarat yang telah ditentukannya. Syarat itu adalah tapa ngambang atau kungkum selama sebelas malam. Karena agar lekas mengerti apa yang terjadi maka sepulang dari Munthilan SMH. Sirwoko ini sudah mulai mencicil kungkum di bawah jembatan Bunder (Kali Oya). Kemudian kungkum di Kedung Tompak terus Kali Jirak dan juga dibawah jembatan Jirak. Ternyata belum sampai sebelas malam (baru 4 malam) sudah mendapatkan berita yang sangat jelas di dalam impiannya yaitu alam halus. Semua kejadian terbaca dengan jelas dari asal mula perjalanan dari Semanu ke arah Selatan hingga saat tenggelamnya RW. Harjasujadi, dan tahu betul apabila jasadnya sudah tidak bisa lagi timbul karena memang sudah meninggal dan suksmanya tersasar ikut Sang Pria yaitu Kanjeng Ratu Kidul. Bagi SMH. Sirwoko sendiri keterangan yang demikian detail itu sudah sangat menjadikannya puas. Dan seterusnya adik RW. Harjasujadi yang belakangan kemudian mempunyai nama KRT. Suryaningrat, minta syarat kepada beliaunya Rama RPS. Sastrosoewignyo, paling tidak untuk ketentraman keluarganya sendiri. Akhirnya KRT. Suryaningrat sendiri bisa mengetahui dengan jelas bahwa saudaranya itu sudah tidak dapat lagi untuk kembali ke alam dunia fana, jasadnya sudah rusak dan memang benar suksmanya benar tersasar seperti apa yang diceritakan (dilihat) oleh SMH. Sirwoko. Selanjutnya KRT. Suryaningrat kemudian juga diangkat sebagai murid beliau. Pada awalnya SMH. Sirwoko tidak mengindahkan tentang hal yang seperti itu meskipun pada akhirnya setelah menjadi murid dan mempelajari semua ilmu-ilmunya dan juga melaui cobaan yang bermacam-macam dapat mengerti tentang kelebihan-kelebihannya tentang apa saja, yang juga akhirnya menjadikannya hormat terhadap beliaunya Rama RPS. Sastrosoewignyo dan tetap menjadi muridnya.

Pada intinya SMH. Sirwoko inilah sebenarnya orang yang menyebarkan ajaran Rama RPS. Sastrosoewignyo di daerah Gunuung Kidul. Pada awalnya memang seperti apa yang telah dicerikan di atas, tetapi kemudian SMH. Sirwoko ini merasa pernah menjumpai beliau di alam impian yaitu ketika dirinya tergoda oleh makhluk halus permpuan pada saat menyepi di guwa Rancangkecana sebelah Barat Playen. Saat itu SMH. Sirwoko ini merasa ditolong oleh seorang kakek yang menggunakan terompah (theklek), ya beliau itulah Rama RPS. Sastrosoewignyo. Kemudian diceritakan bahwa SMH. Sirwoko harus turut menyebarkan ilmu Gusti Allah dengan cara harus mencari saudar-saudaranya yang sudah lama berpisah. Diantaranya ada yang sudah pergi bertahun-tahun ke Pondok Pesantren ya memang untuk belajar ilmu-ilmu agama Islam, dan kakeknya sendiri adalah seorang Kyai yang sudah mengerti segala-galanya tentang ilmu-ilmu di dalam agama Islam. Namun demikian ketika bertemu dengan SMH. Sirwoko ini semua menjadi berubah dan akhirnya semua mengabdi dan menjadi siswa beliau Rama RPS. Sastrosoewignyo.

Dan akhirnya hampir seluruh kawasan Gunung Kidul dan sekitarnya sudah menyebar ilmu beliau Rama RPS. Sastrosoewignyo ini, yaitu ilmu tiga perangkat tadi. Apabila diuraikan maka mereka yang bertanggung atas penyebaran ilmu beliau Rama RPS. Sastrosoewignyo adalah sebagai berikut.:
a.   SMH. Sirwoko bertanggung-jawab untuk menyebarkan di daerah Godeyan yang membantu Setya Harjana, yang juga sebagai Guru Muhammaddiyah, dan sekalian untuk belajar Islam.
b.   Martaradana membuka cabang di Ngleri, Kapanewon Playen.
c.   Marta Wiyogho menyebarkan di Wonosari, kemudian pindah ke Yogyakarta kemudian di Wonosari seterusnya dipegang oleh Poedjo Soewito dan Sastro Sarjana.
d.   Di Semanu dan sekitarnya yang bertanggung jawab Marta Suwita. Marta Suwita ini sebelumnya pernah bertemu dengan beliaunya meskipun dalam bentuk yang lain, yaitu Kanjeng Sunan Kalijogo yang menggunakan pakaian lengkap. Kejadian itu terjadi tatkala sedang mencari ilmu kebatinan di kali Kakiman, terusan dari kali Jirak, atau di atas kali Bangsong.

Sebenarnya Rama RPS. Sastrosoewignyo sendiri sudah enggan untuk berpergian keman-mana, namun demikian apabila ada seseorang atau kelompok yang menghendaki kedatangannya untuk perlu memberikan wejangan ataupun siar ilmu Gusti Allah, beliaunya menyempatkan untuk datang, dan itupun tidak semuanya bisa terkalbulkan. Hanya terpilih beberapa saja yang memang bisa dilaksaknakan. Daerah yang banyak dikunjungi memang Gunung Kidul ini, karena disana ada anak menantunya, katakanlah sambil menyelam minum air, sambil menyiarkan ilmunya dan akhirnya juga bertemu dengan anak-cucunya disana.

Buat Rama RPS. Sastrosoewignyo seseorang itu agamanya apapun tidak menjadi masalah, semua sama saja, ya karena memang asalnya adalah satu yang bisa berubah menjadi apa saja. Hal ini dibuktikannya bahwa anak-anaknya yang tinggal enam (dari ke-14 anaknya yang terlahir dari rahim istri beliau) semuanya bersekolah di Yayasan Katholik artinya pasti beragama Katholik, sedangkan dirinya sedari kecil memang sudah beragama Islam terbukti saat menikah adalah menggunkan cara Islam. Tetapi ketika istri beliau ingin masuk agama Kristen dengan cara dibabtis dan kemudian minta ijin beliaunya, maka demikian ucapannya: "Yen kowe dibaptis Khatolik iku nuruti atimu dhewe sakarepmu, yen mung nuruti sedulur-sadulurmu, ora kena, aku ora rila, padha-padha nuruti rak angur nuruti aku ta, wong aku iki bojomu, lan kowe kuwi tunggal karo aku. Awake dhewe iki cocog karo agama apa bae, sebab sejatine Dzat wujud siji, dianggep beda-beda.”

Buat beliaunya juga anak adalah segala-galanya. Meskipun demikian urusan kebutuhan sehari-hari anak-anaknya diserahkan semua kepada sang istri. Dan ketika anak-anaknya sedang tidur nyenyak beliau tidak berani mengganggu sama sekali, bahkan untuk urusan yang penting sekalipun kepada istrinya hanya dilakukan dengan pelan dan hati-hati sekali, tentunya agar bila anak-anaknya sedang mempunyai keinginan agar tidak terganggu, ya tentu saja untuk hari depannya juga. Dan juga kecintaan terhadap anak-anaknya itu tidak perlu ditonjol-tonjolkan tetapi lakukan saja seperti biasa, ini tentu saja untuk mendidik sang anak agar tetap berlaku wajar dan tidak ugrungan (manja). Dan menurut beliau pula bahwa seorang anak tidak baik bila harus minum susu sapi, karena secara fitrah seorang anak itu menyusu ibunya bukan kepada hewan, yang nantinya bisa menyebabkan polah tingkah anaknya seperti hewan. Hal ini terbukti, ketika istrinya sakit yang amat sangat sehingga tidak bisa mengeluarkan air susu, anaknyapun tetap tak boleh minum susu. Dan juga dalam bertutur kata, sebaiknyalah tidak menggunakan kata-kata yang kasar apalagi jorok, tentu saja agar kelak dikemudian hari anak-anaknya selalu dalam keadaan yang baik dan tidak mendapatkan kesukaran yang berarti, yang mungkin karena kata-katanya tadi, bahasa lainnya adalah hukum karma. Dan beliaunya juga sangat memperhatikan pendidikan putra-putrinya, jangan sampai menjadi orang yang tidak berpendidikan, meskipun kadang-kadang juga anak-anaknya mendapatkan kemarahan beliau, ya itu juga agar anak-anaknya tetap berada pada jalur yang benar.

Mungkin bagi orang kebanyakan hal yang demikian ini adalah sesuatu yang hampir-hampir tidak memungkinkan. Tetapi buat Rama RPS. Sastrosoewignyo adalah memang harus demikian adanya. Hal ini terjadi ketika akan mendapatkan menantu Marta Asmara dari Wonosari Gunungkidul. Sebelum melamar resmi anak beliau Rr. Wening Marta Asmara hanya memberikan secarik surat kepada beliaunya yang isinya kurang lebih hanya akan meminta sebutir biji kemiri. Dan hal itupun dibalasnya sebagai berikut: " Hasareng punika, kula ngintunaken wiji kemiri, kajawi punika kula gadhah wiji sekar Mandhalika, nedheng-nedhengipun mekar-mekar, kula kinten sae lan cocog sanget katanema wonten Gunung Kidul, temtu badhe ngrembaka, woh lan thukulanipun kathah. Yen sakinten nak guru ngresakaken supados kengkenan mendhet, tinimbang namung kabatos."

Maka dari itu kemudian dengan tidak ragu-ragu lagi Marta Asmara melanjutkan dengan lamaran resmi dan akhirnya bisa menimang Rr. Wening dengan tidak menggunakan sarana yang mahal-mahal seperti kebanyakan orang-orang umumnya pada saat itu. Tidak menggunakn paningset, srakah, gawan, tukon atau sanguning panganten dan juga permintaan yang berlebih-lebihan, karena menurut beliaunya hal yang seperti itu bukanlah hal yang diinginkan Gusti Allah. Hal seperti itu bukanlah suatu kebetulan, karena memang Marta Asmara adalah murid beliau juga, yang tentu saja sudah sangat mengerti (tamat dengan sempurna) oleh ilmu-ilmu yang diajarkannya. Jadi sebenarnya Marta Asmara sudah mengerti dan hafal betul dengan bahasa-bahasa sandi yang sering diajarkan kepadanya, tentu saja kadang-kadang maupun sering hanya lewat mimpi-mimpi mereka yang akhirnya bisa menyatukan suatu pendapat, dan itu artinya bahwa semua itu atas petunjuk dari Gusti Allah. 



K. MENYIARKAN ILMU GUSTI ALLAH DENGAN WAYANG KULIT

Pada mulanya murid-murid Rama RPS. Sastrosoewignyo menamakan dirinya sebagai Oemat Mohammad Munthilan yang kemudian disingkat OOM. Memang bukan berarti mereka semua berasal dari Munthilan, dan juga tidakberarti pula mereka seluruhnya beragama Islam, tetapi yang dimaksud adalah bahwa di Munthilan itu ada seseorang sebagai penjelmaan dari Nabi Muhhamad s.a.w.

Tetapi karena memang banyak sekali murid-murid beliau yang tidak beragama Islam sehingga dengan OOM tadi selalu dibawa-bawa kata Mohamad, maka kemudian singkatan itu OOM tadi berubah menjadi Oemat Marsudi Makrifat. Yang memang bahwa sebenarnya perkumpulan itu belajar tentang ilmu-ilmu makrifat, yaitu bagaimana agar batin menjadi terbuka dan bisa dengan mudah mengetahui adanya alam halus. Kemudian dari kalangan terpelajar juga diperoleh usul agar perkumpulan itu benar-benar nyata, dan mudah untuk menyebarkan ilmu-ilmunya sehingga suatu saat ada bahaya yang mungkin saja mengancam akan dengan mudah untuk segera ditanggulangi. Kemudian perkumpulan itu diberi nama POOM (Pakumpulan Oemat Marsudi Makrifat), dan menjadi sebuah organisasi resmi pada saat itu.

Murid-murid Rama RPS. Sastrosoewignyo, pada awalnya hanya disebut sebagai Kadang Golongan saja, yaitu bermakna bahwa mereka memang sedang menimba ilmu menggolongkan (berkelompok) kepada beliau untuk belajar ilmu Gusti Allah. Yang pada mulanya hanyalah merupakan kumpulan orang-orang yang meminta pertolongan kepada beliau, dan banyak juga yang menginginkan ilmu-ilmu kanuragan. Belakangan ternyata banyak juga orang-orang yang sudah sangat pandai bersyareat dalam agama Islam, dan sudah menjadi ulama besar yang selalu dimintai pengetahuan (kawruh) oleh orang banyak. Orang itu antara lain Ahmad Suhada yang berasal dari desa Kyangkongrejo, Kutoarjo di kawasan Bagelen. Satu lagi Karta Wiharja yang sebenarnya sudah merupakan sesepuh agama Islam di Munthilan. Orang-orang ini nantinya akan menjadi saksi lahir batin buat beliau dan akan selalu membantu dalam meneruskan perjuangan sucinya.

Riwayat Kyai Ahmad Suhada ini agak unik. Karena sebenarnya dia adalah seorang yang sudah termasyhur dalam hal agama Islam. Namanya saja sudah memperlihatkan bahwa dia adalah orang Jawa yang pastinya sudah sangat erat hubungannya dengan Islam. Meskipun demikian Ahmad Suhada masih merasa kurang mampu dalam hal ke-suksmaan. Makanya kemudian meninggalkan pondoknya tempat membagi ilmu kepada orang-orang sekitarnya menuju daerah sekitar Pacitan. Disana dia menjadi siswa tentunya pada seorang yang lebih tinggi ilmunya. Tetapi suatu ketika pada saat sedang tidur dianya bermimpi mendapatkan petunjuk: “Ahmad Suhada kowe aja katrem lan kabesturon mung tansah ngaji bae, sing perlu golekana maknane sahadad kang tanpa sadu.” 

Setelah bangun dianya merasa sangat terkejut dan termangu-mangu. Kemudian hal itu diceritakannya kepada Pak Kyai di pondok itu. Pak Kyainya tidak dapat memberikan keterangan apa-apa, tetapi menyanggupi untuk memberikan keterangan setelah beberapa hari kemudian, minimal seminggu (7 hari). Pak Kyainya sendiri yang meneges dengan laku tertentu, akhirnya setelah 4 hari dipanggilnya Ahmad Suhada untuk menghadap dan berkata: “Wis begjane awakku ora menangi lelakon iki, kowe endang lunga saka kene menyang daerah Kedu, kang kok goleki bakal katemu.”
Perintah itu dilaksanakannya dengan segera, meskipun dalam pengembaraannya dianya sambil berjualan kain batik lurik khas Kutoarjo.

Rama Resi Pran-Soeh Sastrosoewignyo sampai sedemikian jauh masih juga melakukan tapa ngrame, yang berada di guwa samun. Artinya beliau masih saja melakukan hal yang aneh-aneh untuk menutupi bahwa dirinya itu sebenarnya sedang menjalankan laku prihatin dengan caranya sendiri. Kehidupan sehari-hari adalah biasa dan terpenuhi sudah oleh ketangkasan sang istri. Tetapi dalam hal tapa ngrame tadi banyak hal yang dilakukannya yang menjadikannya seperti orang yang tidak waras. Misalnya masih suka berenang meskipun usia sudah berbilang, masih saja balapan merpati, adu jago dan lain-lain. Yang sangat aneh adalah ketika kegemaran beliau menari, dan kemudian diwujudkannya dalam kesenian maka jadilah seorang yang berpenampilan seperti tledek (penari tayub), dan karena selalu ingin membuat senang pada semua orang, maka dimanapun tempat beliau diminta untuk menari maka dilakukannyalah hal demikian itu. Yang mula-mula kesenian tledek itu masih menggunakan perangkat lengkap (gamelan penyanyi dan sebagainya) tetapi kemudian bahwa semua orang sudah mengetahui akan hal itu, maka dimanapun setiap ada tontonan yang seperti itu, dan beliaunya belum menari maka penonton pun tidak mau beranjak dari tempatnya. Bahkan ketika ditengah sawah ada serombongan anak-anak (biasa anak yang suka usil) memintanya untuk menari dengan gamelan dari mulut anak-anak itu maka hal itu dilaksanakan juga. Sehingga akhirnya beliau terkenal sebagai orang yang berpenampilan aneh dan suka menari di sembarang tempat.

Adalah sebuah Masjid di Munthilan, sehabis sholat Jum’at, Ahmad Suhada yang kemudian berkenalan dengan seseorang Karta Wiharja, pemuka agama Islam di Kampung Sayangan Munthilan. Setelah berbicara sampai berbuih-buih kemudian Ahmad Suhada menanyakan secara serampangan adakah seorang Kyai yang termashur di tempat itu? Dijawabnya tidak ada. Tetapi ada Kyai yang kurang terkenal, hanya seorang Carik di desa Jagalan, tetapi masih suka balapan merpati, ataupun menari-nari dipinggir jalan sampai dengan bertaruh (botohan), dan mirip orang yang kurang waras, dan sebaiknya janganlah kesana, karena nggak ada gunanya. Namun demikian Ahmad Suhada tetap ingin bertemu dan berangkatlah kerumah beliau. Saat itu beliau sedang ada di rumah, setelah memperhatikan beberapa saat, memang benarlah beliau yang ada dalam mimpinya itu. Maka dengan semena-mena Ahmad Suhada kemudian mau menyembah sambil jongkok dan ingin meraup beliaunya dan menghaturkan sembah bakti. Tetapi RPS. Sastrosoewignyo tidak mau dan menolaknya sambil menghindar. Dan bagaimanapun juga Ahmad Suhada mejadi sangat jengah, yang sudah lama terlunta-lunta hanya untuk mencarinya kok akhirnya hanya begini. Namun demikian RPS. Sastrosoewignyo tidak terlena begitu saja, sehingga akhirnya menyambutnya dengan kata-katanya bahwa hal yang seperti itu sudah kehendak Gusti Allah, makanya agar lebih memantapkan keimannannya kepada Gusti Allah. Dan seterusnya Ahmad Suhada kemudian mejadi muridnya dan juga yang menyebarkan ajaran-ajarannya di daerah Kutoarjo.

Bagi Karta Wiharja dengan terpikatnya Ahmad Suhada menjadi pengikutnya berarti adalah bahwa memang beliaunya adalah orang yang sangat berpengaruh di kawasan itu. Tentu saja Karta Wiharja ini ingin membuktikan sendiri siapakah Rama RPS. Sastrosoewignyo sebenarnya, dan masihkah dapat ditaklukkannya untuk kembali kepada Islam yang sebenar-benarnya. Maka kemudian di suatu hari Karta Wiharja menyempatkan diri untuk bertandang ke rumah beliau, tentunya dengan maksud ingin menyadarkan beliau untuk kembali kepada cara-cara Islam yang benar, dimana beliaunya juga mengakui beragama Islam.

Setelah berdebat sebentar dan Karta Wiharja menguraikan ayat-ayat dan surat-surat yang ada dalam Kitab Al Qur’an, dengan maksud agar beliaunya sadar dan mau kembali ke Islam yang sebenarnya, maka kemudian dijawabnya dengan tembang:
"Tirta wiyat sida guri manca-warna,
Edan kula kapilut luwesing basa,
Petis manis sarining kaca benggala,
Aja ngucap yen durung weruh ing rasa."

Setelah itu Karta Wiharja disergap pertanyaan-pertanyaan:
“Sapa sing mangerteni maknane Tangawud? Maknane surat Eklas? Maknane surat Anas?
Maknane surat Alfatekah? Sapa kang mangerti nyatane jim kang lengket ing dhadhaning para manungsa? Allah iku sawiji, sapa kang bisa nyawijekake kongsi meruhi nyatane yen Allah iku siji? Andak ana kang nekseni temenan yen Kangjeng Nabi Muhammad iku Utusane Gusti Allah? Iki anggoleki barang nyata lho, dudu apalan lan negesi tembung.
Dak kira ing donya ora ana kang bisa prakara iki, yen ora nganggo cara-caraku. Suwarga neraka besuk-besuk dirembug. Wong kaanane saiki bae durung mangerti. Mara arep ndherek Kangjeng Nabi Muhammad kuwi, saiki suksmane ana ngendi? Dedege Kangjeng Nabi Muhammad karo aka dhuwur endi? Yen kacek, kaceke pirang senti? Dak pestekake padha ora weruh.”

Akhirnya Karta Wiharja tidak bisa ngomong lagi, lama kelamaan dia ikut mejadi murid beliaunya. Setiap saat dia hanya disuruh meminta petunjuk Gusti Allah agar bisa bertemu dengan suksma Kangjeng Nabi Muhammad. Tetapi setelah dijalankan dianya hanya selalu bertemu dengan Rama RPS. Sastrosoewignyo, makanya kemudian ditetapkannyalah bahwa Nabi Muhammad dan Rama RPS. Sastrosoewignyo itu adalah satu. Setelah Karta Wiharja lulus, diperolehlah keterangan-keterangan yang bermacam-macam. Juga hubungannya tentang nabi-nabi yang sudah-sudah dengan beliaunya. Begitu juga dengan kitab-kitab satu dengan lainnya. Dan Wayang Purwa (cerita dalam pagelaran Wayang Kulit) juga merupakan kitab suci seperti halnya Al Qur’an. Karta Wiharja akhirnya ikut menyiarkan ajarn-ajaran beliau di daerah Kedu (Magelang dan sekitarnya).

R. Sastro Mujono dari Yogyakarta, adalah murid baru tetapi mempunyai ketrampilan dalam hal ilmu perkeliran. Karena ketrampilannya itu maka setiap kali diadakan peringatan keberadaan (kelahiran) Rama RPS. Sastrosoewignyo yaitu saat beliaunya mendapatkan wahyu yang pertama dan kedua, maka selalu diadakan selamatan dan juga bersenang-senang dengan menggelar pertunjukan wayang kulit. Karta Wiharja menjelaskan ajaran-ajaran beliau diselang-seling dengan bacaan Kitab Suci Al-Qur’an dan setelah itu wayang baru dimulai. Lakon yang bisa dimainkan adalah hal-hal yang banyak hubungannya dengan ilmu Gusti Allah yang tiga perkara itu. Dengan demikian banyak orang yang kurang suka dengan pertunjukan yang seperti itu. Karena bisa dikatakan hal yang demikian itu sama saja dengan syirik. Dan ketika pertunjukan wayang diadakan di Tambakbaya (sebelah Barat Magelang), mendapatkan rintangan yang cukup besar yang akhirnya menggagalkan pertunjukan wayang itu sendiri. Pertunjukan wayang itu dilempari batu yang bertubi-tubi, dan akhirnya beliaunya diungsikan dengan mobil, meskipun begitu masih juga dikejar-kejar sampai kaca mobil pecah. Tetapi semua selamat tanpa ada yang cedera sedikitpun. Karena beliaunya tidak berkenan mengenai hal ini maka para perusuh tadi akhirnya dipenjarakan oleh pemerintah saat itu. Sebagai pertanda kejadian itu desa Tambakboyo untuk sementara waktu tidak bisa ditanami pepohonan (tumbuh tetapi tidak bisa menghasilkan apa-apa). Demikian juga ketika menggelar pertunjukan di desa Tingal, Borobudhur, ada gangguan yang cukup besar. Rama RPS. Sastrosoewignyo diejek yang bertubi-tubi dengan kata-kata yang sangat tidak mengenakkan di telinga: "Lha, kae methongkrong kae, bangkokane, lha kae celenge".
Dengan sabar beliaunya memberi jawaban: "Aku ora isi apa-apa, kajaba mung nindakake dhawuhe Gusti Allah. Sing muni celeng, kowe ngetokake tetembungan celeng, dadi batine isi celeng."

Selain diejek yang demikian juga ketika duduk maka selalu diogrog-ogrog dengan bambu runcing, dan juga dengan melepaskan tawon yang jumlahnya cukup banyak. Meskipun demikian pertunjukan wayang tetap berjalan karena para perusuh diusir oleh anggota perkumpulan yang jumlahnya cukup banyak dan juga polisi pamong praja.

Dari agama Kristen Katholik juga banyak yang menjadi murid beliau, karena memang Munthilan adalah kota kecil yang warganya banyak beragama Katholik. Untuk yang beragama Katholik ini sama dengan yang diberikan kepada Ahmad Suhada, yaitu mereka harus mencari suksma Gusti Yesus, yang akhirnya juga hanya dapat bertmu dengan beliaunya, yang pada akhirnya semua berkeyakinan bahwa beliau ini memang Sang Utusan. Namun demikian, ketika pembicaraan sampai dengan siapakah Sang Penebus Dosa? Ini pastilah menjadikan masalah, tetapi akhirnya tidak terjadi apa-apa.

Rintangan selanjutnya adalah banyaknya fitnah-fitnah yang mengatakan bahwa ilmu-ilmu yang beliau ajarkan adalah tipuan belaka, ilmu goroh, melanggar kesusilaan dan lain sebagainya. Itu karena banyaknya padepokan-padepokan atau tempat-tempat perkumpulan semacam itu yang mulai kekurangan murid, tentu saja juga mengurangi kewibawaan disamping juga pendapatan. Tetapi akhirnya semua orang yang memfitnah beliau mendapatkan hukuman dari pemerintah.

Sebenarnya penyebaran ajaran-ajaran ini menjadi tidak terorganisir sekitar tahun 1931 sampai dengan 1936. Hal ini karena yang bertanggung jawab menyebarkan di daerah Godean dan sekitarnya serta Yogyakarta kurang memperhatikan para siswanya yang sampai ribuan dan tersebar dimana-mana. Pada akhirnya pemerintah Belanda ikut turun tangan dengan mengawasi seluruh kegiatan perkumpulan itu. Dan diperkirakan memang perkumpulan itu tidak membahayakan ataupun merugikan pihak-pihak lain dan mengerti sendiri atas pribadi Rama RPS. Sastrosoewignyo, akhirnya diputuskan agar abdi pemerintahan tidak boleh lagi mengganggu perkumpulan itu.

L. ORGANISASI O.M.M. SEMASA PERANG DUNIA DUA DAN PENJAJAHAN JEPANG

POMM adalah nama resmi dari perkumpulan itu, yang ternyata sangat membantu dalam penyebaran ajaran-ajarannya. Dengan banyaknya siswa yang mempunyai kemampuan bermacam-macam ini terutama dalam kesenian kerawitan, maka perkumpulan itupun juga menjadi sangat mudah untuk berkembang. Dan kemudian akhirnya banyak diciptakan gending-gending dan cerita-cerita wayang yang memang disengaja untuk menyebarkan ajaran-ajaran beliaunya. Tetapi baik itu gubahan cerita wayang maupun gending-gending yang diciptakan semua disetujui oleh Rama RPS.Sastrosoewignyo. Gending-gending yang sudah diciptakan itu antaralain:
a.   Gendhing Tri Asmara Tunggal, digubah dari Puji Langgeng, yaitu puji-pujian yang biasanya dikumanadangkan (didendangkan) pada saat kesusahan, misalnya karena anak yang sakit, atau merasa tidak nyaman dan mungkin karena memang kondisinya memprihatinkan. Dan apabila dilantunkan di alam halus maka akan dapat menghindarkan dari gangguan makhluk halus.
b.   Gendhing Tri Pusara Mudha, gerongan Sinom yang bait-bait awalnya diciptakan sendiri oleh beliaunya Rama RPS. Sastrosoewignyo.
c.   Cerita Wayang lakon Srikandi Racut, yang sebenarnya merupakan bahasa isyarat (sasmita) akan datangnya Perang Dunia ke-II (Ratu Wilhelmina meninggalkan kerajaan).
d.   Cerita Wayang lakon Bethara Guru Kawiyak, adalah menggambarakan kedatangan Jepang yang semula katanya ingin memajukan wilayah Asia Timur, ternyata malah mengumbar angkara murka, sehingga kelihatan sekali kejahatannya itu.

Sebelum Belanda menyerah terhadap Jepang, SMH. Sirwoko dan Marta Wiyogo membuat buku yang judulnya Garan Pusaka Batin dan Kunci Pusaka Batin. Kedua buku itu kurang lebih berisi tentang tata-cara atau pokok-pokok dari ajaran-ajaran Rama RPS.Sastrosoewignyo. Buku itu dimaksudkan sebagai pegangan bagi para siswa-siswanya yang sudah tamat untuk mengajarkannya kepad murid-muridnya yang lain.

Bahasa adalah bukan merupakan suatu rintangan untuk berkomunikasi, apabila apa yang diinginkan sudah bisa diketahui melalui batin. Hal ini mungkin terasa aneh buat orang banyak, tetapi demikianlah yang terjadi terhadap beliau Rama RPS. Sastrosoewignyo. Adalah terjadi ketika Jepang menjadi penguasa di tanah Jawa ini (menjajah Indonesia) untuk menggantikan kekuasaan Belanda yang dikalahkannya dalam PD II. Ketika tentara Jepang masuk ke kota Munthilan maka tidak ada yang berani untuk menghadapinya, ada khabar bahwa tentara Jepang itu adalah tentara yang sangat kejam, tidak segan-segan untuk melukai dan bahkan membunuh. Tetapi beliaunya menyanggupi ketika dimintai pertolongan oleh penguasa Munthilan untuk membantu menghadapi Jepang, meskipun tidak mengerti sama-sekali bahasa Jepang tetapi asal sudah mengerti apa kemauannya maka hal itu tidak menjadi halangan untuk berkomunikasi. Sebelum terjadinya larang-pangan maka beliaunya memberikan sasmita dengan makan thiwul dan berpakaian yang serba compang-camping yang terjadi di Gunung Kidul. Karena hal yang demikian pula akhirnya organisasi POMM akhirnya mendapatkan surat keterangan resmi dari pemerintah Jepang sebagai satu-satunya organisasi yang diakui saat itu. Meskipun begitu toh acara berkumpul bersama tetap tidak bisa dilakukan, maka untuk bisa bertemu dengan beliau para siswanya sowan dengan cara bergiliran.

Karena banyaknya murid-murid beliau yang berasal dari keluarga bangsawan (ningrat. keturunan Mataram), maka beliaunya berpesan untuk mencari suksma sesepuh Mataram  yaitu Eyang dalem Sinuwun Sultan Agung Mataram, yang kuburannya ada di Pajimatan, Imogiri. Meskipun mulanya tidak banyak yang mengetahui tetapi dengan penjelasan-penjelasan yang rinci akhirnya diperoleh juga, yang mana namanya suksma sampai kapanpun akan tetap ada, sehingga akhirnya murid-murid beliau yang berasal dari keluarga bangsawan tidak banyak lagi yang datang kepada beliaunya, tetapi menyembah langsung kepada suksma Eyang dalem Sinuwun Sultan Agung Mataram. Meskipun demikian sewaktu-waktu ada yang ingin naik pangkat ataupun mencari usada atas suatu penyakit atau keadaan yang tidak mengenakkan masih ada yang datang ke beliaunya, dan hal seperti inipun tetap disanggupinya.

Seperti ketika pada masa penjajahan Belanda, maka pada jaman pendudukan Jepang perkumpulan ini juga tidak diganggu sama-sekali, bahkan Residen Kedu memberikan surat keterangan resmi bahwa beliau ini mengajarkan ilmu suci.




Ref: