17 Apr 2011

PRAN-SOEH (NGESTHI KASAMPURNAN) (B - D)

B. SAAT-SAAT KELAHIRAN RAMA RESI PRAN-SOEH SASTROSOEWIGNYO.

Sebelum kelahiran Rama RPS. Sastrosoewignyo, sebenarnya tidak ada tanda-tanda alam yang menjadi perlambang akan terjadinya sesuatu, atau tidak ada kejadian yang aneh-aneh, hanya saja ayah dari Kyai Natratrisula pernah memberikan sabda (tahun 1863 M) pada saat dia (Kyai Natatrisula) masih sebagai penganten baru. Sabdanya kurang lebih begini: “Putuku (anakmu) kang nomer loro besuk metu lanang, jenengna Gunung Rama Pran-Soeh. Iku kinacek karo sapadha-padhaning titah.” Dan ternyata sabda itu ada dua dan yang satunya: "Yen adhine Gunung Rama Pran-Soeh wis lahir, iku calone wedok, iya ing wektu iku lelakonku wis rampung."

Dan sabda tadi akhirnya benar-benar menjadi kenyataan, sehingga lahirlah ke dunia seorang bayi laki-laki pada hari Rebo Paing tanggal 12 Jumadilakir tahun 1797 (30 September 1868) dan menuruti sabda tadi maka anak tersebut diberi nama "Gunung Rama PranSoeh".

Dan kemudian lahir lagi anak yang ketiga perempuan. Pagi-pagi sekali Kyai Wiropati masih sempat untuk sembahyang subuh. Kemudian beliau menjenguk anak mantunya yang sedang menghadapi kelahiran anaknya yang ketiga, beliau mengucap: "Putuku wis meh, aku iya meh”. Dan benarlah lahir bayi perempuan, kemudian beliau tiduran, terus lelaku, dengan keadaan yang tenang dan tentram beliau meninggalkan alam fana ini pada saat keluarga juga sedang mendapat kebahagiaan atas sebuah kelahiran.

Tentu saja hal yang seperti itu bukanlah hal yang biasa, sebuah keluarga yang sedang merayakan (slametan) kelahiran bayi sekaligus peringatan untuk orang meninggal (slametan surtanah). Dan lebih-lebih lagi bagi yang mengetahui tentang sabda itu, pastilah Kyai Wiropati bukanlah orang-orang golongan biasa tetapi mempunyai kelebihan yang artinya beliau adalah orang yang dekat dengan Tuhannya (Gusti Ingkang Maha Kawasa), dan tidaklah terlalu berlebihan jika ternyata akhirnya banyak sekali orang yang datang melayat untuk memberi penghormatan terakhir, dan pada waktu itu banyak pula orang-orang yang datang dengan tujuan ngalap berkah Kyai Wiropati.

Pada masa kecil Rama RPS. Sastrosoewignyo, meskipun sang ibu mengetahui tentang isi sabda tadi tetapi tidaklah mungkin seorang mantu harus sampai mendesak-desak mertuanya untuk megetahui lebih jauh tentang sabda tadi, itu adalah sesuatu yang sangat melanggar kesusilaan meskipun merekapun adalah keluarga yang baik dan selalu terbuka dan dekat antara anak mantu dengan mertua. Jadi apapun yang menjadi pertanyaan dalam hatinya hanya dipendam saja, Apa sih maksud sebenarnya dari sabda tadi? Jadi orang yang lebih dari sebangsanya itu bagaimana? Apakah akan jadi orang kaya? Apakah akan jadi orang berpangkat tinggi? Apakah akan jadi orang yang disegani di seluruh kawasan? Atau mungkin akan seperti eyangnya yang mempunyai penglihatan batin yang tajam dan kelebihan-kelebihan lainnya? Meskipun demikian sang ibu tidak membeda-bedakan antara satu anak dengan anak yang lainnya dalam pengasuhannya. Dalam bahasa jawa ora ana emban-cindhe emban-siladan. Dan tentu saja diasuh seperti kebanyakan anak-anak pada waktu itu.

C. MASA-MASA KECIL RAMA RESI PRAN-SOEH SASTROSOEWIGNYO

Raden Gunung adalah nama panggilan Rama Resi Pran-Soeh Sastrosoewignyo sehari-hari ketika seseorang belum beristri. Pada waktu itu seseorang yang baru nikah akan mendapatkan nama baru dari orang tuanya. Ya kalau nama itu akan dipakai selanjutnya boleh-boleh saja. Tetapi biasanya nama pemberian setelah menikah akan lebih bagus daripada nama aslinya. Jaman sekarang sudah nggak perlu lagi, karena belum apa-apa sudah ditodong nama untuk surat akte kalahiran. Dan seluruh nama yang akan muncul nanti (di KTP, SIM, Ijazah) semua harus mengacu pada nama yang ada di surat akte kalahiran. Jadi tidak heran kalau orang-orang dulu mempunyai nama anak-anak yang pendek sederhana seperti: Gatot, Gareng, Blowah, Kemis, Kliwon dsb, toh nanti setelah dewasa dan menikah nama itu akan diganti.

Ayah Raden Gunung, Kyai Natatrisula beragama Islam dan melaksanakan sembahyang lima waktu. Mempunyai pangkat Demang, yang pada waktu itu adalah pangkat yang cukup tinggi. Dan sebenarnya masih keturunan bangsawan (ningrat) sehingga mempunyai gelar Raden dan nama panjangnya Raden Gunung Rama Pran-Soeh, tetapi hanya dikenal sebagai Raden Gunung saja.

Kyai Natatrisula mempunyai kelakuan yang jauh berbeda dengan ayahnya, dalam bahasa Jawa koyo kacang ninggal lanjaran. Adanya hanya bersenang-senang saja, tidak pernah tahu bagaimana bertanggung jawab terhadap anak-istri, dan juga bagaimana sebagai orang yang beragama. Sangat jauh berbeda dengan ayahnya yang bisa dikatakan sangat berbudi, taat beribadah, suka berpuasa dan sangat menjauhi larangan-larangan agama.

Keadaan yang seperti itu menjadikan penghidupannya sangat morat-marit. Rumah seperti tidak terawat, pekarangan yang luas dibiarkan saja tanpa menghasilkan apa-apa. Hal yang seperti inilah yang menjadikan Nyi Natatrisula tidak tentram, dan yang ada hanya merasa tersiksa di dalam hati. Bagaimana tidak kalau seringnya sang suami tidak pulang dan pastinya punya istri muda dan melupakan istri dan anak-anaknya. Seandainya belum mempunyai anak maka pastilah minta dipulangkan saja ke orang tua (seperti lagunya Betharia Sonatha). Mengingat anak-anaknya yang masih kecil-kecil dan masih banyak membutuhkan pendidikan, mau nggak mau dikuat-kuatkan untuk menghadapi cobaan itu.

Semua anak-anak Kyai Natatrisula tidak mengenal (menjauhi) ayahnya hanya ibunya saja yang selau memberikan perhatian. Buat Raden Gunung sendiri lebih baik pergi ke sawah, tegalan, atau kemana saja asal tidak di rumah, mengingat orang tuanya yang selalu bertengkar. Hal itu pula yang membuatnya menjadi semakin prihatin, yang hanya makan sekali sehari, dan tidur dimana saja. Buat Nyi Natatrisula dengan keadaan yang demikian itu menjadikannya tidak lagi memperhatikan suaminya, tetapi lebih ke anak-anaknya, dan sering tidak mau makan dan tidur sampai larut malam hanya karena memikirkan nasib anak-anaknya.

Hanya saja Nyi Natatrisula adalah keturunan orang tani (kampung) biasa, yang tentu saja mempunyai perilaku yang baik-baik: jujur, welas-asih, temen, berperikemanusiaan, tepa-slira. Beliau sendiri sudah menjalani menjadi petani yang miskin, serba kekurangan dan bila punya keinginan belum tentu kesampaian. Maka dari itu meskipun sudah tau dirinya bukanlah orang yang serba kecukupan karena ulah suaminya, tetap saja sifat-sifat baik itu masih dijalankannya. Misalnya ketika ada orang yang kesripahan, miskipun tidak punya uang untuk menyumbang dipaksakannya dengan menggadaikan barang-barang yang mungkin kurang berharga hanya untuk sekedar memberi pertolongan kepada yang kesusahan.

Raden Gunung ikut membatu ibunya sebisa-bisanya, hanya untuk sekedar memberi keringanan. Dan Kyai Natatrisula sendiri hamper-hampir sudah melupakan sabda bapaknya untuk Raden Gunung. Yang lebih mengherankan adalah Raden Gunung sendiri sedari kecil (10 tahun) sudah dapat menerima wahyu dengan jelas dan mantap. Wahyu (Dhawuh saking Kang Maha Kuasa) tadi terjadi di alam impian sasmita maya kawahya. Ketika beliau sedang mengalami demam tinggi, dalam impiannya akan dipatok oleh burung mliwis. Dalam hati dalam impian tadi: “Yen ora ana pitulungane Ingkang Maha Kuwasa mesthi tekan pati”. Dan akhirnya memang benar burung itu pergi, dan oleh sebab itu pulalah sakitnya menjadi sembuh.

Kyai Natatrisula tidak berumur panjang, hanya 42 tahun. Serpeninggal mendiang ayahnya tentu saja penghidupannya tidak berubah begitu saja, tetapi makin hari malah makin susah. Anak masih kecil-kecil dan belum ada satupun yang bisa diandalkan (mentas). Dengan demikian Raden Gunung makin tambah prihatin, dan mengupayakan sekali agar beban yang menimpa ibunya bisa menjadi lebih ringan. Dan diputuskannya untuk ngenger (mengabdi pada keluarga berada) sambil tetap sekolah agar kelak bisa selesai sekolahnya (Sekolah Rakyat ongko II, jaman penjajahan Belanda). Tetapi dalam ngenger tersebut tidak menetap, alias berpindah-pindah.

Ngenger yang pertama di Sleman, kemudian pindah ke Dharatan (Sendang Pitu), Ngijon. Kemudian kepada orang yang berpangkat Demang yang bernama Srema, tetapi tidak lama. Dengan ngenger yang berpindah-pindah ini kemudian mengenal berbagai watak orang. Meskipun demikian kebanyakan orang yang ditempati selau merasa puas atas pekerjaannya, karena Raden Gunung mempunyai watak yang mudah beradaptasi serta pintar dan pandai. Yang paling berpengaruh adalah kejiwaannya yang sangat perasa, sehingga belum sampai bendoronya menyuruh semua sudah dikerjakan selesai dengan benar.

Suatu cerita adalah ketika dia ngenger pada seorang ulama/kyai yang terkenal. Ketika Raden Gunung sudah bekerja bermacam-macam yang tidak henti-hentinya, yang dapat dikatakan ikut apapun perintah tuannya, Pak Kyai tadi belum merasa puas kalau belum melihat Raden Gunung kepayahan dalam hal bekerja. Yang sangat tidak nyaman di hati adalah ketika Pak Kyai itu memerintah untuk mencarikan rumput buat kuda-kudanya tetapi dengan cara mengomel kepada anaknya sendiri. Raden Gunung mengerti akan hal itu sehingga langsung mengambil keranjang dan arit terus pergi merumput. Tetapi dalam hatinya terasa amat sakit, yang mana hanya untuk memerintah saja mesti menggunakan cara-cara yang demikian. Beberapa hari kemudian Raden Gunung menghadap Pak Kyai untuk minta ijin keluar dari pengengerannya. Pak Kyai mengabulkan permintaan Raden Gunung, namun demikian sepeninggal Raden Gunung Pak Kyai tadi menjadi sakit-sakitan dan pada akhirnya meninggal. Tidak hanya sampai segitu saja, ternyata setelah diteliti dan diterawang Pak Kyai tadi mendapat hukuman dari Rama Pran-Soeh. Yang mana hal seperti ini bisa disaksikan di alam halus, alam kasuksman atau alam sasmita-maya.

Raden Gunung mempunyai kakak yang kebetulan menjadi menantu seorang Kyai yang terkenal. Kyai tadi beranama Dipawedana yang bertempat tinggal di Plered dan menjadi guru para bangsawan di Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Raden Gunung kemudian ikut saja dan sekalian berguru, dan disana Raden Gunung sangat disukai dan disayangi mirip anaknya sendiri sampai akhirnya dikhitan sekalian.

Latar belakang Raden Gunung yang demikian ini akan menggambarkan seberapa besar kesengsaraannya yang akhirnya menjadi perhatian besan tadi. Sedangkan adat-istiadat Jawa sangat menjujung persaudaraan dalam berbesanan. Jangan sampai terungguli jasa-jasa atau keperwiraan dari masing-masing besan. Jadi bisa dikatakan saling berlomba untuk berbuat kebaikan. Dengan perantaraan besan yang bernama Kyai Dipawedana tadi dan juga keponakan yang diambil garwa ampeyan oleh Kangjeng Sultan, maka Raden Gunung bisa mengabdi di Kraton Ngayogyakarta, yang pada waktu itu kekuasaan dipegang oleh Kangjeng Sultan Hamengku Buwana ke-VII.


D. TERBUKANYA RAMA RESI PRAN-SOEH SASTROSOEWIGNYO

Raden Gunung memang orang yang serba bisa, tidak pernah menolak pekerjaan baik kasar maupun halus. Raden Gunung juga mengerti dan bisa tentang sastra, kesenian, tembang-tembang jawa dan suaranyapun tidak mengecewakan. Punya budi dan watak yang suci, jujur, merendah, ramah-tamah dan ksatria yang sering membuat orang-orang menyukainya dan akan selalu menghindar untuk hal-hal yang kurang baik sehingga mempunyai banyak teman dan menyukainya baik pria maupun wanita, baik tua maupun muda sekalipun. Yang menjadikan dia sebagai seorang yang lebih adalah pakaiannya yang tidak pernah lebih dari dua pasang. Apabila mendapatkan sepasang pakaian baru entah itu dari ibunya atau bendoronya maka yang sepasng lagi pasti diberikan atau diminta oleh temannya.

Karena kebisaannya itu, maka di Kraton Raden Gunung dijadikan abdi yang mempunyai tugas untuk membaca buku-buku sastra, meskipun juga masih ada kewajiban lain memomong melayani. Oleh Kangjeng Sultan sendiri Raden Gunung sangat disayangi, entah karena kebisaannya itu atau sebab-sebab yang lain. Yang agak aneh adalah ketika menyembah, hanya boleh menggunakan tangan sebelah saja yang kanan.

Kebisaan Raden Gunung yang lain adalah bisa mengerti dan membaca tulisan Jawa, Latin dan Arab. Tetapi untuk bahasa Arab kurang dipelajari. Buku-buku babad yang sudah dibaca antara lain: Babad Pajajaran, Babad Majapait, Babad Demak, Babad Giyarti, buku Pustaka Raja, Serat Rama, Serat Menak, Serat Ambiya (Iman Sujana) dan masih banyak lagi. Juga dipelajari Wirid dan Suluk. Dengan demikian Raden Gunung paham akan isi buku-buku semua itu karena sudah menjadi makanan sehari-hari dan menjadikannya tambah pengalaman yang banyak. Tetapi dari sekian buku yang dibaca adalah dua buah buku yang menjadi perhatiannya yaitu Babad Demak dan Babad Mataram. Dalam babad Demak adalah ketika Syech Maulana dipanggil untuk meresmikan pendirian Mesjid Demak tidak bisa hadir karena sedang perlu pangandikan karo Gusti Allah. Sedang dalam Babad Mataram adalah cerita yang menerangkan bahwa Kangjeng Sultan Agung Mataram bisa bertemu dengan Kangjeng Ratu Kidul. Dua hal tadi yang menjadikan keinginan Raden Gunung. Apabila Syech maulana bisa, Kanjeng Sultan Agung Mataram bisa, kenapa tidak Raden Gunung sendiri? Masih sesame manusia. Dan kalau memang tidak bisa lebih baik kembali kepada asal-usulnya (bali marang kasidan jati). Mulai saat itu, dengan tekad yang seperti itu akhirnya lebih suka menyendiri, dan menjadikan pertanyaan buat yang lainnya. Apakah mungkin karena baru mendapatkan amarah atau sedang tertimpa kesedihan? Tetapi tetap saja dijawab meski hanya sedikit agar seperlunya saja bisa dimengerti,






Ref: