29 Jun 2011

HARDOPUSORO

PAGUYUBAN KEJAWEN HARDOPUSORO

Paguyuban ilmu mistik kebatinan berlatar belakang budaya dan filsafat Jawa (Kejawen) ini tergolong tua usianya. Paguyuban ini banyak melahirkan kaum waskita dan paling berpengaruh pada masa akhir Kolonialisme di Indonesia. Lebih mudah menelusuri aliran kebatinan dari riwayat hidup para pendirinya. Sebab dari para pendiri paguyuban, kita bisa mengetahui apa dan bagaimana awalnya mereka mendapatkan wahyu. Dan dari turunnya wahyu kepada seseorang tokoh pendiri kebatinan itulah, kita bisa mengetahui latarbelakang sosiologis dan filosofisnya.

HARDOPUSORO didirikan oleh Kusumowitjitro. Siapa Kusumowitjitro? Dia adalah salah seorang Kepala Desa di daerah Purworejo, Jawa Tengah. Purworejo adalah kota arah barat yang berbatasan dengan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kisahnya, pada tahun 1880 Kusumowitjitro tidak tahan dengan perlakuan kolonial yang menindas rakyat. Ia tinggalkan jabatannya dan pergi meninggalkan desanya karena melaksanakan aksi menolak membayar pajak.

Selama berpuluh-puluh tahun, dia mengembara ke berbagai hutan di Jawa Timur. Pengembaraan dihabiskan untuk berpuasa dan bertapa di dalam belantara yang penuh tantangan. Tidak ada guru spiritual khusus yang dipercayai menuntun perjalanan spiritualnya. Pada suatu hari, wahyu turun setelah dia mencapai situasi pasrah total pada Tuhan. Wahyu juga berbunyi agar dia menyebarkan kebaikan sekaligus ajaran-ajaran kebaikan kepada sesama manusia.

Hadirnya wahyu yang merupakan dawuh dari Gusti Kang Akaryo Jagad ini jelas merupakan hal menandai berakhirnya satu era perjalanan spiritual untuk memasuki era baru yang lebih kompleks. Kusumowitjitro merasa itulah saat dia hidup kembali sebagai manusia yang sesungguhnya dititahkan mengemban tugas mulia: sebagai hamba-Nya. Dan dia pun mulai muncul di berbagai kota.

Pada tahun 1907, dia sudah diikuti oleh banyak pengikut di Banyuwangi. Namun sayangnya di tahun itu pula dia diusir oleh Pemerintah Kolonial Belanda karena khawatir melihat tanda-tanda gerakan kebatinan ini berbahaya dan bisa merongrong kewibawaan pemerintah kolonial. Untuk sementara waktu Kusumowitjitro mengasingkan diri ke hutan di wilayah pegunungan antara Malang, Blitar dan Kediri. Kharisma dan aura spiritual Kusumowitjitro tetap berbinar sehingga dia mendapatkan pengikut di era pengasingan diri ini.

Pada tahun 1913, Kusumowitjitro tercatat sudah muncul lagi di berbagai kesempatan. Salah satunya adalah hadir dalam forum paguyuban Masyarakat Teosofi (salah satu aliran kebatinan juga) dan dia berkhutbah di sana tentang praktik spiritual yang dijalaninya.

Hampir semua bagian ajarannya diakui masih misterius dan cukup sulit untuk dipaparkan. Sumber-sumber di paguyuban ini enggan memberikan keterangan. Bisa jadi ini dikarenakan sikap waspada para penganut paguyuban Hardopusoro karena saat itu pengawasan Belanda terhadap berbagai penganut aliran kepercayaan semakin ketat.

Penganut aliran kebatinan yang ada di paguyuban Hardopusoro melakukan kegiatan spiritual secara sembunyi-sembunyi dan menutupi aktivitas spiritual mereka dengan dalih acara slametan. Secara internal, ajarannya termasuk sulit sebagaimana paguyubannya yang tidak mudah dijumpai. Ajaran spiritual (wiridan) Hardopusoro pun dilarang untuk diamalkan bagi yang belum menjadi anggota. Segala pertanyaan menyangkut paguyuban ini juga dilarang untuk dijawab.

Biasanya Kusumowitjitro menyampaikan ajaran-ajaran mistik kebatinan pada tengah malam dengan memakai jubah putih. Pada setiap pertemuan, biasanya dilaksanakan tujuh tingkatan inisiasi atau pembaiatan. Setelah merampungkan pembacaan masing-masing jenjang wiridan tadi, hanya para anggota yang telah dibaiat pada level itu yang diijinkan keluar. Dalam satu sesi, hanya mereka yang telah menerima tujuh kali baiatan yang diijinkan tetap di tempat sampai akhir acara. Kemajuan melalui tingkat baiatan tergantung pada hafalan wirid dan pengamalan beberapa teknik tertentu yang berhubungan dengan tiap level.

Ajaran mistik Hardopusoro memang rumit. Dipenuhi dengan paradoks, dijejali dengan simbol-simbol dan mengatasi segala macam tataran akal. Berbagai macam teknik pada masing-masing baiatan itu diarahkan untuk membangkitkan kesaktian yang bersemayam di dalam tubuh.

Teknik utama pembangkitan kesaktian dilalui dengan cara kungkum atau semedi dengan mengucap mantra, sambil duduk merendam diri sampai leher di sumber air yang dianggap memiliki daya keramat atau pertemuan antara dua aliran sungai yang oleh masyarakat biasa disebut dengan tempuran.

Pelahan-lahan latihan yang keras itu mengendur hingga akhirnya hanya cukup dengan semedi atau meditasi dengan kaki yang dicelupkan di dalam semangkuk air saja. Meskipun kekuatan magis atau kasekten merupakan elemen pencapaian pada setiap jenjang baiatan, sesungguhnya tujuan akhir perjalanan spiritual paguyuban Hardopusoro adalah meleburnya anasir fisik dan jiwa dari diri atau yang dikenal dengan moksa alias suwung

Belum diketahui secara pasti, apakah paguyuban aliran kebatinan Hardopusoro ini masih ada di negeri kita atau tidak. Semoga masih ada sehingga kita tidak kepaten obor eksistensi saudara-saudara kita yang gigih berjuang untuk menemukan diri sejati ini.


SABDå:
Wah punika informasi yg sangat menarik Ki. Saya pribadi merasa akrab di telinga dengan nama Hardopusoro. Sepertinya masih eksis di level bawah permukaan, di Jogja. Mudah-mudahan suatu waktu dapat bercengkerama dengan para kadang generasi penerus Hardopusoro, pimpinan Kusumowitjitro. Matur nuwun KI. Rahayu!

Wongalus:
Ki Sabdo, Eman bila kekayaan tradisi spiritual seperti ini hilang. Sebab ini bukti bahwa nggayuh kasampurnaning urip untuk maneges pada Gusti Kang Maha Wikan bisa dengan laku dan cara yang kreatif. Nuwun ki.

NN:
Paguyuban Hardopusoro tasih eksis dugi sakniki, lan saben malem tanggal 14 Sura masih ada kegiatan Srawung Agung, nuwun! (PENGELOLA PADEPOKAN HARDOPUSORO)

Ikhsan Febri:
Ki, kula suwun kapan-kapan mbok dolan nuweni Padepokan Hardopusoro wonten Kemanukan, Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah, kaliyan ziarah wonten makame ki Kusumawicitra guru kita semua, mbenjang tanggal 30 Desember badhe wonten acara tahunan ngih menika Srawung Agung, matur nuwun!
@a.n Kadang Hardopusoro Purworejo,

Wongalus:  
Yth Mas Ikhsan Febri, wah meniko inkang kulo tenggo mas. Saya sangat bahagia akhirnya bisa bertemu dengan saudara-saudara penganut aliran kebatinan Hardopusoro yang awalnya saya khawatir sudah hilang dari peradaban. Semoga para sanak kadang penerus ajaran Ki Kusumowitjitro tetap melestarikan dan nguri-uri ajaran beliau yang adiluhung. Matur nuwun mas. Semoga saya bisa hadir di acara srawung agung bersama dengan para sedulur spt Ki Sabdalangit, Ki Kumitir, dll.

Ikhsan Febri:  
Sama-sama Ki, saya juga terimakasih banyak atas artikel tentang sejarah dari mbah Somocitro, artikel sampeyan bisa menambah refrensi dalam saya menulis perjalanan spirutual simbah saya di Purworejo, bersama kadang dan pengurus pusat sedang mengumpulkan arsip sejarah dari mbah Somowicitro, dan semoga artikel sejarah itu dapat selesai sebelum Srawung Agung. Saya kagum dengan simbah, saya adalah yang menempati bekas kediaman/rumah dari mbah Kusumowicitro.

Ilang:
Masih ada kok, di desa Kemanukan Kec Bagelen Kab. Purworejo..
Hidup adalah bagaikan air yang mengalir……

Irto Suharto:
Rahayu!
Kang Mas Wong Alus, trimakasih saya dapat menemukan bagian-bagian dari kisah Ki Kusuma Wicitra yang belum saya dapatkan selama ini.

Rahayu!
Sedikit tambahan informasi, pengikut kawruh Hardopusoro banyak tersebar di Jawa, sesepuh untuk Yogyakarta adalah Eyang Niti, beliau dahulu sering mandi malam di Kali Kuning Yogya, letaknya di sebelah timur Bandara Adisucipto, di selatan Jl Solo. Rumah beliau di desa Kembang, ancar-ancarnya pertigaan antara Jl. Ring Road Utara Yogya yang bertemu dengan jl Solo, ada lampu merah, selatan lampu merah, di sebelah barat masjid, sebelah barat gereja, serta sebelah timur makam. Beliau sangat terbuka untuk diajak berdiskusi. Semoga informasi ini dapat berguna. Nuwun.

Nugroho:  
Hardopusoro kaweruh nenggih
ngelmu kasunyatan
sarwo luhur kang dadi sedyane
srono angudi isining wirid
tekade sawiji
linambaran laku…

Tekade Hardopusoro
Mung amawas ing pribadi
Nembah bekti mring hyang agung
Rumongso yen Kawulo
Tekad luhur kang sinedyo slaminipun
Srono ngendaleni hardo
Minongko sedyo pambudi

Lirih lerem aluruh
Dadyo srono marganing pangukud
Kanti rilo pasrah sumarah ing Widdhi
Ngestokken sakeh pitutur
Pepadang saking Hyang Manon

Rahayu!  

Imansyah Rukka:
Aliran kebatinan Hardopusoro, adalah aliran kebatinan tertua yang merupakan ilmu kasunyatan. Tuhan itu nyata ada maka itu disebut kasunyatan dan harus di rasakan. Dengan pemahaman HP inilah kita bisa menemukan itu semua.
Rahayu!


Sejarah Desa Kemanukan

Kemanukan adalah sebuah desa di Kecamatan Bagelen kab. Purworejo, Jawa Tengah. Secara geografis Kemanukan terletak dikoordinat 7° 45′ 0″ LS dan 110° 2′ 0″BT

Sejarah terjadinya desa Kemanukan sampai tahun 2009 ini kurang lebih sudah 146 tahun, yaitu dimulai sekitar tahun 1863. Sebelumnya hanya dimulai dari kelompok masyarakat saja, belum berbentuk desa. Kelompok masyarakat ini dipimpin oleh seorang terkemuka yang bernama Imam Darso, dan oleh kelompok masyarakat dipercaya menjadi pimpinannya dan diberi julukan Kyai Imam Darso. Sedang desa/pedukuhan itu dinamakan Tanjunganom.

Kemudian datanglah seorang baru beserta keluarganya yaitu Wongsonegoro. Wongsonegoro tinggal di Tanjunganom , setelah pindah dari desa asalnya yaitu desa Ngaran. Disana Wongsonegoro berkedudukan sebagai Demang Ngaran. Walaupun pendatang baru, akan tetapi Wongsonegoro dipandang terkemuka oleh masyarakat setempat. Dimuka rumahnya ditanamkan pohon sawo 4 batang, sehingga tempat itu tersohor dan dinamakan Sawo Jajar.

Oleh kerena Wongsonegoro merupakan orang yang terpandang, maka kekuasaan pimpinan dan mengatur masyarakat oeleh Kyai Imam Darso lalu diserahkan kepada Wongsonegoro untuk menjadi pimpinan masyarakat Tanjunganom. Wongsonegoro yang menjadi pemimpin Tanjunganom, akhrirnya menjadi Patih Pertama Kabupaten Purworejo, mendampingi Bupati Cokronegoro I (makamnya di Kayu lawang Purworejo). Oleh karena itu, sejak Wongsonegoro naik menjadi Patih Kabupaten, maka pada tahun 1863 didirikan dan ditunjuklah R. Sastrosuwongso menjadi Lurah Pertama. Dengan ini maka Tanjunganom diganti menjadi Kemanukan.

Tiga tahun kemudian atau lebih tepatnya pada tahun 1866 karena manentang Politik Pemerintahan maka R. Sastrosuwongso lalu dihukum pentheng sehari semalam. Selanjutnya diberhentikan dari jabatan Lurah desa Kemanukan. Dengan adanya kekosongan Lurah Desa maka ditunjuk R.Sutosemito menjadi Lurah desa Kemanukan sampai tahun 1876 (10 tahun).

Berhentinya lurah yang kedua lalu ditunjuk dan diangkat R. Somocitro (Kusumowicitro) menjadi Lurah desa Kemanukan yang ketiga. R.Somocitro hanya memimpin Kemanukan selama 4 tahun saja. Pemilihan Lurah dengan cara ditunjuk oleh Wedana Cangkrep (Sutonegara) ini kurang efektif dan kerap tidak lama lalu berhenti, maka diadakan perubahan pemilihan Lurah yaitu dengan cara pemilihan dengan melibatkan warga desa.

Geografis:
Batas Utara: Desa Ganggeng (Kec. Purworejo)
Batas Timur Laut: Desa Pacekelan (Kec. Purworejo)
Batas Timur: Desa Somongari (Kec. Kaligesing)
Batas Tenggara: Desa Semagung (Kec. Bagelen)
Batas Selatan: Desa Piji (Kec. Bagelen)
Batas Barat: Desa Semawung (Dusun Sucen, Kec. Purworejo)

Desa Kemanukan mempunyai 5 dusun, yaitu:
Krajan Kulon,
Krajan Wetan,
Karangsari,
Karangrejo dan
Jolotundo.


Aliran Kepercayaan Hardopusoro Somongari

Hardopusoro adalah salah satu aliran kebatinan berbasis budaya Jawa yang memberikan ajaran kasunyatan dan kasampurnaan berdasarkan kawruh ngelmu. Aliran kepercayaan kejawen di desa ini berkembang pesat di era tahun 80-an. Hardopusoro adalah suatu ajaran mukso, kata jawa mukso berasal dari bahasa sansekerta: moksha yang berarti lepas atau bebas. Orang jawa mengartikannya sebagai luar soko bandhaning donya kalis sakabehing penandhang, artinya lepas dari belenggu dunia ramai ini terhindar dari segala penderitaan. Suatu pembebasan spiritual, bebas dari belenggu wadag dan semua hawa nafsunya. Manusia menghendaki dirinya bebas, kebebasan menyeluruh dari bermacam-macam batasan yang menekan dengan ketat pada dirinya di dunia ramai ini.

Aliran kepercayaan ini mendapat tempat di hati masyarakat, terbukti penganut (jamaah) dari Hardopusoro tersebar di seluruh negeri Indonesia ini. Semua pemahaman itu menuju ke satu titik, dianalogikan seperti piramid yang ujungnya adalah Tuhan atau bahasa anda Sang Hyang Widhi. Memang ajaran Jawa ada yang sangat universal dan setahu saya yang terkenal dan tertua itu adalah Hardopusoro yang berasal dari Purworejo, dulunya dirintis oleh Raden Mas Sumowicitro, seorang Teosof yang mengajarkan tentang kawruh yang ternyata setelah dikaji adalah sangat universal.

Sebenarnya, ajaran ini tidak berbeda dengan yang diajarkan dalam agam Islam, esensinya saja yang barangkali ada perbedaan, namun eksistensi itu sendiri dimana-mana sama yakni mencari sebuah kebenaran sejati yang hanya satu, dan terdapat zat-nya di dalam diri kita.







26 Jun 2011

Ki Ageng Suryomentaram

(NGÈLMU BEJA-MULUR MUNGKRET)



RIWAYAT SINGKAT
Pada tahun 1892 tepatnya pada tanggal 20 Mei, seorang jabang bayi terlahir sebagai anak ke-55 dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII, sultan yang bertahta di kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Jabang bayi tersebut diberi nama BRM (Bendara Raden Mas) Kudiarmadji. Ibundanya bernama BRA (Bendara Raden Ayu) Retnomandoyo, putri Patih Danurejo VI yang kemudian bernama Pangeran Cakraningrat. Demikianlah, BRM Kudiarmadji mengawali lelakon hidupnya di dalam kraton sebagai salah seorang anak Sri Sultan yang jumlah akhirnya mencapai 79 putera-puteri.

Seperti saudara-saudaranya yang lain, Bendara Raden Mas Kudiarmadji bersama-sama belajar di Sekolah Srimanganti di dalam lingkungan kraton. Tingkat pendidikan sekolah ini kurang lebih sama dengan Sekolah Dasar (SD) sekarang. Selepas dari Srimanganti, dilanjutkan dengan kursus Klein Ambtenaar, belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Arab. Setelah selesai kursus, bekerja di gubernuran selama 2 tahun lebih.

BRM Kudiarmadji mempunyai kegemaran membaca dan belajar, terutama tentang sejarah, filsafat, ilmu jiwa, dan agama. Pendidikan agama Islam dan mengaji didapat dari KH. Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Ketika menginjak usia 18 tahun, Bendara Raden Mas Kudiarmadji diangkat menjadi pangeran dengan gelar Bendara Pangeran Harya Suryomentaram.

Tahun demi tahun berlalu, pena kehidupan mulai menuliskan kisahnya. Sedikit demi sedikit Pangeran Suryomentaram mulai merasakan sesuatu yang kurang dalam hatiya. Setiap waktu ia hanya bertemu dengan yang disembah, yang diperintah, yang dimarahi, yang dimintai. Dia tidak puas karena merasa belum pernah bertemu orang. Yang ditemuinya hanya sembah, perintah, marah, minta, tetapi tidak pernah bertemu orang. Ia merasa masygul dan kecewa sekalipun ia adalah seorang pangeran yang kaya dan berkuasa.


KABUR
Dalam kegelisahannya, pada suatu ketika Pangeran Suryomentaram merasa menemukan jawaban bahwa yang menyebabkan ia tidak pernah bertemu orang, adalah karena hidupnya terkurung dalam lingkungan kraton, tidak mengetahui keadaan di luar. Hidupnya menjadi sangat tertekan, ia merasa tidak betah lagi tinggal dalam lingkungan kraton. Penderitaannya semakin mendalam dengan kejadian-kejadian berturutan yang menderanya, yaitu:

1.      Patih Danurejo VI, kakek yang memanjakannya, diberhentikan dari jabatan patih dan tidak lama kemudian meninggal dunia.
2.      Ibunya dicerai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan dikeluarkan dari kraton, kemudian diserahkan kepada dirinya.
3.      Istri yang dicintainya meninggal dunia dan meninggalkan putra yang baru berusia 40 hari.

Rasa tidak puas dan tidak betah makin menjadi-jadi sampai pada puncaknya, ia mengajukan permohonan kepada ayahanda, Sri Sultan Hamengku Buwono VII, untuk berhenti sebagai pangeran, tetapi permohonan tersebut tidak dikabulkan. Pada kesempatan lain ia mengajukan permohonan untuk naik haji ke Mekah, namun ini pun tidak dikabulkan. Karena sudah tidak tahan lagi, diam-diam ia meninggalkan kraton dan pergi ke Cilacap menjadi pedagang kain batik dan setagen (ikat pinggang). Di sana ia mengganti namanya menjadi Notodongso.

Ketika berita perginya Pangeran Suryomentaram ini didengar oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII, maka Sultan memerintahkan KRT Wiryodirjo (Bupati Kota) dan R.L. Mangkudigdoyo, untuk mencari Pangeran Suryomentaram dan memanggil kembali ke Yogyakarta. Setelah mencari-cari sekian lama, akhirnya ia ditemukan di Kroya (Banyumas) sedang memborong mengerjakan sumur.


PULANG
Pangeran Suryomentaram kembali ke Yogyakarta meskipun sudah terlanjur membeli tanah. Mulai lagi kehidupan yang membosankan, setiap saat ia selalu mencari-cari penyebab kekecewaan batinnya. Ketika ia mengira bahwa selain kedudukan sebagai pangeran, penyebab rasa kecewa dan tidak puas itu adalah harta benda, maka seluruh isi rumah dilelang. Mobil dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada sopirnya, kuda dijual dan hasil penjualannya diberikan kepada gamelnya (perawat kuda), pakaian-pakaiannya dibagi-bagikan kepada para pembantunya.

Upayanya itu ternyata tidak juga menghasilkan jawaban atas kegelisahannya, ia tetap merasa tidak puas, ia merindukan dapat bertemu orang. Hari-hari selanjutnya diisi dengan keluyuran, bertirakat ke tempat-tempat yang dianggap keramat seperti Luar Batang, Lawet, Guwa Langse, Guwa Cermin, Kadilangu dan lain-lain. Namun rasa tidak puas itu tidak hilang juga. Ia makin rajin mengerjakan shalat dan mengaji, tiap ada guru atau kiai yang terkenal pandai, didatangi untuk belajar ilmunya. Tetap saja rasa tidak puas itu menggerogoti batinnya. Kemudian dipelajarinya agama Kristen dan theosofi, ini pun tidak dapat menghilangkan rasa tidak puasnya.


BEBAS
Pada tahun 1921 ketika Pangeran Suryomentaram berusia 29 tahun, Sri Sultan Hamengku Buwono VII mangkat. Dia ikut mengantarkan jenazah ayahandanya ke makam Imogiri dengan mengenakan pakaian yang lain daripada yang lain. Para Pangeran mengenakan pakaian kebesaran kepangeranan, para abdi dalem mengenakan pakaian kebesarannya sesuai dengan pangkatnya, Pangeran Suryomentaram memikul jenazah sampai ke makam Imogiri sambil mengenakan pakaian kebesarannya sendiri yaitu ikat kepala corak Begelen, kain juga corak Begelen, jas tutup berwarna putih yang punggungnya ditambal dengan kain bekas berwarna biru sambil mengempit payung Cina.

Dalam perjalanan pulang ia berhenti di Pos Barongan membeli nasi pecel yang dipincuk dengan daun pisang, dimakannya sambil duduk di lantai disertai minum segelas cao. Para pangeran, pembesar, maupun abdi dalem yang lewat tidak berani mendekat karena takut atau malu, mereka mengira Pangeran Suryomentaram telah menderita sakit jiwa, namun ada pula yang menganggapnya seorang wali.

Setelah Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dinobatkan sebagai raja, Pangeran Suryomentaram sekali lagi mengajukan permohonan berhenti dari kedudukannya sebagai pangeran, dan kali ini dikabulkan. Pemerintah Hindia Belanda memberikan uang pensiun sebesar f 333,50 per bulan, tetapi ditolaknya dengan alasan ia tidak merasa berjasa kepada pemerintah Hindia Belanda dan tidak mau terikat pada pemerintah Hindia Belanda. Kemudian Sri Sultan Hamengku Buwono VIII memberikan uang f 75 per bulan hanya sebagai tanda masih keluarga kraton. Pemberian ini diterimanya dengan senang hati.

Setelah berhenti dari kedudukannya sebagai pangeran ia merasa lebih bebas, tidak terikat lagi. Namun segera ia menyadari bahwa ia masih tetap merasa tidak puas, ia masih belum juga bertemu orang.

Suryomentaram yang bukan pangeran lagi itu kemudian membeli sebidang tanah di desa Bringin, sebuah desa kecil di sebelah utara Salatiga. Di sana ia tinggal dan hidup sebagai petani. Sejak itu ia lebih dikenal dengan nama Ki Gede Suryomentaram atau Ki Gede Bringin. Banyak orang yang menganggap ia seorang dukun, dan banyak pula yang datang berdukun.


PERJUANGAN MORAL
Meskipun Ki Gede Suryomentaram sudah tinggal di Bringin, tetapi ia masih sering ke Yogya. Di Yogya ia masih mempunyai rumah. Waktu itu Perang Dunia I baru selesai. Ki Gede Suryomentaram dan Ki Hadjar Dewantara beserta beberapa orang mengadakan sarasehan setiap malam Selasa Kliwon dan dikenal dengan nama Sarasehan Selasa Kliwon. Yang hadir dalam Sarasehan Selasa Kliwon itu ada 9 orang, yaitu:

1.      Ki Gede Suryomentaram,
2.      Ki Hadjar Dewantara,
3.      Ki Sutopo Wonoboyo,
4.      Ki Pronowidigdo,
5.      Ki Prawirowiworo,
6.      BRM Subono (adik Ki Gede Suryomentaram),
7.      Ki Suryodirjo,
8.      Ki Sutatmo, dan
9.      Ki Suryoputro.

Masalah yang dibicarakan dalam sarasehan itu adalah keadaan sosial-politik di Indonesia. Kala itu sebagai akibat dari Perang Dunia I yang baru saja selesai, negara-negara Eropa, baik yang kalah perang maupun yang menang perang, termasuk Negeri Belanda, mengalami krisis ekonomi dan militer. Saat-saat seperti itu dirasa merupakan saat yang sangat baik bagi Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda.

Pada awalnya muncul gagasan untuk mengadakan gerakan fisik melawan Belanda, tetapi setelah dibahas dengan seksama dalam sarasehan, disimpulkan bahwa hal itu belum mungkin dilaksanakan karena ternyata Belanda masih cukup kuat, sedangkan kita sendiri tidak mempunyai kekuatan. Kalau kita bergerak tentu akan segera dapat ditumpas.

Sekalipun gagasan perlawanan fisik tersebut tidak dapat terwujud, namun semangat perlawanan dan keinginan merdeka tetap menggelora. Dalam sarasehan bersama setiap Selasa Kliwon itu akhirnya disepakati untuk membuat suatu gerakan moral dengan tujuan memberikan landasan dan menanamkan semangat kebangsaan pada para pemuda melalui suatu pendidikan kebangsaan. Pada tahun 1922 didirikanlah pendidikan kebangsaan dengan nama Taman Siswa. Ki Hadjar Dewantara dipilih menjadi pimpinannya, Ki Gede Suryomentaram diberi tugas mendidik orang-orang tua. Dalam Sarasehan Selasa Kliwon inilah, sebutan Ki Gede Suryomentaram dirubah oleh Ki Hadjar Dewantara menjadi Ki Ageng Suryomentaram.


PENCERAHAN
Setelah menduda lebih kurang 10 tahun, pada tahun 1925 Ki Ageng kawin lagi, kemudian beserta keluarga pindah ke Bringin. Rumahnya yang di Yogya digunakan untuk asrama dan sekolah Taman Siswa.

Pada suatu malam di tahun 1927, Ki Ageng membangunkan isterinya, Nyi Ageng Suryomentaram, yang sedang lelap tidur, dan dengan serta merta ia berkata,
"Bu, sudah ketemu yang kucari. Aku tidak bisa mati!"
Sebelum Nyi Ageng sempat bertanya, Ki Ageng melanjutkan,
"Ternyata yang merasa belum pernah bertemu orang, yang merasa kecewa dan tidak puas selama ini, adalah orang juga, wujudnya adalah si Suryomentaram. Diperintah kecewa, dimarahi kecewa, disembah kecewa, dimintai berkah kecewa, dianggap dukun kecewa, dianggap sakit ingatan kecewa, jadi pangeran kecewa, menjadi pedagang kecewa, menjadi petani kecewa, itulah orang yang namanya Suryomentaram, tukang kecewa, tukang tidak puas, tukang tidak kerasan, tukang bingung. Sekarang sudah ketahuan. Aku sudah dapat dan selalu bertemu orang, namanya adalah si Suryomentaram, lalu mau apa lagi? Sekarang tinggal diawasi dan dijajagi."

Sejak itu Ki Ageng kerjanya keluyuran, tetapi bukan untuk bertirakat seperti dulu, melainkan untuk menjajagi rasanya sendiri. Ia mendatangi teman-temannya untuk mengutarakan hasilnya bertemu orang (bertemu diri sendiri). Mereka pun kemudian juga merasa bertemu orang (bertemu diri sendiri masing-masing).

Setiap kali bertemu orang (diri sendiri) timbul rasa senang. Rasa senang tersebut dinamakan rasa bahagia, bahagia yang bebas tidak tergantung pada tempat, waktu, dan keadaan.

Pada tahun 1928 semua hasil mengawasi dan menjajagi rasa diri sendiri itu ditulis dalam bentuk tembang (puisi), kemudian dijadikan buku dengan judul Uran-uran Beja. Kisah-kisah tentang laku Ki Ageng yang menjajagi rasa diri sendiri tersebut ada banyak sekali, di antaranya sebagai berikut:

Suatu hari Ki Ageng akan pergi ke Parang Tritis yang terletak di pantai selatan Yogyakarta. Sesampainya di Kali Opak perjalanannya terhalang banjir besar. Para tukang perahu sudah memperingatkan Ki Ageng agar tidak menyeberang, tetapi karena merasa pandai berenang, Ki Ageng nekad menceburkan diri ke dalam sungai. Akhirnya ia megap-megap hampir tenggelam dan kemudian ditolong oleh para tukang perahu. Setelah pulang ia berkata kepada Ki Prawirowiworo sebagai berikut,
"Aku mendapat pengalaman. Pada waktu aku akan terjun ke dalam sungai, tidak ada rasa takut sama sekali. Sampai gelagapan pun rasa takut itu tetap tidak ada. Bahkan aku dapat melihat si Suryomentaram yang megap-megap hampir tenggelam."
Ki Prawirowiworo menjawab,
"Tidak takut apa-apa itu memang benar, sebab Ki Ageng adalah orang yang putus asa. Orang yang putus asa itu biasanya nekad ingin mati saja."
Ki Ageng menjawab,
"Kau benar. Rupanya si Suryomentaram yang putus asa karena ditinggal mati kakek yang menyayanginya, dan istri yang dicintainya, nekad ingin bunuh diri. Tetapi pada pengalaman ini ada yang baik sekali, pada waktu kejadian tenggelam megap-megap, ada rasa yang tidak ikut megap-megap, tetapi malah dapat melihat si Suryomentaram yang megap-megap gelagapan itu."



PEMBENTUKAN   P E T A
Belanda mencurigai gerak-gerik Ki Ageng. Maka setiap ia mengadakan ceramah ataupun pertemuan-pertemuan selalu ada PID (Politzeke Inlichtingen Dienst) atau reserse yang ikut hadir. Sekitar tahun 1926, ketika aksi bangsa kita menentang bangsa Belanda semakin marak, banyak perintis kemerdekaan yang ditangkap dan dibuang ke Digul dengan tuduhan sebagai agen atau anggota komunis. Suatu ketika Ki Ageng bepergian dari Bringin ke Yogya, sesampainya di desa Gondangwinangun ia ditahan oleh polisi kemudian dibawa ke Yogya dan dimasukkan ke dalam sel tahanan. Setelah ditanggung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, Ki Ageng kemudian dibebaskan.

Pada pertemuan-pertemuan Manggala Tiga Belas persoalan-persoalan yang dibicarakan berkisar pada bagaimana cara menolak peperangan bila Indonesia menjadi gelanggang perang antara Belanda dan Jepang. Ki Ageng mengemukakan bahwa bangsa Indonesia dalam peperangan itu mempunyai tiga pilihan, ialah:

1.      Membela majikan lama yaitu Belanda.
2.      Ganti majikan baru yaitu Jepang.
3.      Menjadi majikan sendiri yaitu merdeka.

Perang itu sendiri bukanlah persoalan kita melainkan persoalan pihak Belanda dan Jepang. Permasalahan kita ialah, kita ini tinggal di negeri sendiri, tetapi negeri kita ini dipakai untuk gelanggang perang. Kalau kita mau pergi, mau pergi ke mana? Kalau kita tinggalkan tentu akan diambil oleh orang lain.

Pertemuan Manggala Tiga Belas yang pertama diadakan di pendapa Taman Siswa, dan yang kedua diadakan di rumah Pangeran Suryodiningrat. Pertemuan tersebut baru sempat diadakan dua kali ketika Jepang sudah keburu mendarat di Jawa.

Pada waktu pendudukan Jepang, Ki Ageng berusaha keras untuk membentuk tentara, karena ia berkeyakinan bahwa tentara adalah tulang punggung negara. Hal ini dikemukakan Ki Ageng dalam pertemuannya dengan Empat Serangkai (Bung Karno, Bung Hatta, Kiai Haji Mas Mansoer, Ki Hadjar Dewantara).

Ki Ageng juga menyusun suatu tulisan tentang dasar-dasar ketentaraan yang diberinya nama Jimat Perang, yaitu pandai perang dan berani mati dalam perang. Jimat Perang ini diceramahkan oleh Ki Ageng ke mana-mana. Pada suatu kesempatan bertemu Bung Karno, Ki Ageng memberikan Jimat Perang ini, yang kemudian dipopulerkan oleh Bung Karno dalam pidato-pidatonya di radio. Maka Jimat Perang ini segera tersebar luas di kalangan masyarakat sehingga membangkitkan semangat berani mati dan berani perang.

Dalam usaha mewujudkan gagasannya, Ki Ageng mengajukan permohonan kepada gubernur Yogya yang pada waktu itu dijabat oleh Kolonel Yamauchi, untuk membentuk tentara sukarela, akan tetapi permohonan tersebut ditolak. Kemudian seorang anggota dinas rahasia Jepang yang bernama Asano menyanggupi akan membawa permohonan itu langsung ke Tokyo.

Untuk membuat surat permohonan tersebut Ki Ageng membentuk panitia 9 yang disebut Manggala Sembilan, masing-masing adalah:

1.      Ki Suwarjono
2.      Ki Sakirdanarli
3.      Ki Atmosutidjo
4.      Ki Pronowidigdo
5.      Ki Prawirowiworo
6.      Ki Darmosugito
7.      Ki Asrar
8.      Ki Atmokusumo
9.      Ki Ageng Suryomentaram

Setelah ditandatangani dengan darah masing-masing oleh kesembilan orang di atas, surat tersebut diserahkan kepada Asano yang membawanya sendiri langsung ke Tokyo. Permohonan ini tidak diketahui oleh pemerintah Jepang di Indonesia. Tidak lama kemudian diterima berita bahwa permohonan tersebut dikabulkan. Maka pemerintah Jepang yang ada di Indonesia terkejut, tetapi karena itu adalah izin langsung dari Tokyo maka Tentara Sukarela tetap harus dibentuk.

Kemudian Ki Ageng mengadakan pendaftaran. Maka berduyun-duyunlah yang mendaftarkan diri. Akhirnya pendaftaran diambil alih oleh pemerintah dan nama Tentara Sukarela diubah menjadi Tentara Pembela Tanah Air, disingkat P E T A. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, tentara P E T A inilah yang merupakan modal kekuatan untuk mempertahankan kemerdekaan dan selanjutnya menjadi inti Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pada waktu perang kemerdekaan, Ki Ageng memimpin pasukan gerilya yang disebut Pasukan Jelata, daerah operasinya di sekitar Wonosegoro. Setelah ibu kota RI Yogyakarta diduduki Belanda, Ki Ageng bersama keluarga meninggalkan kota, mengungsi ke daerah Gunung Kidul. Di tempat pengungsian ini Ki Ageng masih selalu berhubungan dengan tentara gerilya.


PENUTUP
Setelah penyerahan kedaulatan, Ki Ageng mulai lagi mengadakan ceramah-ceramah Kawruh Beja (Kawruh Jiwa) ke mana-mana, ikut aktif mengisi kemerdekaan dengan pembangunan jiwa berupa ceramah-ceramah pembangunan jiwa warga negara. Pada tahun 1957 pernah diundang oleh Bung Karno ke Istana Merdeka untuk dimintai wawasan tentang berbagai macam masalah negara. Ki Ageng tetap mengenakan pakaian yang biasa dipakainya sehari-hari.Kurang lebih 40 tahun Ki Ageng menyelidiki alam kejiwaan dengan menggunakan dirinya sebagai kelinci percobaan.

Pada suatu hari ketika sedang mengadakan ceramah di desa Sajen, di daerah Salatiga, Ki Ageng jatuh sakit dan dibawa pulang ke Yogya, dirawat di rumah sakit. Sewaktu di rumah sakit itu, Ki Ageng masih sempat menemukan kawruh yaitu bahwa puncak belajar kawruh jiwa ialah mengetahui gagasannya sendiri.

Ki Ageng dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu, namun karena sakitnya tidak kunjung berkurang, kemudian ia dibawa pulang ke rumah. Sakitnya makin lama makin parah, dan pada hari Minggu Pon tanggal 18 Maret 1962 jam 16.45, dalam usia 70 tahun, Ki Ageng tutup usia di rumahnya di Jln. Rotowijayan no. 22 Yogyakarta dan dimakamkan di makam keluarga di desa Kanggotan, sebelah selatan kota Yogyakarta.

Ki Ageng Suryomentaram meninggalkan seorang istri, dua orang putra, dan empat orang putri. Seorang putra telah meninggal. Mereka adalah:

1.      RMF Pannie
2.      RM Jegot (meninggal)
3.      RM Grangsang
4.      RA Japrut
5.      RA Dlureg
6.      RA Gresah
7.      RA Semplah

Ki Ageng Suryomentaram juga meninggalkan warisan yang sangat berharga yaitu KAWRUH PANGAWIKAN PRIBADI atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan KAWRUH JIWA bagi kita semua yang bersedia melepaskan segala atribut keangkuhan kita, bagi kita yang bersedia menjadi manusia sederhana dan rendah hati, yang mendambakan masyarakat Indonesia damai sejahtera.




Ref:

21 Jun 2011

SUBUD

(SUSILA BUDHI DHARMA)























Pada tahun 1925, seorang pemuda di Semarang mendapatkan pengalaman rohani yang luar biasa yang mengubah hidupnya dan bahkan banyak orang di seluruh dunia. Namanya Muhammad Subuh. Siang hari ia bekerja sebagai penjaga toko buku dan pada malam hari belajar akuntansi. Sudah menjadi kebiasaan untuk berjalan-jalan di malam hari setelah seharian bekerja dan suntuk belajar untuk menjernihkan pikirannya sebelum tidur.

Seperti pada malam-malam biasanya ketika ia sedang dalam perjalanan pulang dari jalan-jalan malamnya sekitar jam satu pagi, ketika ia dikejutkan oleh sebuah penampakan di langit di atasnya, yaitu sebuah bola dengan cahaya seterang matahari, yang menerangi segala sesuatu di sekelilingnya. Saat ia mendongak dilihatnya bola cahaya itu jatuh ke arahnya. Dia merasakan shock fisik yang luar biasa karena bola cahaya itu masuk ke tubuhnya melalui kepala. Tubuhnya gemetar dan ia yakin sedang mengalami serangan jantung.

Selekasnya ia pulang dan segera masuk ke kamarnya, berbaring di tempat tidur dan berserah diri kepada Tuhan, dan siap untuk mati. Apa yang sebenarnya terjadi adalah benar-benar tak terduga. Pertama ia melihat bagian dalam tubuhnya sendiri dipenuhi dengan cahaya. Itu hanya berlangsung beberapa detik. Lalu tubuhnya mulai bergerak dengan sendirinya. Dia dibuat untuk duduk di tempat tidurnya, lalu berdiri dan berjalan ke ruang kerjanya. Kemudian tubuhnya bergerak-gerak sendiri menirukan orang solat. Itu adalah gerakan-gerakan yang memang sudah akrab dengannya sebagai seorang muslim, tetapi gerakan-gerakan itu tidak disertai dengan kata-kata yang biasanya diucapkan. Kemudian ia berjalan kembali ke tempat tidurnya. Semua ini terjadi memang sudah menjadi kehendak-Nya, seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang menggerakannya, tetapi seluruh pengalaman itu sepenuhnya ia sadari dan dalam keadaan sadar.

Seperti itulah Subuh menggambarkan bagaimana kejadian yang pertama itu, dan kemudian menjadi rutinitas. Setiap malam gerakan-gerakan tak disengaja itu kembali, dan Subuh mengamati apa yang terjadi seolah-olah ada orang kedua dalam tubuhnya sendiri. Sepanjang semua ini terjadi secara independen dari kehendak sendiri dan pikirannya sendiri, maka Subuh merasa bahwa itu harus terjadi karena kehendak Allah, maka ia hanya berserah diri pada apa yang terjadi, tetapi tetap penuh waspada.

Manifestasi ini terus berubah, gerakan-gerakan solat itu mengarah ke berbagai jenis tari dan seni bela diri, yang memang Subuh memiliki sedikit keahlian untuk itu. Dan dengan penuh keterkejutan ia ternyata sedang diajari gerakan-gerakan dan teknik baru yang belum pernah pelajari sebelumnya. Perlahan-lahan gerakan juga menjadi lebih mendalam dan lebih lengkap, dengan melibatkan perasaan dan pemahaman. Kemudian ia menyadari bahwa ia sedang diajari seluk-beluk dan pengalaman semua tingkatan kehidupan di alam semesta: materi, sayuran, hewan, manusia dan tingkatan yang lebih tinggi dari itu.

Karena proses ini sedang berubah dan berlanjut, maka Subuh semakin menjadi dikenal oleh teman-temannya sebagai orang yang luar biasa dalam kebijaksanaan dan wawasan. Semua itu berpuncak pada suatu malam beberapa tahun kemudian dengan sebuah pengalaman dimana ia diberi pemahaman bahwa apa yang telah ia terima sebagai kekuasaan Allah, adalah bukan hanya untuk dia sendiri tetapi dapat ditularkan kepada orang lain. Dia tidak perlu mencari orang, tetapi jika mereka tulus bertanya, mereka bisa menerima kontak yang sama dengan kekuatan yang Subuh terima.

Hal ini telah terbukti. Ketika seorang kenalannya meminta untuk mengirimkan kontak ini kepadanya, maka hal itu bisa dilakukannya. Jika mereka benar-benar dalam keadaan berserah diri, maka mereka akan dapat mulai merasakan hal yang sama yang telah Subuh terima beberapa tahun yang lalu. Ini adalah benar-benar sebuah pengalaman nyata dari penerimaan sebuah kekuatan yang sama, tetapi itu teradaptasi sendiri secara alamiah dan kebutuhan individual setiap orang. Proses penyampaian dengan kontak dari satu orang ke orang lain ini kemudian disebut pembukaan. Setelah hal itu terjadi pada orang baru, mereka pada gilirannya mampu menyebarkannya kepada orang lain.

Selama beberapa tahun setelah itu, hal ini menyebar perlahan-lahan di antara lingkungan teman-teman Subuh di Semarang dan Yogyakarta, yang dekat dengan rumahnya setelah Perang Dunia II. Mereka menyebutnya hanya sebagai pelatihan spiritual (latihan kejiwaan di Indonesia) dan dipraktekkan bersama-sama secara teratur. Praktek dilakukan dengan saling bertemu-muka dengan teman-teman Subuh di sebuah ruangan (laki-laki dan perempuan terpisah) dimana mereka akan berserah diri untuk hal ini dari kekuatan batin selama tiga puluh menit sampai satu jam. Orang-orang hanya akan mengikuti apa saja gerakan-gerakan spontan yang muncul dalam diri mereka. Dan ketika praktek seperti itu kemudian menyebar ke luar Indonesia, maka kemudian hanya disebut latihan saja, karena mereka merasa bahwa kata dalam bahasa Inggris training malah akan membingungkannya, karena itu berarti belajar sesuatu dengan penggunaan intelektualitas dan kehendak.

Selain bergabung dalam latihan dengan teman-temannya, Subuh juga berbagi dengan mereka tentang wawasan hakikat dan tujuannya. Dia mengatakan kepada mereka bahwa pengalaman itu bukanlah sesuatu yang baru, tetapi hanya hasil dari pemulihan hubungan antara Kekuatan Ilahi yang mengisi seluruh alam semesta dan jiwa manusia, hubungan yang hakiki dari semua makhluk Tuhan, tetapi manusia telah menghilangankan melalui generasi hidup yang menekankan pada perkembangan pikiran bukan kesadaran jiwa.

Subuh mengatakan kepada mereka bahwa mungkin alasan gerakan-gerakan awal sebagai gerakan-gerakan yang telah akrab seperti gerakan solat adalah untuk meyakinkannya bahwa apa yang ia alami memang datang dari kekuasaan Allah. Belakangan kemudian dia memahami bahwa ada tahapan yang berbeda dalam menyembah Allah. Ada ibadah-ibadah yang telah akrab yang diabadikan dalam berbagai agama kita, yang tentunya diprakarsai oleh hati dan pikiran, dan berdasarkan iman kepada apa yang telah diwariskan dalam tradisi-tradisi yang berasal dari ajaran nabi atau utusan Allah. Ada juga ibadah yang timbul secara spontan dari dalam jiwa manusia yang dibimbing oleh kekuasaan Allah, seperti dalam latihan ini. Menurut Subuh, jenis ibadah yang kedua mengarah ke perbaikan dan peningkatan karakter dan fisik tubuh dalam solat. Ia menjelaskan bahwa apa yang diturunkan sama sekali bukan sebuah agama baru, karena tidak membawa ajaran baru, tapi lebih merupakan berhubungan kembali dengan kekuasaan Tuhan yang memberikan bukti realitas apa yang telah agama-agama besar ajarkan.

Dengan cara yang sama Subuh akan selalu menekankan perbedaan besar antara latihan dengan beberapa cara-cara spiritual atau mistik yang banyak ditemukan di Jawa yang dikenal sebagai aliran kebatinan, yang diwariskan dari guru ke murid dan tergantung pada kehendak manusia, menggunakan teknik meditasi dan bertapa. Meskipun Subuh dari waktu ke waktu akan menyampaikan kepada mereka yang melakukan latihan sebagian dari apa yang telah ia pelajari dalam perjalanan pengalaman rohaninya sendiri, ia selalu memperingatkan mereka untuk tidak memperlakukan ini sebagai ajaran tetapi lebih seperti peta jalan untuk membantu mereka memahami pengalaman individu mereka sendiri dalam latihan tersebut. Dia kemudian berkata: “Semua ini, fungsinya (saya) adalah seperti seorang pelayan sekolah, yang menempatkan buku-buku, membuka pintu, membersihkan kelas, dan mengatur meja dan kursi untuk anda duduki. Ketika anda semua ada di sana, duduk dan menghadap depan, menghadap papan tulis, guru akan datang dan memberikan pelajaran, dan gurunya adalah Tuhan, bukan saya.”

Beberapa tahun setelah perang, setelah Indonesia Merdeka, sudah ada beberapa ratus orang yang melakukan latihan di Jawa Tengah, dan mereka dipanggil untuk ikut kongres dengan tujuan menggabungkan diri mereka sebagai sebuah asosiasi rohani. Mereka memilih sendiri nama mereka sebagai Subud (tidak diambil dari nama Subuh tetapi singkatan dari tiga kata Sanskerta: Susila, Budhi dan Dharma. Arti dari kata-kata ini adalah sebagai berikut:

Susila: perilaku manusiawi yang sesuai dengan kehendak Allah.
Budhi: kekuatan batin dalam diri manusia.
Dharma: menyerah dalam mengikuti kehendak Allah.

Pada tahun 1951 seorang Inggris keturunan Suriah yang bernama Husein Rofe tiba di Yogyakarta, yang kedatangannya telah diprediksi oleh Subuh beberapa tahun sebelumnya. Dia sangat berperan dalam penyebaran latihan di luar pulau Jawa. Dia menguasai banyak bahasa, dia mulai mencari nafkah dengan mengajar bahasa di kota-kota. Didorong oleh minat dalam gerakan mistik Islam, ia akhirnya diperkenalkan ke Subuh, dan segera setelah menerima kontak Subud. Malam itu, dalam perjalanan pulang, ia menyadari bahwa apa yang telah ia temukan bukan sekedar ajaran mistik dari timur, tetapi sesuatu yang sangat penting untuk seluruh umat manusia, dan misinya adalah akan membantu untuk menyebar-luaskan ke seluruh dunia. Memang, setelah mengikuti beberapa kali latihan di lingkungan Subuh di Yogyakarta, Rofe mulai sebuah perjalanan, dan mulai mendirikan Subud di Sumatera dan kemudian di Hong Kong dan di Jepang. Pada tahun 1956 ia pergi ke Siprus dan London, yang menyebabkan undangan pertama untuk Muhammad Subuh bepergian ke luar negeri pada tahun 1957. Maka dimulailah penyebaran Subud ke seluruh dunia.


RM. Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo dilahirkan dari seorang ibu yang pada masa kecilnya tinggal di Kecamatan Juangi, Telawah, Surakarta dan merupakan keturunan dari Kadilangu, Demak. Bapak RM. Muhammad Subuh dilahirkan di Kedungjati, Semarang pada hari Sabtu Wage tanggal 3 Maulud 1831 (22 Juni 1901) jam lima pagi. Pada waktu usia mudanya, Bapak RM. Muhammad Subuh memperoleh pendidikan agama Islam dari Kyai Abdurachman dan taat menjalankan ibadah agama Islam sebagaimana lazimnya seorang muslim. Bapak wafat di Jakarta pada tahun 1987, dalam umur 86 tahun.

Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan utama latihan kejiwaan Subud adalah memberdayakan kita, dengan menyerah kepada Kekuasaan Tuhan serta mengikuti petunjuk-Nya, agar lambat laun dapat mencapai keadaan kodrati kita yang sebenarnya sebagai manusia sempurna, atau insan kamil.



PERKUMPULAN PERSAUDARAAN KEJIWAAN SUSILA BUDHI DHARMA
( SUBUD )
 
Keterangan singkat tentang Subud ini diangkat dari suatu sinopsis yang dibuat atas permintaan Direktur Pembina Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan disusun sesuai dengan arahan seperti tercantum sebagai Garis Besar Materi Pemaparan Budaya Spiritual yang merupakan lampiran dari surat tertanggal 3 Mei 1988 nomor 159/F.6/E.2/1988 kepada Pengurus PPK Subud Indonesia.
 

Sejarah Kelahiran

Pendiri dari Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Subud ialah Bapak R.M. Muhammad Subuh Sumohadiwidjojo yang pada tanggal 23 Juni 1987 telah wafat di Jakarta dalam usia 86 tahun. Latihan Kejiwaan Subud diterima oleh Bapak Muhammad Subuh dalam suatu pengalaman gaib pada suatu malam di tahun 1925, dan delapan tahun kemudian, pada tahun 1933 Bapak Muhammad Subuh menamakan apa yang diterimanya ini sebagai Latihan Kejiwaan.

Subud sebagai organisasi dibentuk dan resmi berdiri tanggal 1 Pebruari 1947 di Yogyakarta. Subud mulai menyebar ke luar negeri sejak tahun 1954, dibawa oleh seorang lnggris yang beragama Islam, Husein Rofe. Bapak RM. Muhammad Subuh memulai lawatan ke luar negerinya di tahun 1957, dan semasa hidupnya beliau telah berpuluh-puluh kali berkunjung ke berbagai negara di dunia.  Subud pada waktu ini telah tersebar ke lebih dari 70 negara di dunia.

Subud bukan semacam agama dan juga bukan bersifat pelajaran, tetapi adalah latihan kejiwaan yang dibangkitkan oleh kekuasaan Tuhan ke arah kenyataan kejiwaan, terlepas daripada pengaruh nafsu kehendak dan akal pikiran. Arti kata-kata Susila Budhi Dharma:

Ø      Susila: artinya budi pekerti manusia yang baik, sejalan dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa,
Ø      Budhi: artinya daya kekuatan diri pribadi yang ada pada diri manusia.
Ø      Dharma: artinya penyerahan, ketawakalan dan keikhlasan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Pengertian

a. Konsepsi tentang Ketuhanan Yang Maha Esa
Pemahaman dan pengertian Subud tentang Ketuhanan Yang Maha Esa adalah bahwa Tuhan dengan kekuasaanNya mencakup seluruh ciptaan-Nya baik yang terpandang maupun yang tidak tampak.

b. Konsepsi tentang Manusia
Manusia adalah makhluk Tuhan yang keberadaannya dikehendaki oleh-Nya dan diliputi oleh kekuasaan-Nya. Kekuasaan Tuhan sudah berada dalam dirinya yang mengisi serta meliputi diri manusia. Manusia hanya tinggal menyerah saja kepada kekuasaan Tuhan yang ada pada dirinya ini dengan sabar, tawakal dan ikhlas.

c.  Konsepsi tentang Alam Semesta
Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta dan kekuasaan Tuhan meliputi seluruh ciptaan-Nya. Hal ini pun sesuai dengan apa yang telah diterima dan disampaikan oleh para utusan Tuhan.

d.  Konsepsi tentang Kesempurnaan
Tiada yang sempurna kecuali Tuhan Yang Maha Kuasa. Semua ciptaan Tuhan baik yang kelihatan maupun yang tidak, berada dalam berbagai tingkat kesempurnaan diri yang hanya diketahui oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui saja. Manusia tidak perlu menanyakan tentang tingkat kesempurnaan dirinya karena yang telah diterimanya adalah yang sesuai dengan keadaan dirinya pada suatu waktu tertentu dalam hidupnya. Yang perlu bagi manusia adalah menyerah sepenuhnya kepada kekuasaan-Nya agar ia menjadi orang yang sempurna yang sesuai dengan kodrat yang ditentukan Tuhan bagi dirinya.


Penghayatan

a. Perilaku Spiritual
Tata cara ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dilakukan oleh para anggota Subud melalui tata cara agamanya masing-masing. Latihan Kejiwaan Subud bukan merupakan tata cara penghayatan. Latihan Kejiwaan Subud merupakan suatu penerimaan yang tidak ada tata caranya kecuali penyerahan diri sepenuhnya kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, yang kemudian atas kemurahan Tuhan akan membangkitkan gerak rasa diri, bebas dari pengaruh nafsu hati dan akal pikiran. Gerak tersebut merupakan gerak yang dibangkitkan oleh kekuasaan Tuhan dan hanya tinggal diikuti saja.

b.  Pedoman Penghayatan (Lisan dan Tertulis)
Karena Latihan Kejiwaan Subud merupakan penerimaan dari masing-masing orang yang melakukannya, penerimaan setiap orang tidak ada yang sama dan dengan demikian pedoman tentang Latihan Kejiwaan Subud baik secara lisan maupun tertulis hanyalah merupakan keterangan-keterangan dalam bentuk ceramah-ceramah Bapak Muhammad Subuh yang sebagian sudah dicetak berupa tulisan dan sebagian lagi belum.

c. Kelengkapan Fisik/Material yang Digunakan dalam Melaksanakan Latihan Kejiwaan Subud.
Untuk Latihan Kejiwaan secara bersama diperlukan tempat Latihan yang dapat berupa kamar, ruang atau gedung Latihan. Ruang tempat Latihan ini dapat dilengkapi dengan alas tikar atau karpet. Ruang tempat Latihan pria terpisah dengan wanita atau secara bergantian. Latihan Kejiwaan secara sendiri dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja tanpa memerlukan fasilitas fisik maupun materi.

Pengamalan

a.  Dasar Pelaksanaan Latihan Kejiwaan Subud
Penyerahan diri kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dengan sabar, tawakal dan ikhlas dan mengikuti gerak diri yang terasa secara spontan begitu rasa diri terbebas dari pengaruh nafsu dan akal pikiran. Anggota Subud yang telah mampu menghentikan Latihannya setiap waktu dalam acara Latihan bersama, dapat melakukan Latihan sendiri di mana saja yang tidak mengganggu atau terganggu oleh orang lain.

b. Pengamalan dalam Tata Kehidupan, dan Upacara-upacara (ritus) dalam Lingkungan Kehidupan.
Subud tidak mempunyai ritual khusus dalam tata kehidupan dan dalam lingkaran kehidupan bermasyarakat. Upacara-upacara para anggota Subud dalam tata kehidupan mengikuti ritual agamanya dan adat-istiadat yang dianutnya masing-masing.

c.  Kelembagaan Organisasi Subud
Keberadaan PPK Subud Indonesia secara hukum telah dikukuhkan oleh Menteri Kehakiman dalam Tambahan Berita Negara R.I. tanggal 4-12-1964 No. 97 dan diterbitkan sebagai Anggaran Dasar Serikat-serikat No. 36 tahun 1964. Anggaran Dasar ini telah mengalami perubahan untuk disesuaikan dengan UU Nomor 8 tahun 1985 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Perubahan Anggaran Dasar PPK Subud Indonesia secara hukum telah pula dikukuhkan oleh Menteri Kehakiman dalam tambahan Berita Negara R.I. tanggal 18 Nopember 1988 No. 93 dan diterbitkan sebagai Anggaran Dasar Serikat-serikat No. 60 tahun 1988. Para anggota Subud diberbagai negara membentuk organisasi nasionalnya masing-masing. Organisasi nasional negara-negara ini membentuk Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Subud Sedunia yang disebut World Subud Association.

d.  Partisipasi Subud dalam Pembangunan Nasional
Partisipasi Subud dalam Pembangunan Nasional adalah melalui pembinaan pribadi melalui Latihan Kejiwaan Subud untuk menghadapi tantangan pembangunan negara dan bangsa Indonesia yang berlandaskan Pancasila.  Untuk ini, PPK Subud Indonesia mempunyai program kerja yang mencakup bidang-bidang Usaha, Kesejahteraan, Kegiatan Sosial, Kebudayaan, Remaja serta Komunikasi dan Publikasi.

e. Ceramah-ceramah
Dari sejak beliau menerima Latihan Kejiwaan Subud sampai wafatnya, Bapak Muhammad Subuh telah menyampaikan kepada para anggota Subud nasihat-nasihat yang berupa ceramah-ceramah beliau yang didasarkan kepada penerimaan beliau tentang hidup dan kehidupan ini. Secara konsisten dan mendasar Bapak Muhammad Subuh telah menyampaikan bahwa manusia harus bersikap menyerah diri kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa dengan sabar, tawakal dan ikhlas jika ia ingin mendapatkan tuntunan Tuhan dalam hidup ini. Melakukan Latihan Kejiwaan dengan.teratur dan tekun merupakan kunci kefahaman dan kesadaran seseorang agar dia dapat menemukan arti kehidupan ini bagi dirinya, baik di dunia maupun di akhirat.

f. Penerimaan Anggota Baru.
Bagi para peminat yang ingin menjadi anggota Subud harus memenuhi persyaratan:  telah berumur 17 tahun, berkondisi mental normal atau tidak sedang menderita sakit ingatan,
bagi seorang isteri yang suaminya belum menjadi anggota harus mendapatkan izin tertulis dari suaminya, para wanita yang belum menikah dan masih menjadi tanggungan orang tuanya (walinya) harus memperoieh izin tertulis dari orangtua atau walinya itu.

g. Pembukaan
Untuk dapat menerima Latihan Kejiwaan Subud, peminat terlebih dahulu mengalami pembukaan yang diselenggarakan oleh seorang atau beberapa orang pembantu pelatih.  Seorang calon belum dapat dibuka sebelum menjalani masa pencalonan selama 3 bulan dengan pengecualian bagi:
  1. Mereka yang umurnya telah mencapai dan melewati 63 tahun,
  2. Mereka yang sedang menderita sakit badaniah yang menghendaki kepastian dan perhatian khusus dan segera,
  3. Seorang isteri yang suaminya telah menjadi anggota dan para putra-putri dari keluarga Subud,
  4. Yang bertempat tinggal jauh dari kelompok Latihan Kejiwaan Subud yang ada.

h. Lambang Subud
Untuk tujuan identifikasi semata, satu-satunya lambang yang dapat digunakan dalam Perkumpulan Persaudaraan Kejiwaan Subud adalah sebagai yang tertera dalam gambar di atas. Penggunaan sifat lambang-lambang selain untuk tujuan tersebut di atas, baik untuk usaha meningkatkan dan sebagai sarana penghayatan tidak diperlukan sama sekali.

Susunan alam dan daya-daya hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Esa meliputi dari dimensi yang paling rendah (terbatas) sampai yang paling luas terdapat susunan sebagai yang ditunjukkan dalam lambang Subud dimaksud yakni berupa lingkaran-lingkaran sebagai berikut:
1.      Alam dan Daya Hidup/Roh Rewani (Daya Hidup Kebendaan).
2.      Alam dan Daya Hidup/Roh Nabati (Daya Hidup Tumbuh-tumbuhan).
3.      Alam dan Daya Hidup/Roh Hewani (Daya Hidup Binatang).
4.      Alam dan Daya Hidup/Roh Jasmani (Daya Hidup Manusia).
5.      Alam dan Daya Hidup/Roh Rohani/Daya Hidup lnsan/Alam Rohaniah.
6.      Alam dan Daya Hidup/Roh Rahmani/Daya Hidup para utusan/Alam Rahmaniah.
7.      Alam dan Daya Hidup/Roh Robani/Daya Hidup para ciptaan Tuhan yang mendapatkan keluhuran dari Tuhan Yang Maha Esa/Alam Robaniah.

Selain alam dan segala daya hidup ciptaan Tuhan Yang Maha Esa terdapat Daya Hidup Besar yang merupakan bagian dari manifestasi dari kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa yaitu yang ditunjukkan sebagai garis-garis tujuh buah yang menembus dan menghubungkan segala alam dan daya hidup ciptaan tersebut di atas. Sifat yang ada di dalamnya adalah Roh Ilofi dan yang ada di luar adalah Roh Al Kudus (Rohu'lkudus).  Oleh kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, Roh Ilofi atau Roh Suci ini digerakkan untuk membangkitkan dan mensucikan, sedangkan Roh Al Kudus meliputi dan membina perjalanan hidup makhluk ciptaan yang memperoleh Rakhmat terbimbing ke arah kehendak Yang Menciptakan.





Ref:

5 Jun 2011

Ngudi Utomo

Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa: NGUDI UTOMO
Inventarisasi Dirjen Binyat DEPDIKBUD: No 1.061/F.3/N.1.1/1980 TGL. 31-12-1980
Terdaftar Dirjen Sospol DEPDAGRI: No.97/D.I/VIII/2001 TGL. 09-08-2001


Riwayat Diperoleh Ajaran

Ajaran Organisasi Ngudi Utomo untuk pertama kali diterima dan diperkenalkan oleh seorang petani yang bernama Martowiyono. Beliau berasal dari Desa Bayan, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Pada waktu itu kurang lebih selama 3 1/2 tahun Bapak Martowiyono menderita sakit yang demikian lamanya. Berbagai obat-obatan telah diminumnya, semua orang-orang pintar telah didatangkan, harta kekayaannya habis terjual untuk biaya pengobatan, akan tetapi kesembuhan yang dinanti­nantikan tidak kunjung tiba.

Melihat kenyataan yang demikian itu seluruh keluarga hampir kehilangan akal memikirkan sakit Bapak Martowiyono yang tidak menunjukkan tanda-tanda kesembuhan. Akan tetapi hal yang paling mengherankan dan menakjubkan semua orang adalah bahwa Bapak Martowiyono selama menderita, sakit tidak pernah mengeluh atau menyesali keadaan kesehatannya, yang demikian buruk. Malah di dalam penderitaannya itu Bapak Martowiyono semakin banyak mengolah penghayatan batinnya. Hal ini semakin memperkuat rasa pasrahnya kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam perenungannya itu. Dalam ketabahannya yang luar biasa itulah timbul berbagai pertanyaan dalam batin Bapak Martowiyono yaitu:

ü      Apakah arti dan makna hidup di dunia ini?
ü      Apakah maksud manusia dihidupkan di dunia ini?
ü      Apakah yang dikehendaki Tuhan bagi dirinya itu?

Dari berbagai pertanyaan itu, ternyata sulit untuk mendapatkan jawabannya. Narnun dernikian Bapak Martowiyono tidak putus asa. Melalui pergulatan batin yang panjang, semua pertanyaan tersebut dapat dijawab sendiri oleh Bapak Martowiyono. Sehingga pada suatu ketika terjadilah suatu peristiwa yang gaib, yang mengherankan bagi semua orang dan Bapak Martowiyono sendiri. Yaitu suatu berkah berupa wahyu dari Tuhan Yang Maha. Esa.

Pada waktu itu tiba-tiba Bapak Martowiyono bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan- jalan sendiri dengan kekuatan penuh seperti sedia kala. Getaran wahyu itulah yang mengarahkan Bapak Martowiyono untuk membimbing, serta mendidik pribadi dan keluarga. Melalui perenungan atas datangnya wahyu tersebut, Bapak.Martowiyono tergerak untuk menjadi panutan dalam menjalankan hidup kearah tingkah laku yang utama.

Di samping itu Bapak Martowiyono juga ingin menolong kepada sesama manusia yang membutuhkan. Dengan kata lain datangnya wahyu tersebut mengisyaratkan bahwa Bapak Martowiyono dapat menjadi perantara berkah bagi orang lain yang membutuhkan. Demikianlah akhimya banyak orang lain yang datang dan mendapat pertolongan dari Bapak Martowiyono.


MENGHAYATI KENYATAAN HIDUP DI DUNIA INI

A. Uripe Manungso Ing Ngalam Donyo Iki Sing Digoleki Opo To?
1.            Setiap orang pasti mengupayakan hidup tentrem-ayem-seneng pangkat/jabatan keno dituku ananging tentrem ayem seneng mboten-wonten ingkang nyade lan mboten saged dipun tumbas. Saben tiang mesti ngupados amrih sagedipun tentrem, ayem lan seneng.
2.            Saben tiang mesti gadhah panjongko/gegayuhan. Sebabe menopo, awit ingkang mboten gadah panjongko raose nglokro, nopo malih yen ngantos gagal anggenipun badhe njongko gegayuhane, saged dados wiwitane kasangsaran pribadi lan ugi tumrap anak putu.
3.            Sedoyo tiang mesti mbudidoyo & istiar amrih sagedipun nyekapi kabetahanipun lan ngertos kabetahanipun. Kangge nuntun para muda, cekap nedahaken lan ngertosken dateng kabetahanipun. Awit sedoyo tiang mesti kagungan kebetahan, miderek kawontenan lan kemampuanipun piyambak-piyambak. Bilih ngertos kebetahanipun sedoyo tiang/poro muda mboten kedah pun oprak-oprak, diprentah. Duko, srengen namung damel kagol, cuanipun manah, kirang sekeco.


B. Bapak Martowiyono pengetrap Ngudi Utomo.
1.            Ingkang sampun nderek Ngudi Utomo pengetrapanipun kedah tepat, rinten ndalu sak sugeng penjenengan, sinten ingkang sampun ngaken putra Ngudi Utomo mboten pisah kaliyan Bapak Martowiyono. Namung raose, senajan namung setunggal detik; badhe menopo kemawon kedah ngetrap/kemutan Bapak Martowiyono.
2.            Kenging menopo kedah kemutan/mboten pisah kaliyan Bapak Martowiyono, awit Bapak Martowiyono dados jimate Ngudi Utomo, Sumberipun Ngudi Utomo. Kados dene Selogumelaring jagad, tur ugi kawastanan ingkang kagungan Ngudi Utomo.
3.            Caranipun Ngetrap Ngudi Utomo. Arep opo wae dipun takoaken/maneges kaliyan badanipun piyambak, lajeng saged waspodo, pinter mangke. Caranipun ngetrap /maneges sampun sering dipun aturaken.


C. Jongkonipun Bapak Martowiyono
1.            Bapak maringi slamet, waspodo, pinter, digdoyo/sekti, pati sampurno, saged pun oyak/ kejar terus, pun buktekaken kasunyatanipun.
2.            Ngudi Utomo damel kaentengan, dono tetulung dateng sedoyo tiang, ndamel sekeco, mboten angel, kebak kamirahan.
3.            Dipun raosaken kaindakanipun, malah ing tembe supados sedoyo Putro Ngudi Utomo, ampuh/sekti kabeh saged paring berkah sedoyo.



PENGEMBANGAN BUDI PEKERTI LUHUR CARA NGUDI UTOMO

A. Pengembangan budi luhur lewat kenyataan keduniawian secara seimbang
1.            Kita upayakan hasil duniawi secara maksimal: keberhasilan karya, prestasi, pangkat, jabatan, dan kedudukan dalam masyarakat. Hal semacam itu tidak cukup untuk dijadikan norma bebuden luhur. Dibutuhkan pertimbangan yang mendalam agar bisa punya budi luhur.
2.            Bebathenipun Ngudi Utomo: slamet, pinter, waspodo, sekti, pati sempurno. Perlu dipahami dan didalami secara tepat agar dalam pertimbangan-pertimbangan kita dapat menjadi acuan pengembangan budi luhur kita.
3.            Kata bijak mengatakan: “kemanusiaan kita belum berkembang dalam diri kita sebagai manusia, kita baru kelihatan seperti manusia.” Maka dibutuhkan seorang manusia sesama yang dapat memanusiakan kita ini. Manusia yang bekerja dengan pola pikirannya orientasinya pada ego keinginan, karep. Sedangkan manusia yang bekerja dengan rasa orientasinya pada perasaan dan akan dijalaninya menurut apa adanya.


B. Kehidupan orang Ngugi Utomo adalah kehidupan Sak Madyo apa adanya.
1.            Pemahaman kehidupan sak madyo artinya kita hidup sak dremi nglampahi. Dengan demikian dibutuhkan sikap kepasrahan, keuletan dan kesabaran. Sikap demikian itu dibutuhkan landasan kepercayaan penuh kepada Sang Maha Pencipta (bagaimana dengan penghayatan Ngudi Utomo kita ini).
2.            Ngudi Utomo sifatnya adalah nggugah kita semua untuk melakukan dan mengejar budi pekerti luhur. Terlebih isi dan pola hidup pribadi kita hanya yang baik saja dan yang muncul dari hati nurani yang lugu, tulus polos. Ngudi Utomo juga menjadi pemandu penyadaran diri kita kepada karya usaha dan tugas kewajiban hidup sehari-hari demi keluarga.
3.            Target ideal bagi kita Putro Ngudi Utomo: diharapkan agar kita gumregah/tergugah kehidupan mental spiritual. Menjadi manusia yang seimbang, seutuhnya, bukan hanya baru kelihatan seperti manusia tetapi akan menjadi manusia berbudi bowoleksono. Seklimah menjadi kenyataan: sak pikir, sak pocapan, sak temindak.

C. Menjadi manusia Ngudi Utomo yang bagaimana masih terus kita kejar/raih
1.            Merasa dan mengalami secara kesadaran sungguh, tentang relasi pribadi dengan Bapak Martowiyono. Hal ini tentu tidak mungkin sama kita satu sama lainnya. Ora pisah kaliyan Bapak sak sugeng Penjenengan.
2.            Kita usahakan untuk selalu membiasakan diri kita menyelaraskan rasa pangroso, rasa rumongso hingga pada menyatunya rasa kita dengan rasa Bapak Martowiyono, dengan terus menerus untuk dikaji lebih jauh.
3.            Suatu kebulatan tekad dan niat teguh dalam memberdayakan diri kita untuk karya pelayanan, sebagai perwujudan daya sekti kita dan sifat Bebuden luhur kita.


PENGHAYATAN MENDASAR TENTANG AJARAN NGUDI UTOMO

A. Rasa dalam arti sifat dasar atau karakter seseorang, hati nurani (suara hati yang paling dalam)

1.            Gerak hidupnya manusia selalu mengikuti rasa. Namun bagi kita Putra Ngudi Utomo, tidak asal mengikuti rasa sembarang rasa. Aja nuruti rasane karep, nanging nuruti karepe rasa.
2.            Pemahaman tentang kodrat manusia terdiri dari: roh langgeng (sukmo), jiwa (hidup), rogo. Jiwa rogo manusia dituntun oleh roh langgeng, sehingga terbentuklah kepribadian manusia seutuhnya. Dalam pribadi yang utuh itulah sifat karakter seseorang tampak dalam rasa yang sejati.
3.            Jumbuhing rasa-nya sendiri dengan rasa Bapak Martowiyono bisa dikatakan bahwa kita sampai kepada rasa jati, sampai kepada elinging budi, sedangkan budi selalu eling terhadap kasunyatan. Elingo tanpa pedot, rasa selalu ngrasake kasunyatan, rasane tanpo pedot. Jadi eling dan rasa sama artinya, kang eling iku rasane, kang ngrasake iku elinge.

B. Pengetrapan dan penghayatan Ngudi Utomo

1.            Pengetrapan Ngudi Utomo selalu merasakan jumbuh rasa dengan rasanya Bapak, sak sugeng penjenengan dan sedetik pun jangan. Ingat Bapak, membawa Bapak dalam rasa dalam perilaku baik, jangan sampai punya rasa jengkel, rasa kagol, rasa sedih.
2.            Mateg Bapak, kemutan Bapak melihat pucuk hidung sendiri mantuk greg, mantuk-mantuk tondo saguh, awake dewe keno ditakoni. Jawabannya muncul rasa ya, atau tidak (gedek - antuk).
3.            Diminta dan dicari apa yang harus kita perbuat, berkah atau lampah, nyebdo bagaimana nantinya kita bisa peka sendiiri.


C. Cita-cita perjuangan / jangkane bapak martowiyono

1.            Mbangun mental, perilaku dan bebuden luhur dengan meninggalkan empat pantangan Ngudi Utomo yang sudah kita terima sejak awal.
2.            Semua orang harus merasakan keentengan, sukur ikut Ngudi Utomo bisa merasakan batine: slamet, waspodo, pinter, digdoyo, sampurno patine.
3.            Bagaimana kita sendiri ini, apakah sudah ikut dalam kerangka orang-orang yang diharapkan Bapak untuk bisa menyatukan cita-citanya Bapak Martowiyono ini.




NGUDI UTOMO MENGAJARKAN ATURAN SEBAGAI TUNTUNAN HIDUP.

A. Tuntunan Ngudi Utomo diberikan untuk sadar diri sebagai manusia yang berbudi luhur.
1.            Tuntunan Utama yang mengarahkan kepada tindak nyata bebuden luhur sangat berguna baik bagi diri sendiri maupun sesamanya. Senang melayani kepentingan sesama, lingkungan keluarga dan tetangga, umum.
2.            Berperilaku baik tidaklah cukup dengan demikian, orang bisa bertopeng kebajikan untuk berbuat baik, sedangkan hatinya penuh kejahatan. Hati yang baik akan membuahkan perilaku yang baik pula.
3.            Masalah kesehatan, pribadi, ketidaktenangan, ketidaksadaran penyebab utamanya adalah pikiran yang liar bagaikan monyet yang tak mau tinggal diam duduk manis. Pikiran / kemauan / kekarepan seseorang bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain juga. (Masyarakat yang bisa sadar diri sendiri masing-masing adalah masyarakat Madani) sama rata-sama rasa tidak miskin tidak kaya.


B. Tuntunan Ngudi Utomo diwujudkan dalam Aturan dan Hukum Alam ini.

1.            Semua tata kehidupan ini ada aturannya dan tidak bakalan luput dari aturannya sendiri. Bumi tempat kita hidup, berjalan teratur sesuai dengan aturannya. Juga bayi dari lahir sampai tua dan kembali lagi ke alam langgengnya lagi.
2.            Kita semua manusia juga mengupayakan untuk dituntun, diatur oleh aturan Hukum Alam, menurut saatnya yang tepat sehingga kita tidak akan keliru/salah dan tidak pernah akan jadi gelisah.
3.            Melanggar aturan berarti kita menyimpang dari tatanan yang sudah ada, bisa menimbulkan kekacauan, celaka, berantakan jadinya. Ojo nerak aturan, awit bakale ya dienggo, dirasakake dewe to.


C. Kita ikut Ngudi Utomo apakah yang akan kita udi, kita capai, kita kejar.

1.            Kita masing-masing, ingin menjadi Pribadi Yang Utama, yang seimbang secara lahir dan batin, jiwa dan raga, urip sak madyo, dalam proses yang dinamis kearah lebih sempurna lagi. Dengan dasar pola hidup:
a.       Pemusatan keadaan sekarang, penyesalan akan masa lalu, khawatir akan masa depan tidak ada gunanya. Perhatian kita penting sebagai daya hidup untuk manghadapi apa yang ada sekarang ini.
b.      Mensyukuri apa yang telah kita terima, tidak tenggelam kekecewaan atas apa yang belum kita peroleh. Orang bisa bersyukur berarti bisa menikmati apa adanya saat ini.
c.       Berpikir positip/tidak menilai: interaksi antar sesama manusia timbul penilaian atas penampilan perilakunya, kita hargakan baik.
2.            Kepribadian yang tangguh membutuhkan keyakinan teguh-percaya penuh kepada Bapak Martowiyono untuk bisa nyampai kepada Panghayatan kita terhadap Tuhan yang Maha Esa. Bertekun dalam kesabaran, secara dinamis berusaha dan berusaha sambil berkarya tanpa pamrih apa-apa. Kita jalani/lakoni saja sambil berserah diri kepada Kehendak Dia diatas segalanya.
3.            Mari kita kaji lebih jauh di dalam kekalutan ini untuk kita renungkan sebagai pekerjaan rumah kita. Kita mesti berjuang, memerangi diri dan bercermin diri.