28 Mei 2011

Kapribaden



Romo M. Semono Sastrohadidjojo (Romo Herucokro Semono, 1900~1981).


Mbah Markoen Soetrisno pernah mengikuti dalam paguyuban kebatinan yang dipimpin sendiri oleh Mbah Semono atau sering disebut Romo Semono berikut kisahnya:

Sebelum tahun 1900, seorang  garwo padmi (isteri resmi), dibuang dalam arti diberikan kepada seseorang yang dinilai berjasa. Itu karena desakan seorang selir yang sangat dicintai. Hal demikian, tidak jarang terjadi pada jaman itu. Isteri priyagung itu bernama Dewi Nawangwulan. Kepergiannya, disertai seorang dayang (emban), bernama Rantamsari. Dewi Nawangwulan, dibuang (dikendangake), dan diberikan kepada Ki Kasandikromo, yang sering juga disebut Ki Kasan Kesambi, seorang tokoh spiritual pada jamannya, yang berdiam di desa Kalinongko, Gunung Damar, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Saat dibuang, Dewi Nawangwulan dalam keadaan mengandung. Lahir bayi yang diberi nama Semono, namun ibunya, Dewi Nawangwulan wafat. Tidak lama kemudian disusul Rantamsari, dayangnya juga meninggal dunia.
Keduanya dimakamkan di puncak Gunung Damar Purworejo.

Ki Kasandikromo, tidak pernah mau menganggap, apalagi memperlakukan Dewi Nawangwulan sebagai isterinya. Tetap dianggap dan dia perlakukan sebagai ratu-nya . Demikian pula isterinya, Nyi Kasandikromo. Semono dipelihara dan dibesarkan Ki Kasandikromo. Di sekolahkan Sekolah Ongko Loro (SD yang 5 tahun tamat untuk pribumi). Semono yang lahir tahun 1900, harinya Jumat Pahing. Tidak ada catatan resmi tanggal dan bulannya. Hal biasa pada jaman itu. Semono, semasa sekolah, setiap hari Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, membolos. Bukan karena malas atau nakal, tetapi karena malu. Pada saat matahari tepat di atas, saat semua orang tidak ada bayangannya. Semono bayangannya 12. Karena selalu jadi tontonan teman-temannya, jadi malu. Maka lebih baik membolos.

Tamat SD itu, langsung diangkat jadi Guru Bantu. Suatu hari, pemuda Semono yang saat itu berumur 14 tahun (sudah dianggap dan diperlakukan sebagai orang dewasa pada jaman itu), disuruh Nyi Kasan, mengambilkan minyak, di dalam salah satu bilik rumah mereka. Ternyata, di dalam bilik itu, tertidur lelap seorang gadis kemenakan Nyi Kasan. Dalam kelelapan tidurnya, kain yang dipakai tersingkap, jadi tubuhnya kelihatan terbuka. Pemuda Semono, melihat hal itu, mengkorok (berdiri bulu-bulu di tubuhnya). Semono lalu merenung. Mempertanyakan apa sebenarnya yang menggerakkan bulu-bulu tubuhnya itu? Renungan demi renungan, tidak menemukan jawaban. Akhirnya Semono memutuskan, minta ijin Ki Kasan untuk pergi bertapa. Semono yang berusia 14 tahun itu, bertapa di tepi laut Selatan, di Cilacap. Petilasannya masih ada sampai saat buku ini ditulis, berupa dua rumpun bambu, di dalam kompleks Pertamina. Pertamina, sekalipun sudah berusaha dengan berbagai cara, tidak bisa membongkar kedua rumpun bambu itu.

Semono bertapa selama 3 tahun (1914~1917). Hasilnya mendapat Cangkok Wijoyo Kusumo. Berbentuk seperti bunga kering, berwarna coklat kehitaman. Kalau dimasukkan air akan mengembang sebesar tempatnya. Semono kecewa, karena bukan itu yang dicari. Beliau mendapat wangsit (ilham), untuk melanjutkan laku sampai tahun kembar 5, dan di timur nantinya akan dia temukan apa yang dia cari. Baju yang dikenakan Semono selama 3 tahun bertapa, hancur. Dengan hanya bercawat dedaunan, Semono pulang dengan cara jalan malam. Jadi siang hari sembunyi dan malam harinya jalan, karena takut akan malu kalau bertemu orang. Sampai di rumah bukannya dirayakan, tetapi malah sudah disediakan lubang (luweng), lalu pemuda Semono oleh Ki Kasan, ditanam (dipendem), selama 40 hari 40 malam, hanya diberi batang gelagah untuk bernafas. Dan setiap usai menanak nasi, Nyi Kasan mengepulkan asap nasi itu ke dalam lubang gelagah.

Selanjutnya, Semono sambil menjadi Marsose (sekarang marinir), berkelana tetap menjalani laku. Kalau siang dinas, malamnya berendam di laut, menjala. Tidak pernah dapat ikan. Itu dilakukannya sampai tahun 1955.

Tanggal 13 malem 14 November 1955, kebetulan jatuh malem Senen pahing, pukul 18.05, banyak orang di Perak Surabaya, terkejut menyaksikan rumah Letnan KKO (sekarang Letnan Satu Marinir) terbakar. Tetapi setelah didekati ternyata bukan api, melainkan cahaya. Bahkan ada kereta keemasan (kreto kencono) di langit, yang turun masuk ke rumah Letnan Semono). Di Jalan Perak Barat No. 93 Surabaya. Peristiwa itulah yang dikenal sebagai mijilnya Romo Herucokro Semono. Pernyataan beliau saat Mijil, menyatakan bahwa, Ingsun Mijil, arso nyungsang bawono balik, arso nggelar jagat anyar. Ingsun (bukan aku) mijil hendak memutar-balikkan jagad (maksudnya jagat kecil, pribadi manusia, micro cosmos), dan hendak menggelarkan dunia baru (micro cosmos baru). Artinya, kalau selama ini, kita selalu memperbudak Hidup, selanjutnya terbalik, kita sebagai manusia akan menjadi abdinya Sang Hidup.

Mulai saat itu, Romo Herucokro Semono memberikan siapapun yang menghendaki (tidak ada paksaan, tidak menakut-nakuti dengan cara dan jalan apapun), yang ingin hidup bahagia (tentrem), agar bisa mencapai Kasampurnan Jati (moksha) pada saatnya. Romo Herucokro Semono, selanjutnya memberikan Laku Kasampurnan ini, sesudah dinas. Berlangsung sampai tahun 1960. Beliau menjalani masa pensiun sebagai Kapten Marinir, lalu pulang ke Purworejo dan berdiam di Kalinongko dan Sejiwan, Loano, Purworejo (dua rumah kediaman). Setiap hari beliau menerima kedatangan rata-rata 500 orang lebih.
Semua orang pada waktu makan, diberi makan dan bagi yang menginap dengan bebas mencari tempat untuk tidur di rumah beliau.

Tentunya berbagai keperluan orang yang datang. Mulai dari meminta pengobatan penyakit yang dokter sudah tidak sanggup mengobati, dengan seketika sembuh, memohon restu untuk sesuatu, dan lain-lain. Tetapi tidak sedikit yang datang untuk memohon bisa mengikuti Laku Kasampurnan (disebut mohon diperkenankan menjadi Putro).

Berdatangan orang dari berbagai penjuru dunia, melalui berbagai sebab (jalaran), yang akhirnya menjadi Putro. Selama 25 tahun lebih (13 malem 14 November 1955 s/d 3 Maret 1981) Romo Semono melayani pagi, siang, sore, malam, dini hari, siapapun yang datang. Semua yang datang diperlakukan 100% sama. Beliau tidak pernah memandang orang dari perbedaan apapun. Derajat-pangkat, kekayaan kedudukan sosial, suku, bangsa, semua diperlakukan 100% sama.

Kalau beliau sedang memberikan petuah (wulang-wuruk), setiap orang mendengar menurut bahasanya sendiri-sendiri. Yang orang Jerman mendengar beliau berbicara bahasa Jerman, yang orang Inggris mendengar beliau berbahasa Inggris, sedang penulis mendengar beliau berbahasa Jawa. Romo Semono, setiap harinya, makan dua kali. Tetapi tiap kali makan hanya satu sendok. Tidurnya hampir tidak pernah. Hampir tidak pernah mandi, tetapi selain tidak berbau, badan beliau juga tidak ada daki (kotoran) di kulit beliau. Tubuh tetap sehat, gagah, tinggi besar.

Hal-hal luar biasa atau mujijat yang beliau tunjukkan, kalau ditulis semua akan menjadi satu buku tersendiri. Beberapa contoh saja misalnya, sekitar tahun 1960, beliau naik sepeda motor militer di atas laut Jawa, menyeberang ke Madura. Kalau mengemudikan mobil, tangan dan kaki beliau dilepas, dan mobil dikomando dengan ucapan. Beberapa kali orang menyaksikan beliau menghidupkan orang, yang telah dinyatakan mati oleh dokter, dan siap dikubur. Beliau sering berada di beberapa tempat pada saat yang sama, dan di tiap tempat beliau makan minum seperti biasa. Setiap kali, sekalipun dihadapan beliau menghadap ratusan orang, beliau bercerita. Dan setelah selesai bercerita, ternyata semua pertanyaan dan persoalan yang ada di benak yang hadir, sudah terjawab semua.

Romo Semono wafat tanggal 3 Maret 1981, dan dimakamkan di Kalinongko, Loano, Purworejo. Romo Semono tidak dikaruniai anak. Tetapi meninggalkan ratusan ribu, mungkin jutaan Putro, yang tersebar dimana-mana. Dan peninggalan beliau yang paling berharga adalah sarana-sarana gaib, bagi mereka yang ingin hidup bahagia (tentrem), agar bisa menjalani dan mencapai Kasampurnan Jati pada saatnya masing-masing.
Tinggalan beliau yang terakhir inilah yang sampai sekarang dipelihara (dipepetri) dan dilestarikan oleh putro-putronya. Dilestarikan dalam arti tetap dihayati dan diamalkan dan diberikan kepada siapa saja yang menghendaki, tanpa memandang perbedaan apapun yang ada pada manusianya. Jadi sifatnya universal.




Mas David saja yah yang sharing tentang KAPRIBADEN, aku sendiri terus terang gak ngerti apa itu kapribaden.

+++

Kalo aku, itu dulu tiap Kamis malam ngumpul-ngumpul di rumah Romo S yang konon masih kerabat Kraton Yogya, seperguruan dengan HB IX, something like that. Tapi,
karena ini di Jakarta, temen-temen yang dateng itu (termasuk aku sendiri) manggil dia itu om.  

Yang manggil dia Romo cuma orang-orang yang masih kental Jawa-nya. Kalo lahir dan gede di Jakarta udah gak bisa lagi ngucapin romo, jadi walopun kita itu nyebut dia itu Romo (kalo dibelakang dia), tapi kalo ketemu langsung kita itu manggil dia om.

Well, kita itu ngumpul tiap Kamis malam buat ngobrol ngalor-ngidul aja. Si Om (baca romo) bakal cerita macem-macem. Ceritanya seru-seru deh, katanya Bung Karno itu punya penasehat spiritual dari seluruh Indonesia, dan dia itu udah ikut waktu masih pake
celana pendek (maksudnya yang paling muda), karena dia itu mewakili gurunya yang ada di Yogya dan gak bisa dateng ke Jakarta waktu dipanggil oleh Bung Karno. Something like that.

Terus, yang paling bikin aku ketawa, dia itu cerita tentang kuwalatnya Ali Murtopo. Nah, Ali Murtopo (pernah jadi Menteri Penerangan) kan benernya orang kebatinan juga, terus dikasih tugas buat memugar situs Kraton Trowulan (ex kraton Mojopahit). Eh, ternyata
duit restorasi Trowulan itu dikorupsi juga sama si Ali Murtopo. Akhirnya kuwalat. Dead. Mati. Dan si Om (Romo) itu kalo cerita ya apa adanya aja gitu, blak-blakan, gak takut-takut, emang dia kenal pribadi orang-orang itu.

Terus tentang Sarwo Edhi Wibowo (ini jendral) yang katanya mutung sama Pak Harto gara-gara jabatan yang dijanjikan (sebagai RI 2) ternyata tidak dipenuhi oleh Babe. Malah akhirnya ybs di-dubes-kan. Mutung. Padahal Sarwo Edhi itu pernah dapet pusaka. Dapetnya juga waktu sama-sama si Om (Romo) itu. Ceritanya waktu itu habis meneng (meditasi) di suatu situs, dan terus Sarwo Edhi merasa ada ular. Ada ular yang menjalar
di tangannya. Terus si Om (Romo) itu cerita kalo dia itu langsung tereakin agar ular itu ditangkap saja, karena itu pusaka. Akhirnya, setelah ditangkap dan didiamkan, akhirnya menjadi gelang lengan (seperti yang biasa dipakai oleh prajurit jaman dahulu).

Macem-macem ceritanya. Ada juga cerita-cerita tentang mbah-mbah di Jawa masa lalu (sekarang juga masih ada, mungkin). Ada mbah yang tapa di dalam tanah dan gak pernah keluar, jadi makanan harus dimasukkan ke dalam dengan timba. Ada yang pake pakaian wanita terus (kebaya), pedahal laki-laki. Ada yang jalannya seperti robot (Mbah Gedhek).
Ada yang bugil terus, dan kalo ngomong sambil tiduran (kayak patung Buddha tiduran itu, kata si Romo).

Lalu, ada cerita tentang si Romo digigit anjing. Ada juga cerita tentang ular milik Jendral Sudirman di rumahnya di Yogya. Katanya ularnya Jendral Sudirman, itu panjangnya sepuluh meter, dan jinak sekali, en so on, en so forth. So, benernya kalo ketemu cuma
ngobrol ngalor-ngidul begitu-begitu saja. Malah kalau ditanya langsung, si Om (Romo) itu cuma ketawa aja. Cuma jawab selintas, udah gitu matanya kayak nerawang dan diam aja. Kalo ditanya tentang teknik meditasi, si Romo itu cuma ketawa aja, ya ya
ya, cuma itu aja ngomongnya. Jadinya, kalo ketemu kebanyakan dia itu aja yang ngomong sendiri, dan yang lain ngedengerin. Sekali-sekali tanya, lalu si Romo ngomong
sendiri lagi.

Yang aku ingat, berkali-kali dia itu menegaskan bahwa yang ada di kepala (dia sentuh dahinya) itu harus sama dengan yang ada di hati (dia sentuh dadanya). Dan untuk menyamakan pikiran dan perasaan itu kita harus tenang. Dan caranya untuk tenang itu ya dengan diam saja. Merasakan saja. Itu penjelasan dia dengan Bahasa Indonesia. Dengan Bahasa Jawa ada juga istilah-istilahnya tapi aku gak ingat.

Jadi, yang pertama itu harus tenang. Harus diam dan merasakan. Nanti kita akan tahu rasanya air itu seperti apa, air yang benar-nemar air. Udara itu seperti apa, udara yang benar-benar udara. Tanah yang benar-benar tanah, dan api yang benar-benar api. Kita bisa merasakan itu semua dari dalam diri kita sendiri.

Nah, yang terakhir itu ajaran Sadulur Papat kan? Caranya ya dengan mencari tenang. Diam saja. Meneng saja. Dan si Om (Romo) itu malah bukan meditasi kalau aku bilang. Dia itu gak pernah duduk bersila. Duduknya selalu di atas kursi. Waktu meditasi dia juga tetap duduk di atas kursi. Meditasinya memakai segepok hio yang menjadi semacam pertanda waktu juga. Hio itu kalau dibakar akan habis setelah sekitar 45 menit.
Jadi, kami meditasi sampai hio itu habis sendiri.

Si Om (Romo) itu bilang kalau dia itu membantu murid-muridnya. Semua yang datang itu dibantu olehnya, tapi dia itu gak ngomong bagaimana cara bantunya. Menurut aku, dia membantu dengan cara masuk ke dalam kesadaran yang ada di murid-muridnya waktu meditasi itu.

Tapi, yang mengalami OOBE/mimpi didatengin sama si Om (Romo) dan dipencet-pencet Cakra Ajna-nya mungkin cuma aku sendiri (yang lain gak pernah cerita dapet
pengalaman seperti itu). Lalu aku pernah mimpi juga dikasih satu kunci oleh dia. Tapi, kedua pengalaman pribadi itu bahkan sampai sekarang tidak pernah aku sampaikan ke dia. Aku tahu teman-teman menyampaikan pengalaman aku ke si Om (Romo).

So, si Romo tahu, tapi gak pernah menanyakan langsung ke aku juga. Jadi kalau aku ketemu dia ya cuma ketawa-ketawa aja. Terakhir aku kesana tiga tahun lalu mungkin.
Rasanya sudah gak perlu lagi karena …….  

+++

Si Om (Romo) itu orangnya terbuka, tapi murid-muridnya itu eksklusiv, gak mau nama gurunya itu muncul di publik. So, this is the most that I could write about him. Romo juga bilang bahwa Indonesia baru akan maju setelah angkatan 45 itu semuanya gone. Angkatan 45 itu rakus bin rakus, dan Indonesia Baru akan maju setelah Angkatan 45 itu semuanya lewat.

Dan itu diucapkannya dengan blak-blakan, padahal dia itu dekat banget dengan Babe Harto. Si Romo itu pernah membantu Babe Harto sehingga ketika ibunya si Romo
meninggal di Jakarta, dia tinggal telpon Babe Harto yang langsung kasih pinjam satu pesawat Hercules untuk mengangkut jenazah ibunya itu balik ke Yogya.

Walaupun dekat, tapi dia itu bilang terus terang, bahwa Indonesia Baru akan maju setelah semua orang yang termasuk Angkatan 45 itu lewat (meninggal).

+++

Itu saja sharing dari aku about Romo S yang aku panggil om. Sekarang giliran yang lain, plisssss...

Leo