30 Apr 2011

PRAN-SOEH (NGESTHI KASAMPURNAN) (U - Z)

U. SETELAH RAMA RESI PRAN-SOEH SASTROSOEWIGNYO WAFAT

Para Sesepuh mengumumkan semenjak hari meninggalnya beliau hingga sebelas hari ke depan agar murid-murid beliau semua mengadakan acara keprihatinan (lek-lekan) di Astana Waja dan rumah Ibu, dan acara lek-lekan itu harus tetap dilakukan hingga peringatan meninggalnya sampai yang terakhir. Meskipun secara lahiriyah beliaunya sudah tidak ada, tetapi di alam halus sasmita maya, beliaunya tetap bisa dijumpai, namun tidak bisa sembarang waktu maupun sembarang orang, adalah tergantung urgensi, kesucian dan bagaimana orang itu menjalankan tapa-bratanya. Ibarat sebuah timbangan maka berat barang yang ditimbang dengan berat timbangan harus sama persis, dan ibarat membeli barang dengan harga seratus rupiah, bila hanya mempunyai uang Rp 99,- dan hanya kurang serupiah, maka tidak akan bisa membeli barang itu. Dari semula ketika mulai menyebarkan ilmu-ilmu beliau sudah dikatakan bahwa Ra­ma Pran-Soeh mempunyai suksma yang kekal, yang tak akan rusak dan tak akan kena hukuman.

Dari mulai peringatan meninggal beliau yang pertama hingga yang terakhir, sembahyangan hanya berwujud sembah puji terhadap Rama Pran-Soeh yang sudah bisa berada di alam dunia ini dan memberikan banyak petunjuk hingga hampir 90 tahun lamanya, dan ini bisa menjadikan untuk orang-orang yang percaya akan menyembah kepada Rama Pran­Soeh. Bersamaan dengan peringatan meninggalnya beliau yang sebelas hari itu, maka pada hari yang terakhir itu sekaligus dipasangnya batu nisan tumpang sebelas. Ini adalah sebanyak-banyaknya tumpang, yang ada biasanya hanya sampai tunda sembilan seperti kepunyaan Ibu almarhum.

Sepeninggal beliau, sudah tidak lagi punya harta benda yang cukup banyak, tanah maupun harta-harta lainnya yang akhirnya harus dibagi-bagi (harta warisan). Banyak kejadian memang pada saat itu maupun sekarang ini, ketika seorang yang kaya-raya meninggal akhirnya harta menjadi rebutan bagi anak turunnya, dan sampai-sampai hingga ke pengadilan, akhirnya pemerintah yang memutuskan pembagian harta warisan itu. Dalam hal ini beliaunya bisa memberikan contoh, maka sebelum meninggal beliau sudah membagi-bagikan semua harta kekayaan kepada anak-anaknya, sehingga tidak ada lagi yang merasa belum mendapatkan bagian. Dan perlu diingat bahwa pembagian harta sebelum meninggal itu jangan sampai dibagi habis semua, harus ada yang ditinggalkan sedikit, karena mengingat orang meninggal itu tidak serta merta langsung membawa pasangannnya pasti masih ada yang ditinggalkan. Sedangkan peninggalan yang berwujud pusaka dilestarikan seperti permintaan beliaunya sendiri ketika masih hidup.

Ibu menerima perintah dari Rama Pran-Soeh agar menyegerakan selesainya Bale Suci Pran-Soeh, karena Astana Waja sudah digunakan beliau dan ibu. Dan kemudian dengan segera para murid-murid mengumpulkan dana seperti apa yang diperintahkan kepada Ibu. Dan tidak lama kemudian maka tiang penyangga (soko guru) Bale Suci Pran-Soeh yang berjumlah empat itu dapat didirikan dengan upacara sembahyangan dan tirakatan, dan soko guru itu menggunakan kayu sawit. Hingga menjelang peringantan meninggalnya beliau yang terakhir (330 hari), Bale Suci Agung Gedhong Pran-Soeh sudah siap untuk digunakan untuk upacara meskipun musim penghujan dan banyak hujan.


V. MAKSUD DAN TUJUAN RAMA RESI PRAN-SOEH SASTROSOEWIGNYO LAHIR KE DUNIA

Ketika kita mengingat sejarah Rama Resi-Pran-Soeh Sastrosoewignyo, dari sejak kecil hingga menjelang meninggal beliau, lebih-lebih saat-saat beliau menerima Wahyu serta perintah-perintah Rama Pran-Soeh (pengganti kata Gusti Allah), dan juga keprihatinan dan kesengsaraan beliau, yang semuanya tadi adalah karena tekad untuk melaksanakan perintah Rama Pran-Soeh, untuk mengangkat kesengsaraan umat manusia yang percaya terhadap beliau, maka maksud dan tujuan beliau lahir ke dunia adalah:
1.   Rama Resi Pran-Soeh Sastrosoewignyo lahir ke dunia berasal dari keluarga yang biasa saja, orang tuanya bukanlah yang punya pangkat besar saat hidupnya masih kekurangan, akan berbeda kalau beliaunya lahir waktu sebelumnya yang tentunya tidak demikian.
2.   Dalam melaksanakan perintah Rama Pran-Soeh berlangsung hingga 31 tahun, dari tahun 1890 hingga tahun 1921, dan masih diperpanjang hingga tahun 1957 karena beliau sangat memprihatinkan umat manuasia yang percaya akan beliaunya.
3.   Beliaunya selalu menggantungkan hidup-mati beliau kepada Rama Pran-Soeh (dengan hati yang ikhlas) atau selalu dalam ancaman bahaya mati.

Ikhlasnya hidup dan mati adalah ketika ada hal-hal yang penting, seperti ketika sedang menerima Wahyu Sejatining Putri dan Wahyu Sejatining Kakung juga ketika bela pati terhadap anak-cucu ataupun murid-murid yang sedang menerima cobaan. Bisa diingat kembali ketika kejadian di desa Tambakbaya sebelah Barat Magelang, di Tingal Borobudur, kemudian di rumahnya sendiri pada tahun 1948 dan 1952. Pada kejadian semua itu beliaunya bisa selamat karena memang suksma suci beliau yang menempati sebagai sumber segala kehidupan dan juga sebagai juru selamat maupun yang lain-lainnya. Kesengsaraan dan mati yang berasal dari perbuatan Ijajil tidak akan bisa mengenainya, kecuali itu memang sudah menjadi kehendak Rama Pran-Soeh.

Keadaan dunia ini hanya ada dua, yaitu: adanya perbuatan baik dan perbuatan jelek, kaya dan miskin, lupa dan ingat dan begitu seterusnya. Dan pada umumnya manusia hanya mencari keselamatan dan ketentraman lahir dan batin saja, maka dari itu keadaan dunia ini menjadi bermacam-macam, adanya bencana alam, perang, penyakit yang bermacam-macam dan sebagainya.

Keyakinan/keimanan manusia di dunia saat ini sudah banyak yang percaya kepada Tuhan Allah (Gusti Allah), namun demikian masih juga ada yang menyembah kepada berhala dan juga masih ada yang tidak percaya adanya Tuhan. Yang menyembah kepada Tuhan Allah adalah menggunakan caranya sendiri-sendiri yang dirasa cocok dengan dirinya, menurut keyakinan sendiri-sendiri, dan yang melupakan untuk menyembah kepada Tuhan hanya karena mementingkan dalam hal mencari harta bendanya itu. Dan yang sama sekali tidak mempercayai adanya Tuhan itu adalah berdasarkan kenyataan bahwa di dunia ini hanya ada materi yang dengan mudah dapat diterima oleh panca indra. Dan juga adanya materi-materi yang bisa dicerna oleh manusia karena adanya sarana untuk mengetahuinya. Tidak percaya adanya Tuhan mesti saja tidak pernah memikirkan bagaimana nanti orang itu setelah meninggal, apakah akan menempati suatu alam lagi, ataukah akan mendapatkan keuntungan atau kerugian (surga dan neraka), dan bagaimana nanti sang suksma, sama sekali tidak pernah diperhatikan, asalkan di dunia ini sudah dapat berkecukupan dan keinginannya sudah didapat (hanya menuruti hawa nafsu).

Rama Resi Pran-Soeh Sastrosoewignyo sering mengatakan:
“Rama Pran-Soeh iku ora butuh apa-apa marang para umat kajaba mung saka tresnane. Aku timbul ing donya iku mung nagihi katresnan, padha elinga tresnaa marang Rama Pran-Soeh. Mula aku didadekake titah kang asor dhewe, kembas-kembis supaya akeh kang padha wani caket karo Aku, kang ateges bakal akeh kang tresna marang Rama Pran-Soeh. Dak rewangi Aku bengak-bengok saprana-saprene, kongsi kaya pecah-pecaha gondhangku, saka tresnaku marang anak-putu, aja nganti kesasar suksmane, luwih-luwih kaukum apa maneh kalebu ing pasiksan. Aku prihatin terus kuwi, sing daktapakake sapa to kajaba anak-putuku. Dak rewangi bedug-bedug, kuyu-kuyu ana tengah sawah, sing kanggo aku sapira, sing dak rembug rak anak-putuku, samangsa pada teka ing ngomahku aja kongsi kapiran. Mulane aku sok nangis kae, karana saka tresnaku (welasku), awit aku dikodratake meruhi suksmane sapa bae kang kesasar (nampa paukuman/pasiksan). Aku mung tresna tok marang anak-putuku, ora duwe pamrih liya-liya, yen aku kongsi melik, ngreka, ngapusi anak-putuku, trima suksmaku dadiya nyawa tekek".

Menurut perintah dan pembicaraan-pembicaraan tadi dan juga hal-hal yang dirasakan serta dialami sendiri oleh para murid-murid, memang benar adanya bahwa Rama Resi Pran-Soeh Sastrtrosoewignyo dilahirkan ke alam dunia ini hanya semata karena Rama Pran-Soeh, yang mengingatkan kepada seluruh umat agar sebisa mungkin akan mencintai Rama Pran-Soeh. Hanya orang yang ketiduran yang melupakan / lupa kepada Rama Pran-Soeh, tidak mau percaya dan menanggapi kecintaan Rama Pran-Soeh dan tidak perduli akan kehadiran Rama Resi Pran-Soeh Sastrosoewignyo di dunia fana ini.



W. KEWAJIBAN RAMA RESI PRAN-SOEH SASTROSOEWIGNJO

1. Menolong dan mengayomi.
Pengayoman (ngaup, ngeyup) akan bisa terlaksana apabila dekat dengan yang memberi pengayoman, yaitu Rama Resi Pran-Soeh Sastrosoewignyo. Ketika seseorang mendapatkan suatu halangan (sakit, dapat musibah, dan lain sebagainya) orang yang belum menyelesaikan ilmu yang tiga perkara itu akan datang ke tempat beliaunya dan minta tolong. Beliau menyanggupi dengan hati legowo, tanpa ada suatu ataupun pengharapan imbalan apapun, buat orang yang sudah menyelesaikan ilmu tiga perkara itu bisa minta sendiri (mencari sendiri) asalkan dengan bersungguh-sungguh maka permintaan apapun akan dapat terwujud dan didapatkan, dan bila beruntung maka bisa sekaligus untuk bertemu dengan suksma suci RPS. Sastrosoewignyo, dengan kata lain maka mendapatkan pengayoman.

2. Kewajiban menebus dosa, menghibur, mengajar dan memberi contoh.
Orang yang sudah menamatkan ilmu tiga perkara itu bisa dikatakan orang yang sudah suci, karena semua dosa-dosa bawaan dari semenjak kecil hingga dewasa sudah ditebus/dilebur. Tetapi manusia itu hidup dengan nyawa, sedangkan nyawa itu adalah merupakan musuh suksma yang akan selalu menggoda hingga sampai ke liang kubur, nyawa akan selalu mengajak kejelekan, berbohong dan berlaku nista, dan semua perilaku yang sesat itu adalah ulah nyawa. Dengan demikian nyawa harus dicari hingga bisa dilihat bagaimana senyatanya perilaku yang sesat itu ataupun yang selalu was-was, namun bukan berarti nyawa itu harus dibunuh karena raganyapun juga akan terbunuh, tetapi cukup dimengerti dan dikalahkan. Nyawa di alam dunia akan menjadi teman namun setelah meninggal akan menjadi musuh. Murid-murid yang sedang mendapatkan kesusahan apa saja, maka ketika beliau masih ada di alam dunia akan memberikan arahan-arahan (pelajaran), dan yang lebih baik apabila ketika di alam halus (impian) bisa bertemu dengan suksma beliau, dan yang begitu itu semua masalah akan sudah terselesaikan, tanpa pertanyaan apa, kapan, kapan, dimana, dan sebagainya.

Rama Resi Pran-Soeh Sastrosoewignyo memberikan contoh perilaku kepada semua murid-muridnya, seperti:
a.   Kesetiaan terhapap Rama Pran-Soeh, dalam melaksanakan perintah sampai dibela dengan kesengsaraan (lara-lapa).
b.   Sentausa keinginan, kesucian hati, luhu budi, sabar yang tak bertepi, dengan perilaku dan watak yang sempurna, selalu membuat bangga buat anak cucu dalam menghadapi pengadilan.
c.   Besar keprihatinannya, gentur tapabrata, giat dalam bekerja, yaitu ketika mejadi carik dan juga dalam hal bertani. Dalam memberikan contoh tidak hanya di alam dunia saja, tetapi juga dalam alam halus suksma suci beliau.

3. Kewajiban mencari saudara.
Ilmu yang diajarkan beliau Rama Resi Pran-Soeh Satrosoewignyo berdasarkan Ketuhanan dan percaya adanya hukum karma serta reinkarnasi (urip tumimbal). Sudah diuraikan di depan bahwa beliaunya ada di alam dunia ini sudah berkali-kali, beda tempat beda nama dan beda derajatnya. Dan kebanyakan yang menjadi terpisah adalah ketika beliaunya menjadi Nabi Nuh. Suatu saat ketika berada di alam dunia ini lari terbirit-birit dan menjadikan pencarian hingga sampai sekarang ini.


X. PERATURAN SEBELAS (11).

Semua putra-putri dan siswa-siswa beliau yang mau mengikuti ajaran-ajarannya pasti diberitahu akan peraturan sebelas (Angger-angger 11) yang harus digunakan untuk pedoman hidup di dunia dan juga ketika menginginkan untuk dapat tamat dalam ilmu tiga perkara. Peraturan yang sebelas itu selalu menjadi pedoman, dan apabila peraturan sebelas itu nyata-nyata dilakukan dapat pula berarti bahwa itu merupakan bukti kesetiaan terhadap Rama Pran-Soeh dan juga beliaunya. Peraturan yang sebelas itu terbagi menjadi dua yaitu 7 bagian adalah kewajiban dan 4 bagian adalah larangan.

BAGIAN A (KEWAJIBAN):

1.   Setia dan taat terhadap Rama Pran-Soeh dan terhadap Utusannya. 
      Setia dan taat artinya harus timbul dari kesadaran diri sendiri, dari lubuk hati yang paling dalam, yang tidak karena terpaksa/dipaksa, tidak karena ikut-ikutan. Jadi benar-benar ingin membangun citra diri yang tidak perlu menggerutu, apalagi membangkang apalagi ingkar janji. Jadi harus utuh 100% bahwa semua keberadaan, yang terlihat maupun yang tidak, segala bibit dari seluruh bibit. Dan ketika manusia sudah meninggalkan dunia (mati) dan yang telah melaksanakan kewajiban yang pertama ini akan dapat bersatu dengan Rama Pran-Soeh melalui Utusan-nya. Sedangkan bila orang yang masih ada di dunia meminta sesuatu dengan sarana semadi (tidur) itu juga dengan perantaraan Utusan. Rama Pran-Soeh memberikan rasa cinta kasih adalah dengan menghadirkan sosok Rama RPS. Sastrosoewignyo, yang juga sebagai Penuntun, dengan meminjam ilmu yang tiga perkara itu akan dapat membuat kita ingat kepada Rama Pran-Soeh, dapat mengerti mana perbuatan baik dan mana perbuatan buruk, yang benar dan yang salah, yang akhirnya menjadikan hidup kita tentram dan damai.

2.   Setia dan taat terhadap Pemerintah, dan tidak melawan aparatnya. 
      Penguasa setelah Rama Pran-Soeh adalah Pemerintah. Di jaman modern seperti sekarang ini orang hidup tidak bisa hidup seenaknya sendiri. Hidup di era modern adalah hidup yang mau diatur, yaitu oleh pemerintah. Dari soal hokum, politik, ekonomi, kebudayaan semuanya diatur oleh pemerintah, maka dari itu orang mau mengikuti ketentuan dari Rama RPS. Sastrosoewignyo haruslah dapat mencontoh beliaunya, lihat saja seperti sejarah beliaunya. Menjadi carik hingga berpuluh-puluh tahun, dan begitu berhenti (pensiun) tak berapa lama kemudian wafat. Setia dan taat terhadap pemerintah itu tidak melawan para aparat-aparatnya, dari mulai Presiden, wakil Presiden, Mentri, Gubernur, Bupati bahkan hingga Lurah (Kepala Desa) dan perangkatnya serta Ketua RT/RW/RK sekalipun, kita tidak boleh membangkang apalagi melawan dari perintah-perintahnya. Harus memberi contoh untuk hal apa saja buat yang lainnya untuk anjuran-anjuran yang diberikan oleh pemerintah melalui aparat-aparatnya.

3.   Cinta-kasih terhadap bapak-ibu, dan berbakti kepada sesepuh. 
      Kita wajib mencintai orang tua (bapak/ibu), artinya kita harus merasa memiliki yang tanpa pamrih terhadap orang tua, karena orang tua adalah yang menyebabkan terjadinya kita berada di dunia ini. Beliulah yang menjaga kita sejak kecil bahkan sejak dalam kandungan, memeliharanya hingga dewasa dan kemudian juga memapankan kita agar kita nanti menjadi apa. Anak mestinya merasa berhutang yang sangat besar terhadap orang tua yang tidak dapat terukur oleh harta benda, dan harus menurut orang tua, kecuali untuk hal-hal yang mungkin akan bertentangan dengan peraturan yang sebelas ini, tetapi itupun harus ditolak dengan cara halus agar tidak sampai menjadikan amarah di dalam hati. Selanjutnya harus dapat mengabdi, menjaga keharuman namanya. Dan kalau sudah dewasa harus mencari rejeki sendiri (dan juga berumah tangga), dan jangan sampai nantinya anak dan istri menjadikan tidak hormat terhadap orang tua kita. Cinta kasih seorang anak terhadap orang tua itu haruslah lahir batin, dan ketika nanti orang tua sudah tidak bisa berbuat apa-apa (jompo) maka anak harus mau repot untuk merawat yang tanpa menggerutu. Ingatlah dulu ketika kita masih kecil, maka semua kebutuhan kita adalah mereka yang mencukupi. Dan bakti itu berlanjut hingga ketika ajal menjemput dan suksma beliau tidak mendapatkan tempat yang semestinya (kesasar) maka harus dibela dengan syarat diruwat. Dan juga termasuk orang tuanya adalah kakek/nenek, buyut, canggah dan ke atas terus, mertua dan saudara-saudara yang dituakan. Cinta kasih terhadap pini sesepuh tentu saja akan berbeda dengan cinta kasih terhadap orang tua sendiri. Disamping itu kita juga harus cinta kasih terhadap orang-orang yang lebih tua umurnya dari kita, karena pengalamannya, karena ilmunya. Meskipun sudah berpangkat kita tetap tidak boleh lupa terhadap Bapak Guru meskipun hanya guru SD sekalipun.

4.   Cinta-kasih terhadap anak-istri, dan juga anggota keluarga yang menjadi tanggungannya.
      Dari asal mulanya manusia memang sudah diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan, dan turun-temurun beranak-pinak. Orang laki perempuan saling berjodoh hingga beranak-cucu. Meskipun bukan siapa-siapa, dan kadang-kadang memang ada yang masih saudara, dan itu sebenarnya menurut ilmu kesehatan tidaklah baik karena ada kemungkinan akan mempunyai keturunan yang cacat (genetika). Dan di jaman modern ini orang yang berjodoh harus disyahkan menurut agama yang dianut maupun dicatatan sipil. Cinta kasih terhadap suami/istri itu tidak boleh hanya di bibir saja, haruslah sampai dalam lubuk hati yang paling dalam. Tidak boleh sewenang-wenang, harus guyup-rukun, gotong-royong, dan semua hal harus dirembug bersama-sama. Bukan juga bahwa pendapat suami adalah yang paling benar, ada kalanya pendapat istri juga benar. Mencari rejeki juga bukan mutlak orang laki-laki saja, kaum perempuan juga harus turut serta, tetapi kalau memang merasa bisa maka dapat juga yang mencari rejeki hanya suami saja, sedangkan istri di rumah mengurus anak-anak, dan sekali-kali jangan hanya mengandalkan pembantu saja dalam hal mengurus anak, dapat mejadikan pengaruh yang kurang baik terhadap anak. Orang berumah-tangga itu haruslah dibela sampai mati, apalagi kalu itu adalah pemberian Rama Pran-Soeh. Mungkin saja dalam berumah-tangga itu tidak mendapatkan keturunan, tetapi itupun masih bisa diusahakan sebisa-bisanya, namun apabila memang dikodratkan untuk tidak mempunyai keturunan bukan berarti bahwa itu adalah akhir segalanya dan kemudian bercerai. Haruslah ingat pada peraturan nomer 2 dari peraturan yang sebelas, yaitu tidak boleh beristri lebih dari satu. Dan juga jangan sampai melanggar larangan nomer 1 (berbuat zina) hanya karena asmara. Orang berbuat zina itu bisa dikatakan mempermainkan roh, yang bisa mendapatkan hukuman yang berat. Mungkin hukuman di dunia ini hanyalah ringan, dan bahkan tidak ada. Dan hidup berumah-tangga itu juga harus mengupayakan agar pasangan merasakan lega dan enak dengan mengurangi keinginan sendiri, harus bisa saling asuh, yang apabila satu menyimpang maka yang lain mengingatkan. Dan terhadap anak juga haruslah memberikan cinta kasihnya, karena anak lahir adalah keinginan orang tuanya, dan pemberian Rama Pran-Soeh. Cinta kasih terhadp anak-istri haruslah sepadan dengan kecintaan terhadap diri sendiri. Anak nantinya akan meneruskan sejarah orang tua, dan ada pepatah jawa mendhem jero, mikul dhuwur marang uwong tuwane, yang artinya haruslah bisa meluhurkan nama orang tuanya.

Tresna-asih marang anak iya iku:
a.   Menjaga keselamatan dari ketika masih di kandungan hingga samapai dewasa. Menggugurkan kandungan dengan cara apapun adalah dilarang.
b.   Mencukupi kebutuhan anak hingga anak dapat mencari sendiri kebutuhannya.
c.   Memberikan ajaran (menyekolahkan), yang artinya memberikan ilmu untuk bekal hidup nanti setelah dewasa dan untuk keperluan mencari rejeki.
d.   Mengupayakan agar kelak nantinya menjadi orang yang benar (manungsa kang utomo), dan berguna dalam hidup bermasyarakat serta nusa dan bangsa, kalau mungkin juga harus setia dan taat terhadap Rama Pran-Soeh dan Utusannya. Orang tua jangan sampai mengeluarkan kata-kata yang kurang sopan, apalagi memberikan sumpah serapahnya terhadap anak.

Yang disebut sebagai tanggungan adalah siapapun yang menjadi tanggung-jawabnya, misalnya: anak angkat, anak tiri, pembantu. Untuk anak angkat dan anak tiri haruslah disamakan dengan anak sendiri, dan untuk pembantu yang penting jangan disia-siakan, meskipun dirinya membutuhkan pekerjaan untuk mendapatkan upah, bayarlah berapa keinginannya. Terhadap pembantu janganlah sewenang-wenang, karena dialah yang membuat ringan pekerjaan kita, janganlah mentang-mentang bisa membayar maka tiap minggu ganti pembantu, bila dipandang dari mata umum jadinya memalukan.


5.   Cinta-kasih terhadap sesame. 
      Manusia hidup ana di dunia dan semua yang mempunyai hidup (manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan apa saja), dari semua itu adalah manusia sebagai makhluk paling sempurna. Dan semua yang ada diatas bumi ini, baik itu di lautan, dasar lautan, gunung, sawah dan semuanya yang ada boleh dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Cinta kasih terhadap sesame itu bukan berarti semua yang hidup itu dicintai, harus menggunakan nalar mana yang dapat menguntungkan dan mana yang malah akan merugikan atau berbahaya buat manusia. Dan pada umumnya orang hidup itu ada yang di kampong-kampung, desa-desa, dan juga banyak yang di kota-kota. Tentu saja hidup bermasyarakat di kampong atau desa akan berbeda dengan pola hidup di kota-kota. Hidup di desa biasanya jiwa sosialnya masih tinggi, dengan masih banyak bergotong-royong dan sangat memperhatikan tetangga, sedang hidup di kota karena kebutuhannya masing-masing dan tuntutan hidup yang berbeda maka mungkin saja jiwa sosialnya tidak sebesar seperti hidup di desa. Namun demikian bagi orang-orang yang memang sedang mendapatkan keberuntungan yang tinggi (dengan pangkat yang tinggi atau gaji yang besar) maka janganlah berlaku aji mumpung (mumpung lagi kuwoso, mumpung isih sugih), dan menganggap rendah kedudukan orang lainnya. Katakanlah sekarang masih punya kedudukan, tetapi kalau sudah pension, ataupun sudah tidak bekerja lagi toh harus kembali hidup di masyarakat yang biasa. Orang hidup tidak bisa sendirian, harus saling tolong-menolong dan gotong-royong. Dan janganlah membeda-bedakan faham/ kepercayaan/ keyakinan. Sebisa mungkin hiduplah secara wajar di masyarakat, makanya ada pepatah ora gampang uwong urip neng ngalam donya. Bila diperhatikan sekilas saja maka pepatah itu sepertinya tidak mempunyai arti apa-apa, tetapi kalau diuraikan agar bisa hidup tentram sekeluarga maka harus bagaimana hubungan dengan tetangga kanan kiri, dengan orang sekampung, orang senegara, dan juga ketika harus memikirkan bagaimana nanti saat ajal mejemput, sudah siapkah?


6.   Giat bekerja dan selalu menepati janji/kewajiban.            
a.   Boleh dicontoh bagaimana ketika Rama RPS. Sastrosoewignyo dahulu menjalani hidupnya, seperti: tapa-brata, berani karena benar, akrab dengan siapa saja, cinta sesama, disiplin, giat bekerja, sebagai abdi pemerintah dan juga pekerjaannya sendiri sebagai petani. Dengan giat bekerja dalam bertani maka akan menjadikan lebih banyak hasil ladangnya dan akan menjadi berkecukupan. Dan untuk syarat hidup maka ada lima macam yang utama: sandang, pangan, papan, pasangan hidup, dan pekerjaan yang tetap. Bisa ditambahi yang lain misalnya, hiburan, pendidikan dan kesehatan. Dan untuk kesehatan bukan hanya jasmani saja tetapi juga diperhitungkan untuk kesehatan rokhani. Dengan mencukupi semua kebutuhan makan akan timbul ketentraman dan akan terhindar dari perilaku yang tidak baik, dan tidak akan melanggar peraturan yang sebelas, larangan yang ke-3, berbuat nakal dan nista. Orang yang pemalas itu inginnya hanya, main, tidur dan bermalas-malasan yang menjadikan tidak punya penghasilan, setelah itu akan mempunyai watak yang menyimpang dari keutamaan, inginnya hanya hidup enak mengumbar hawa nafsu. Orang yang hidup hanya menurut hawa nafsu inginnya puas yang tidak terbatas, apapun yang didapat pasti akan masih merasa kurang. Dengan demikian maka harus dibatasi, narimo ing pandum. Nasib orang tidak ada yang sama dan sendiri-sendiri, makanya jangan iri. Hidup juga tidak boleh pasrah begitu saja, harus mempunyai upaya, ada derajat, ada semat juga ada rachmat adalah karena pemberian Rama Pran-Soeh.
b.   Rama RPS. Sastrosoewignyo berkata seperti berikut: “Yen ngrembug donya kaya rumangsa kaya ora arep bakal mati, nanging yen arep mapan turu kaya ora bakal menangi esuke, ateges kudu bisa golong-gilig nglalekake kadonyan, meleng madep mantep lan sumarah dedepe anggrantes ing ngarsane Rama Pran-Soeh. Bisane enggal katam anggone ngudi ngelmu 3 prangkat. Dene kang uwis pada katam, ngudi bisane oleh dawuh ceta apa sing dibutuhake. Kabeh pegaweyan kasar alus pada bae, manut bakate dewe-dewe. Sregeping nyambut gawe kudu nganggo wates, aja kongsi ngrusak raga ngganggu kasarasane awak, luwih-luwih nganti nglalekake turu, nganti byar-byaran, kuwi nglalekake butuhing suksmane, ora nyadong dawuh marang Rama Pran-Soeh. Ateges lali ora manembah marang sing gawe urip. Wektu kudu dibage, sing bageyan akeh kanggo suksmane dene sing sethithik kanggo kapentingane raga.”              
c.   Kita berkewajiban menepati janji, yaitu kesanggupan kita terhadap siapa saja, termasuk juga terhadap Rama Pran-Soeh dan diri sendiri. Yang disebut sumpah atau tanda setia bisa hanya dibatin saja atau diucapkan, bisa juga dengan saksi agar lebih mantap dan kuat. Janji terhadap orang lain harus diucapkan dan ada saksi minimal adalah yang diberi janji. Menepati janji adalah suatu ukuran seseorang itu jujur dapat dipercaya atau tidak. Menepati janji adalah sebagai dasar dalam hidup di masyarakat untuk memelihara ketertiban, ketentraman dan keselamatan ketika ada satu dengan yang lainnya merasa tertipu. Yang namanya janji harus keluar dari lubuk hati dengan tekad yang suci, dan bukan paksaan sehingga dalam melakukannya akan merasa ikhlas. Dan adalah mungkin saja sebuah janji akan cedera karena terpaksa, itupun harus disampaikan dengan alasan-alasan yang dapt diterima. Dengan demikian janji yang karena dipaksa, hal itu tidak perlu untuk diambil hati. Sebaiknya apabila memang bukan hal yang sangat penting janganlah dengan gampang mengucapkan janji, apalagi di depan orang banyak. Dengan demikian janganlah memberikan janji apabila memang tidak akan bisa menepati.

7.   Berbudi luhur adil dan belaskasih.                                      
a.   Kewajiban yang ke-7 ini adalah sifat-sifat yang semua dimiliki oleh Rama RPS. Sastrosoewignyo, yang sudah menjadikan kebiasaan sehari-hari dan sudah sangat dirasakan oleh beliaunya. Kita harus meniru watak-watak yang demikian itu, meskipun tidak akan bisa sama paling tidak dapat mendekati. Berbudi luhur itu adalah budi yang paling utama, yang lebih dari segala hal kebaikan. Berbudi luhur adalah mempunyai sifat-sifat seperti: jujur, tulus, perwira, berbudi, prasaja, lemah-lembut, termasuk juga adil dan belas-kasih. Orang yang mempunyai watak berbudi luhur akan selalu berusaha untuk dapat memberikan pengayoman dan pertolongan kepada pihak lain, tidak pernah mementingkan diri sendiri, dengan kata lain tidak egois. Meskipun demikian juga tidak akan melupakan kewajiban yang merupakan tanggungannya sendiri. Akan sangat malu bila harus menjadi beban orang lain. Dan dalam memberikan pertolongan sama sekali tidak mengharapkan imbalan, namun demikian bila mendapatkan kebaikan dari orang lain akan selalu diingat, dan suatu saat harus dapat membalas kebaikan itu.
b.   Berlaku adil itu adalah perlakuan yang tidak pilih kasih, tidak emban-cindhe emban-siladan, seperti timbangan maka tidak boleh berat sebelah, harus pas sama. Kita harus adil dalam hal apa saja, misalnya dalam pembagian hak-hak lahir dan hak-hak batin, pemeliharaan terhadap anak dan yang menjadi tanggungannya, dalam pembagian harta warisan, dalam hal harus memutuskan sebuah perkara maka yang salah harus disalahkan dan yang benar ya harus dibenarkan. Agar bisa berlaku adil maka haruslah mengerti dengan seksama perkara yang akan diputuskan, apa hubungannya dengan peraturan-peraturan yang ada, dan juga harus dapat memisahkan mana kepentingan pribadi ataupun golongan dan saudara. Adil dalam pembagian barang bukan berarti harus sama banyak, tetapi harus bisa membuat keduanya merasa puas, dan dalam perkara pidana, ya kalau memang harus mendapatkan hukuman maka haruslah sebanding dengan perbuatan yang dilakukan. Berlaku adil itu bila diumpamakan orang yang sedang jual-beli, maka baik yang menjual maupun yang membeli merasa puas dan tidak ada yang merasa dirugikan. Dengan berlaku adil maka akan menjadikan masyarakat yang tertib dan tentram, karena akan jauh dari rasa iri dan adanya hanya saling menerima.
c.   Belas-kasih itu artinya tidak tegaan. Misalnya melihat keadaan orang yang sengsara, maka orang yang mempunyai belas-kasih akan selalu memberikan pertolongannya, apalagi orang itu sudah pasrah. Belas kasih itu artinya mempunyai jiwa sosial yang tinggi, akan senang menolong berupa harta benda, tenaga dan pikiran. Namun demikian beberapa hal berikut ini perlu diperhatikan:
1.      Jangan sampai menolong orang yang akan menjadikan kesengsaraan diri sendiri.
2.      Jangan sampai pertolongan kita malahan menjadikan kerugian bagi yang ditolong.
3.      Pertolongan harus diberikan dengan ikhlas lahir dan batin, sepi ing pamrih.


BAGIAN B (LARANGAN):

1.   Tidak berzina.                                                                                                     
a.   Manusia itu lebih tinggi derajatnya daripada hewan, maka dari itu seharusnya dapat berbuat hal=hal yang lebih mulia daripada hewan untuk tidak melanggar peraturan yang sebelas dari Rama Pran-Soeh ini. Larangan yang pertama, tidak berzina, maksudnya adalah perilaku yang menyimpang dalam bermesraan, yaitu dengan siapapun kalo itu bukan pasangannya yang sah yang sudah melalui perkawianan dalam agama ataupun lewat catatan sipil. Meskipun sama-sama masih jomblo, apalagi sudah punya suami/istri semuanya dilarang, juga termasuk pelacuran, nggundik, dan pacaran. Berbuat zina ini dilarang karena dianggap:
·    Mempermainkan dan menyiksa roh (kecuali terhadap suami/istri sendiri yang sah)
·    Merusak kesehataan badan terutama anak turunnya.
·    Membuat tidak tentramnya keluarga, akan sering terjadi kematian ataupun luka, dan sering juga menjadi perkaran yang harus melewati pengadilan.           
b.   Berbuat zina itu apabila ketahuan dan menjadi perkara memerlukan bukti dan saksi, juga pengakuan dan hukumannya akan ringan, tetapi hukuman batin (suksma) ketika sudah meninggal akan tersiksa selamanya. Ini adalaha sesungguhnya, yang bukan berarti menakut-nakuti, karena bisa dibuktikan dengan memohon kepada Rama Pran-Soeh, disana akan kelihatan, karena permohonan itu hanya tertuju pada alam bawah, tempat suksma manusia yang tersasar. Dan setelah mengetahui hal itu, mestinya harus ingat terhadap Rama Pran-Soeh, tidak akan lagi melanggar larangan yang pertama ini. Godaan terbesar ketika lahir di dunia hingga meninggal nanti adalah ketika seorang laki-laki yang tergoda oleh perempuan dan seorang perempuan yang tergoda oleh laki-laki. Maka dari itu haruslah selalu ingat untuk mengendalikan perbuatan yang hanya menuruti hawa nafsu, dan bagi seorang perjaka/perawan apabila memang sudah tidak kuat untuk hidup sendiri, segeralah untuk menikah. Memang ada orang yang malas untuk bekerja, sehingga untuk mencari makan dengan cara melacurkan diri, tidak mau bekerja dengan apa yang menjadi kebisaannya.


2.   Tidak beristri lebih dari satu.
Kita terlarang untuk mempunyai istri/suami lebih dari satu artinya tidak boleh dimadu (poligami untuk pria, poliadri untuk wanita), harus hanya satu dan ini disebut monogamy. Yang disebut burung dara itu adalah hewan, namun demikian dia tidak akan mau menggauli kalo bukan pasangannya, dan katanya manusia itu kedudukannya lebih tinggi daripada hewan, kok ya masih melakukan hal-hal yang semau-maunya. Memang yang namanya itik, seekor itik jantan akan bersanding dengan berpuluh-puluh ekor itik betina, dan akan bertelor dimana saja ditambah lagi tidak mau mengerami telornya sendiri, tetapi itu memang sudah dikodratkan demikian. Ketika salah seorang mempunyai pasangan lagi, maka bisa dianggap bahwa cintanya itu tidak dapat tumbuh, dengan cinta yang terbagi-bagi ini (kadang hingga tiga bahkan empat) maka perbuatan adil akan menjauh. Bisa saja itu berasal dari rupa, harta benda, atau karena anak, dan masih banyak pengaruh yang lainnya. Dan perilaku tidak adil ini bukan hanya menimpa istri saja, tetapi juga anak-anaknya. Orang perempuan yang dimadu, mungkin saja secara lahiriah akan kelihatan rukun, tetapi di dalam batin bisa dipastikan tidak akan suka. Rama Pran-Soeh sudah menyuruh kepada orang laki-laki maupun perempuan, yang dikodratkan untuk hidup berpasang-pasangan, sedangkan orang yang cacat saja (misalnya: berkaki satu, buta, lemper, dll) tetap masih akan mendapatkan jodoh dan ada yang mau mencintainya hingga mendapatkan keturunan.


3.   Tidak berbudi nakal dan nista.
Manusia di sini mempunyai dua macam perilaku, baik dan buruk. Maka bisa dikatakan bahwa perbuatan yang buruk itu adalah perbuatan setan (nyawa) sedang perbuatan yang baik adalah perbuatan yang dilakukan oleh suksma roh suci (dari Rama Pran-Soeh). Orang yang mempunyai budi nakal dan nista itu adalah hanya menuruti hawa nafsu, dan memang setan (nyawa) itu memang diciptakan untuk menggoda manusia, agar tidak mau tunduk terhadap Rama Pran-Soeh yang jelas-jelas berbuat baik dan benar. Dimana ketika manusia itu terpikat oleh nyawa, maka di akhirnya nanti akan menjadi jajahan si nyawa tadi dan berada di pangkuan Sang Priya/ Sang Putri yang artinya adalah tersasar. Orang yang berbudi nakal itu akan selalu membuat kesusahan orang lain. Dan perbuatan berbudi nakal itu antara lain:

·    Drengki, suka memfitnah, suka menggunjing yang tidak ada agar orang lain sengsara.
·    Srei, senang berkelahi, membuat kesakitan orang lain.
·    Panasten, mudah membara hatinya ketika dinista, disalahkan, atau ketika disamai bahkan diungguli dalam hal apa saja. Apabila tetangga mendapatkan rejeki ataupun kesenangan maka seringnya kemudian menggunhjing dan memfitnah.
·    Jail, adalah drengki yang karena kebodohannya sendiri yang akhirnya tidak mau tahu dan hanya menurut pendapatnya sendiri yang nyasar itu, karena memang tidak mengerti mana yang benar.
·    Silip, bertindak yang tidak semestinya, bisa dengan cara yang tidak terpuji misalnya minta bantuan makhluk halus, dan suka menyerobot yang sudah menjadi hak orang lain.

Bertindak silip antara orang laki-laki dan perempuan adalah perbuatan zina itu, yang juga sering disebut sebagai sedeng. Goroh, lamis, ingkar janji, itu semua adalah perbuatan yang tidak jujur yang suka menipu orang lain. Semua perbuatan itu adalah yang disebut berbudi nakal. Bertindak yang demikian itu bukan hanya suksma saja yang akan mendapat hukuman, tetapi juga ketika hidup di masyarakat bisa mendapatkan hukuman fisik karena pekerjaannya itu. Berbudi nista itu adalah budi yang paling bawah, yang sedang-sedang sajapun tidak, maka kan sangat jauh dari perbuatan yang mulia. Orang yang nista adalah hanya akan selalu mengharapkan pertolongan orang lain, tidak pernah mengerti akan kebaikan dan tidak mempunyai rasa tanggung-jawab, di depan tidak berani tetapi di belakang selalu menggerutu. Orang yang berbudi nista itu lahir dan batin terhukum, di dunia tidak dihargai dan hanya menjadi ejekan orang dan yang lebih penting adalah batin/ suksmanya tidak bisa ikut  Rama Pran-Soeh, akan menuai hasil pekerjaannya yang nista itu dan ketika meninggal nanti akan tersesat dan hanya menjadi jajahan nyawa (setan).

4.   Tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ketujuh kewajiban diatas.
Semua orang yang sudah sumpah setia untuk menjadi pengikut Rama RPS. Sastrosoewignyo, harus memenuhi peraturan yang sebelas (11) itu, yaitu tujuh (7) bagian merupakan kewajiban dan empat (4) bagian merupakan larangan. Hal-hal yang bertentangan dengan ke-tujuh kewajiban serta ke-empat larangan itu harus dijauhkan. Kita wajib setia dan taat terhadap Rama Pran-Soeh dan Utusannya, yang artinya benar-benar dilarang untuk membandel, mengesampingkan apalagi melawan akan perintah-perintahnya. Tidak boleh hanya karena mempunyai sesembahan yang lain kemudian ingkar, yang demikian ini dapat dikatakan sudah cedera kepercayaannya dan tidak utuh lagi. Kita wajib setia dan taat terhadap Pemerintah kita serta wakil-wakilnya, dan apabila kemudian kita menjadi terpikat oleh pemerintah negara lain sama halnya dengan maker, artinya melawan terhadap pemerintah, hal itupun sangat dilarang. Demikian juga halnya ketika kita tidak lagi merasa sayang terhadap anggota keluarga kita (istri, anak, orang-tua, kakek-nenek dan lain sebagainya) maka sama halnya kita sudah mengesampingkan salah satu dari kewajiban kita dalam menjalankan peraturan yang sebelas (11) itu. Begitu pula halnya didalam pekerjaan. Jadi larangan yang ke-empat ini adalah untuk memantapkan ke-tujuh kewajiban yang tersebut diatas.

Sudah tertera diatas adanya peraturan yang sebelas itu, kewajiban akan mewujudkan kesanggupan dengan sungguh-sungguh dan harus memenuhi, dan kalau tidak maka akan ada pengaruh yang negative. Larangan adalah semua hal yang harus dijauhi dan sama sekali tidak dapat dilanggar. Orang-orang yang mau menghindari larangan itu dapat dikatakan sebagai orang yang sudah melakukan peraturan yang sebelas itu, dan orang-orang yang melanggar aturan-aturan itu dikatakan sebagai orang tidak memelihara kewajiban dan larangan yang sebelas itu. Kewajiban dan larangan itu ditulis dengan angka urut yang berarti nomer yang paling kecil adalah yang paling penting. Jadi larangan nomer satu (berbuat zina) adalah larangan yang paling berat dan akan mendapatkan hukuman yang paling berat pula.


Y. TATA-TERTIB ASTANA-WAJA BALE SUCI AGUNG GEDHONG PRAN-SOEH TLAGA MAHARDA

Di depan sudah dikatakan bahwa Rama RPS. Sastrosoewignyo ketika masih hidup sudah membuat tempat peristirahatan terakhir untuk diri dan istrinya. Disamping itu juga membuat tempat persembahyangan, tempat bertapa atau tempat apapun namanya yang dapat digunakan oleh seseorang untuk memperoleh petunjuk agar yang menjadi keinginannya terkabul (drajat, pangkat, rokhaniah dan lain-lain). Sekarang ini dan seterusnya kami semua sebagai murid-murid beliaunya menyatakan setia dan taat terhadap Rama Pran-Soeh dan Utusannya, dimana kami sudah menyaksikan dan mengakui untuk tidak bisa ingkar lagi bahwa beliau Rama Resi Pran-Soeh Sastrosoewignyo adalah benar-benar sebagai Utusan Rama Pran-Soeh. Tempat yang disebut tadi waktu ini dan seterusnya akan menjadi sebuah pusaka yang ampuh, untuk mencari ketentraman lahir dan batin.

Astana Waja adalah pesarean tempat beliau dan istri dimakamkan, Bale Suci Agung Gedhong Pran-Soeh Tlaga Maharda, adalah bangunan yang ada di depan Astana Waja adalah tempat untuk sembahyangan memuja kepada Rama Pran-Soeh. Sedangkan tempat itu sendiri bisa dinamakan sebagai Tlaga Maharda atau Cepuri Astana Waja dan Bale Suci Agung Gedung Pran-Soeh.

Nama-nama diatas adalah nama yang diberikan beliaunya sendiri dan berasal dari alam batin, sedapat mungkin akan menjadi nama tempat itu untuk selama-lamanya. Selanjutnya yang bertanggung-jawab di tempat iutu adalah putra beliau yang bernama RPS. R.Wenang Atmadipraja SH., yang rumahnya ada di gedung Cibuk Cangkiran, Jagalan, Munthilan. Siapa saja yang akan berziarah di Bale Suci Agung Gedung Pran-Soeh haruslah meminta izin kepada RPS.R.Wenang Atmadipraja SH., terlebih dahulu dan akan dicatat dalam buku besar, nama, umur, alamat (buku tamu) dan sebagainya, yang kemudian akan diberikan kartu tanda masuk yang selanjutnya dapat diberikan kepada juru kunci tempat itu. Yang menjadi juru kunci adalah R.Suramujana dan Bp. Harjautama.

Di tempat itu mesti saja harus menurut tata tertib bagaimana caranya memasuki Bale Suci Agung Gedung Pran-Soeh. RPS.R.Wenang Atmadipraja SH, menjadi penanggung-jawab (juru kunci) tempat itu bukan semata-mata penunjukan saja, tetapi memang sudah sejak dari ketika beliaunya masih hidup, maka beliuanya berkata: "Besuk sing arep nerusake lelakonku anakku Wenang. Sapa sing sengit marang anakku, padha bae sengit karo aku".

Dengan adanya sabda tadi maka kita semua hanya bisa menerima dan menurut apa-apa saja yang sudah ditetapkan oleh beliaunya. Dalam berziarah ke Bale Suci Agung Gedung Pran-Soeh dan Astana Waja, maka RPS.R.Wenang Atmadipraja SH, juga memberlakukan hal-hal yang sama seperti ketika beliaunya masih ada. Dan ketika ada murid-murid yang datang, maka masih juga diberikan jamuan sekedarnya, dan juga mendapatkan tanggapan yang baik-baik juga memberikan syarat-syarat apa saja agar tetap mendapatkan kekuatan, kesehatan dan keselamatan.

Di dalam surat wasiat beliaunya menyebutkan antara lain agar disinggahi minimal setahun sekali. Beliaunya ketika memberikan perintah untuk pribadi beliaunya tidak pernah menggunakan kata-kata yang gamblang, tetapi semua pasti menggunakan kata-kata sindiran ataupun pasemon, jadi sebagai murid maupun cucu-cucu kita semua haruslah tanggap mengenai hal ini. Meskipun agak repot dan jauh maka pasti akan mencari kesempatan untuk datang berziarah ke Astana Waja, terutama pada hari-hari besar yang sudah ditentukan. Surat wasiat tersebut tertulis tanggal 27-12-1955. Dalam berziarah yang diperlukan adalah pergi ke Astana Waja, ke tempat makam beliau dan istri, sedangkan untuk ke makam-makam yang lain (orang-tua, kakek/nenek) itupun juga minimal sekali setahun.

Sedikit gambaran mengenai Astana Waja: Astana itu keraton, waja itu besi yang kuat. Jadi Astana Waja adalah keraton yang kuwat, yang tidak mudah rusak. Bale Suci Agung Gedung Pran-Soeh: Bale Suci adalah Rumah Suci, Agung adalah besar, jadi secara utuh sebagai Rumah Suci yang besar, yang akan menjadi pusat semua rumah suci yang akan dibangun oleh para siswa di kemudian hari. Maka bila ingin mendirikan rumah suci dimana tempat para murid berada maka tempat itu tidak boleh dinamai yang sama dengan yang di Muntilan itu. Tlaga Maharda adalah pekarangan atau temapt dimana didirikan bangunan diatas tadi. Sebelum didirikan bangunan masih berwujud sawah dengan selokan kecil, yang didalam batin beliau merupakan samodra yang luas tak bertepi. Dan Maharda berasal dari kata maha yang artinya lebih dan harda yaitu nafsu. Jadi Maharda adalah nafsu yang besar, atau sebagai biangnya nafsu. Kalau bisa menyaksikan di alam batin maka suksma yang ada di Tlaga Maharda itu adal suksma yang tersasar dan menjadi jajahan Sang Priya. Astana Waja dan Bale Suci Agung Gedung Pran-Soeh Tlaga Maharda, itu tidak dapat dipisah-pisahkan lagi.

Di Astana Waja, tidak semua orang bisa masuk, bahkan murid sekalipun apabila belum dapat menamatkan ilmu yang tiga perkara itu. Semua murid-murid hanya bisa berziarah ke Bale Suci Agung Gedung Pran-Soeh. Astana Waja setiap hari besar seperti hari Rebo Pahing sebagai hari kelahiran beliau, dan juga hari-hari besar yang lain yang sudah ditentukan, akan dibuka untuk membersihkan makam. Namun tidak begitu saja, karena semua tadi yang menentukan adalah RPS.R.Wenang Atmadipraja SH. Dan kemudian siapa-siapa yang akan masuk didaftar terlebih dahulu dan diatur bergantian, misalnya berapa yang dari Gunung Kidul, berapa dari Sleman, berapa dari Kedu dan seterusnya. Tetapi yang diperbolehkan masuk terlebih dahulu cucu-cucu lebih dahulu.

Di antara bangunan Astana Waja dan Bale Suci Agung Gedung Pran-Soeh ada halaman kecil yang disebut Asmara Data. Data adalah dari kata perdata atau pengadilan, jadi Asmara Data secara keseluruhan berarti tempat yang diperuntukkan meminta dengan sungguh-sungguh (meneges) agar didapatkan perintah dengan gamblang apa yang menjadi keinginannya. Tidak semua orang dapat bertapa dan bermalam di situ, hanya orang-orang yang sudah menamatkan ilmu yang tiga perkara, yang belum hanya bisa berada di sumur Jala Tunda yang berada di sebelah Timur bangunan itu.

Para murid-murid yang datang berziarah ke tempat itu tidak boleh berada di sembarang tempat, semua harus diatur. Orang laki-laki yang akan bersembahyang harus berada di sebelah kanan makam beliau dan orang perempuan harus ada disebelah kiri makam ibu, dan apabila sudah selesai bersembahyang boleh saja istirahat di tempat yang sudah disediakan yaitu Sasana Sewaka, tetapi tidak boleh sampai bermalam.

Sudah diperintahkan oleh RPS.R. Wenang Atmadipraja, orang perempuan yang akan bermalam haruslah di rumah beliau Cibuk Cangkiran, dan untuk orang laki-laki boleh menginap di Sasana Sewaka, tidak diperbolehkan di dalam gedung. Dan semua yang akan berziarah haruslah ingat akan pesan beliau: ”Yen padha menyang Bale Suci Astana-Waja aja pada nyembah gambar utawa kijing, ora kena sesaji nganggo kembang-kembang lan ngobong menyan."
Untuk keperlua itu sudah disediakan kaian mori putih yang bersih, dan hanya diperbolehkan untuk mengelap batu nisan dengan terlebih dahulu membasahi lap dengan minyak wangi.

Ketika sudah berniat untuk berziarah, maka semuanya sudah tertib. Pakaian haruslah yang sopan dan tidak boleh beraneka warna, warna merah serta biru sangat tidak dibolehkan. Dan ketika kaki sudah menginjak pekarangan maka semua harus tertib dan tidak boleh berbicara yang kurang berguna atau kotor maupun bersenda-gurau. Semuanya harus sudah terpusat kepada kesucian, dengan berpikir bahwa memang hanya ingin bertemu dihadapan Rama Pran-Soeh dan Utusan. Buat anak-cucu dan kearabat dekat tentu saja dapat datang setiap saat karena di sanalah makam ayah ataupun eyangnya.


Z. KIDUNGAN.

Kidungan ini dimaksudkan untuk sarana mengingat sejarah Rama RPS. Sastrosoewignyo, ketika bertapa di pantai Selatan dan mendapatkan wahyu yang pertama.

SUDIRAWARNA Lampah 12, pedhotan 5-7:
“Kacriteng pupuh / Sang Bratalaya Wasi / Ungguling yuda / Lan Kenya Wandasari / Luluh gya nabda / Mrih tapa somyeng ramya / Tri dasek warsi / Yun nimbulken lakonnya.”

DURMA:

1. Mundurraras Wasi Palam Bratalaya / Dahat amati ragi / Amesu sarira / Cegah dhahar lan nendra / Mrih sembada king kinapti / Cipteng wardaya / Mangudi nugreng widdi
2. Duk samana Sang Wasi suwiteng Nata / Adwija tunggil wirid / Antuk sihing Nata /
Tinunggal pra sentana / Karana dahat undhagi / Amilut karsa / Lebda cucut respati
3. Wasis beksa luwes sasolah bawanya / Swara rum raras bening / Bisa den luk sanga / Gandem dhasar wirama / Mapan tan kuciwenq gendhing / Marina kinarya / Abdi pamaca tulis.
4. Wis kawentar sawiji tan ana padha / Suprandene Sang Wasi / Tan umuk-umukan / Sumungah sesongaran / Marmanya keh para janmi / Mudha myang wredha / Julwestri pan samya sih.
5. Wit Sang Wasi tuhu luhur bebudennya / Welasan yun ngayomi / Mring kang kasangsaran / Rilan sung pangorbanan / Wau yen rinenggeng tulis / Tan ana telas / Tinulis telung sasi.
6. Kacarita Sang Wasi ruditeng driya / Krana tan tegel uning / De wantu Sang Nata / Dupeh darbe panguwasa / Sarake nora sinirik / Srakah melikan / Tan sirik tan atampik.
7. Pindha Kala myang Godhayitma manjanma / Weh panggugah Sang Wasi  /Enget tranging cipta / Dhedhasaring wardaya / Kang suka oleh kasucin / Sirik dursila / Tanngap sarasing osik.
8. Temah enget kalane lagya memaca / Lakyan pra sidik mursid / Yeku Seh Molana / Kang bangkit wawan sabda / Lawan ingkang Maha Suci / Tanapi uga / Narendra ing Matawis.
9. Sultan Agung saben-saben bangkit panggya / Ratu Kidul Sang Dewi / Kerep minta sraya / Myang sakeh wadyanira / Setan dhemit ejim besit / Pra brekasakan / Lelembut jro jaladri.
10. Melenging tyas kadya tugu sinukarta / Madeg prawireng galih / Wasi Bratalaya /
Kaduga mapakana / Merang lamun tan undhagi / Pan samya titah / Tan tulus lila lalis.
11. Semadyeng tyas pan arsa banting sarira / Trus ngatas mring Hyang Widdi / Wus sawelas warsa / Denira tapa brata / Sirih, mutih, pati geni / Met mapan Sonya / Sabeng kali myang tasik.
12. Pasisiran yen dalu tapa ngrambang / Datan adarbe ajrih / Langen ing samodra / Plembungan dhestharira / Ngangkah tengahing jaladri / Daksina-daya / Kratonira Sang Dewi.
13. Santoseng tyas nirbaya myang nirwikara / Akirnya tan aseling / Kongsi sawlas ratya / Nityasa tapa ngambang / Mangkya winursiteng tulis / Ratri wekasan / Alun kagiri-giri.
14. Lir kinerbur ombaknya mangambak-ambak / Manaut mring Sang Wasi / Gya binuwang tebah / Sigra bali mangangkah / Datan darbe walang galih / Milala pejah /
Lamun tan bangkit panggih.
15. Lan Sang Kenya Ratu-ratuning Udaya / Tekad wetah Sang Wasi / Suka kerem toya / Sinarap ing minarda / Gumolong giliging galih / Pan kongsi prapta / Wancinya madya ratri.
16. Kongsi kesel nora kasil kang sinedya / Kagol-kogeling galih / Pan sanget nalongsa /
Ngraos dahat sangsara / Gya minggir minggah ing sisik / Angga gel-gelan / Threthekan marga atis.
17. Kabeneran duk samana padhang bulan / Seh Maolanan keksi / Nulya ingunggahan /
Ambrangkang sempoyongan / Marlupa lesu aletih / Asayah lungkrah / Prandene prapta nginggil.
18. Temah lenggah asendhen wit nagapuspa / Asta kekalih nuli / Cecekelan sela / Bantheng prucul wastannya / Trus nalangsa mring Hyang Widdi / Karanta-ranta / Kandhas ing sanubari.
19. Lir udrasa tambuh-tambuh darunanya / Apes dennya dumadi / Tansah kogel gela / Enget wit timur mila / Wus tinilar mring sudarmi / Karanta-ranta / Lila tumuli lalis /
20. Angelangut anelongsa Sang Atapa / Angin emoh lumaris / Lir bela sungkawa / Alun kawlawan ombak / Jangkrik walang munya seling / Pindha ngrerepa / Weh lipur mring Sang Teki.
21. Pan kawarna tan antara nulya nebdra / Bawane lapa arip / Apayah kalintang / Mangkana adiling Hyang / Trus sare supena uning / Lir wewentehan / Ngraos anon jaladri.
22. Samodragung tanpa tepi mawalikan / Dangu dennya mriksani / Sesining samodra /
Kinedhepken gya sirna / Ilang sipating jaladri / Agyanta rupa / Temah dadya wanadri / 23. Madyeng wana keh wreksagung geng ngrembaka / Tinunggalan waringin / Geng luhur kalintang / Sang Wasi mawas kagyat / Anon peksi salah rupi / Mokal nglengkara / Ngedhangkrang munggweng wringin.
24.  Cucuk lancip netra bang mirah dalima / Mawa wangkawa wingit / Abra mara kata Lurik jali wulunya / Gedhenya sajago keksi / Buntut jelamprah / Cakar ajalu mingis /
25. Jroning cipta wau Wasi Bratalaya / Lagya tumon puniki / Beburon mangkana / Ing donya datan ana  / Tanapi gawok mring wringin / Tan mantra wreksa  / Pindha Kraton kaeksi.
26. Tuhu pelak Kraton kang sipat mandira / Prabawa wingit rungsit / Alun-alun jembar / Sinaponan pra janma / Ana kang ngawe Sang Wasi / Ngungun Sang Tapa / Peksi kang mokal anis.
27. Kawistara wanita sulistyeng warna / Angagem busanadi / Kapraboning Nata / Mrepeki mring Sang Tapa / Gya pinethukaken aglis / Tanya tinanya / Sang Wasi ing tyas runtik.
28. Kenya ngaku Nta daksinaudaya / Ya kenya Wandasari / Sesilihing Nata / Kang mangreh pra seluman / Lelembut lan setan eblis / Jroning samodra / Nenggih samodreng pati.
29. Bratalaya tanpa krana tambah duka / Wit sinilih kang warni / Narpestri akrodha /
Temah diya-diniya / Timbul panca-kara sengit / Rikma Sang Kenya / Den ukel mring Sang Wasi.
30. Karsanira Sang Kenya yun rinampungan / Kenya glis angles manjing / Jro angga Sang Tapa / Luluh dadya sajuga / Gya ana swara dumeling / Mangsit Sang Brata /
Tapa tri dasekwarsi.
31. Kinen ngalor ngulon mentar switeng Nata / Kidul Tidhar teteki / Guwa somyeng ramya / Timbul lakon kang nyata / Para lakon den tengahi / Swara tlas wungya /
Sang Wasi nuting wangsit.
32. Kang kawahya ing ngarsa mesi carita / Purweng Wahyu Sang Wasi / Ilhaming Pangeran / Kenya asilih warna / Ilmu Sejatining Estri / Tanpi sabda Hyang / Titi rengganing rawi.
33. Pinengetan tedhaking Wahyu kapisan / Mring dutaning Hyang Widdi / Wasi Bratalaya / Ing sanga likur tanggal / Agustus nujweng sutengsi / Sengkalan nira,
Ngles manjing Wasi wani. (1890).


Catatan: SMH. Sirwoko kemudian menyebarkan kepercayaan ini sebagai “Adam Makrifat.”


Wikimapia: Kampung Jagalan, Muntilan.




Ref:

22 Apr 2011

PRAN-SOEH (NGESTHI KASAMPURNAN) (O - T)

O. BERDIRINYA ASTANA WAJA DAN BALE SUCI PRAN-SOEH

 
”Aku iki wis tuwa banget, lha wong besuk 30 September 1953 iki, umurku wis genep wolung puluh lima tahun. Ibumu uga wis widakan tahun, etungku yen ora kleru, suk samana olehku dadi Carik bae wis seket nem tahun."
Itulah yang diucapkan beliaunya pada suatu waktu ketika sedang bersama murid-muridnya. Muridnya sudah banyak sekali tahu, karena sangat dekat dengan beliaunya, dan tahu apa yang sebenarnya diinginkannya. Maka tanpa komando lebih lanjut kemudian para muridnya mengadakan pertemuan-pertemuan untuk membahas bagaimana harus mendirikan atau memulai untuk membangun calon makam beliaunya (astana). Kemudian semua hasil permusyawaratan tadi disampaikan kepada beliaunya, megijinkan dan sekaligus memberikan tempat yang akan digunakan yaitu sawah beliau sendiri. Hari mulai pembuatan astana itu adalah disesuaikan dengan tanggal lahir beliaunya (30 September 1953) saat beliaunya sudah berusia 85 tahun, dengan sedikit keramaian. Kemudian beliaunya juga sekaligus memberi nama tempat itu sebagai Astana Waja, dengan nama resminya Bale Suci Agung Gedung Pran-Soeh Tlaga Maharda. Konon di sawah yang akan ditempati itu ada kolam kecil yang beliau menamakannya Tlaga Maharda, yaitu tlaga induknya nafsu atau Wahyu Sejatining Kakung/Putri, juga hawa nafsu beliaunya sendiri.
  
Pelaksanaan peletakan batu pertama makam tadi didahului dengan keramaian, yaitu dengan menggelar pementasan wayang semalam suntuk dengan lakon Bambang Gunung Rama Pran-Soeh yaitu cerita mengenai lahirnya beliau sebagai Raden Gunung yang dalam pewayangan selanjutnya diganti dengan Bambang. Perayaan itu sempat dihariri oleh petinggi-petinggi dan aparat-aparat pemerintah termasuk juga Prof. Joyodiguna, seorang guru besar dari Universitas Gadjah Mada dan juga para mahasiswanya. Pagi hari setelah pagelaran wayang maka akan dilakukan peletakan batu pertama oleh beliaunya sendiri, yang dalam pelaksanaannya terlebih dahulu dengan semadi dan kemudian batu diberikan kepada murid-murid terkasih dan baru diberikan kepada tukang batu yang sudah siap untuk melakukan pekerjaannya. Pada acara sambutan beliau tidak kuasa untuk menyampaikannya sendiri maka digantikan oleh SHM. Sirwoko dan dilanjutkan oleh Darma Wasita sebagai wakil dari para murid maupun putra-putri beliaunya. Akhir dari seluruh rangkaian acara tersebut adalah diserahkannya dua buah vulpen kepada SHM. Sirwoko dan Marta Sudarsana untuk menandatangani buku pedoman ilmu tiga perkara oleh beliaunya.
 
Dengan adanya para jurnalis yang juga datang pada keramaian itu akhirnya berita ini menyebar kemana-mana, sehingga makin meluasnya ajaran-ajaran beliaunya ini. Beliau sendiri berkata: "Aku bisa mencarake lelakon semene jembare, kuwat mencarake kasuciyan, kuwi saka kasetyane Ibumu, olehe tansah saguh dak ajak ngrembug anak-putu ewon-ewon cacahe saprana-saprene."

 

 
P. PRAHARA DI GUNUNG KIDUL

 
Sampai sekarang orang hanya mengingat sesuatu apabila disebutkan nama Gunung Kidul, daerah gersang yang orang-orangnya banyak yang kelaparan. Itu saja! Benarkah seperti itu? Berikut ini adalah kisah tersebut.

 
Memang waktu itu Gunung Kidul sedang dilanda prahara, seakan-akan hujan enggan turun lagi disana, sehingga banyak pepohanan yang mati, ataupun tidak mau berbuah. Dan tanaman pertanianpun tidak menghasilkan apa-apa. Rama RPS. Sastrosoewignyo meminta agar Atma Wiharja dan Darmajadisastra membeli seekor burung perkutut dari Trawana, seberapapun harganya dan bagaimanapun wujudnya agar dibeli. Dan benar ada seorang tua yang membawa seekor burung perkutut, dan harganya ternyata murah saja. Kemudian dibeli dan diantarkan ke Jagalan untuk diberikan kepada beliaunya. Kemudian setelah diterawang oleh beliaunya, desa Trawana pada waktu itu sedang menjadi pusat berkumpulnya maklhuk-makhluk halus (jim/ lelembut) di Gungunkidul.

 
Untuk menetralkan hal itu kemudian Rama RPS. Sastrosoewignyo memerintahkan kepada murid-muridnya untuk segera mengadakan perkumpulan-perkumpulan yang berpindah-pindah yang disertai dengan musik Jawa (klenengan/uyon-uyon) tetapi dengan gamelan yang tanpa gong. Perkumpulan itu dimulai dari Semanu, sebagai penabuh kendang adalah Sastropuro setelah itu boleh siapa saja, tetapi dalam setiap pertemuan itu harus ada: Nyi. Karya Sukarwa (ibu SMH. Sirwoko), Dibya Puspita (adik SMH. Sirwoko) dan Nyi Karta Hudaya (ibu Sastropura). Gending yang harus dimainkan Srikaloka dengan senggakan leh-olehe lonthong, selanjutnya boleh apa saja. Kemudian gending Sriwidada dan Lombo Eling-eling yang dibuka dengan Sinom Logondang. Begitulah setiap ada perkumpulan dan Darmawasita harus menunggui sampai selesai.

 
Apa makna dibalik semua itu, bisa dijelaskan berikut ini. Dari senggakan Leh-olehe Lonthong adalah buah dari suksma, bisa dikatakan mati dengan sempurna apabila dapat melepaskan bungkus lontong (nyawa), sedangkan lontong itu sendiri adalah suksma yang harus lepas dari nyawa, maksud sebenarnya adalah meninggalkan hawa nafsu. Dari tempat tinggalnya di Jagalan Rama RPS. Sastrosoewignyo, bisa merasakan bahwa banyak murid-muridnya dari golongan wanita yang suksmanya terpikat oleh lelembut dan akan dimasukkan ke dalam kawah (song) yang kemudian ditutup dengan batu besar.

 
Dengan adanya hal yang demikian itu, Rama RPS. Sastrosoewignyo menjadi sangat bersedih mendengarnya, terutama jika dilihat dari penglihatan batin beliau. Untuk itu beliau menyempatkan untuk datang ke Gunung Kidul ditemani oleh Ong Sioe Gien, langsung menuju rumah anaknya di Jeruk. Tentu saja keberhasilan seorang pria/suami adalah tidak terlepas dari dukungan sang istri, dengan demikian maka bila para wanita atau istri-istri di tempat itu bermasalah bisa mejadikan rusaknya keluarga, lebih besar lagi rusaknya masyarakat. Istri adalah pendukung suami dalam segala hal baik lahir maupun batin. Untuk persyaratan tumbal maka beliau menggunakan tongkat (teken), yang kemudian para murid-muridnya supaya berpegangan pada ujung tongkat tadi, yang tidak kebagian cukup dengan berpegangan pada orang yang telah memegang tongkat itu dan seterusnya sampai semuanya. Kemudian beliaunya bertanya yang harus dijawab oleh SMH. Sirwoko sebagai wakil murid:
"Kene iki rak dudu Trawana ta?”
"Sanes, mriki sanes Trawana, ngriki punika Semanu."  
"Iya saiki padha mentasa, ayo dak tuntun nganggo tekenku."

 
Memang hal seperti itu hanya seperti permainan anak-anak saja, tetapi itulah syarat yang harus dikerjakan. Setelah itu kemudian beliaunya memberi keterangan banyak tentang sebenarnya apa yang terjadi. Dikatakannya bahwa jin/ makhluk-makhluk halus itu mempunyai banyak sekali cara untuk memikat korbanya. Orang-orang yang sudah terpikat kemudian suksmanya ditempatkan pada kayu-kayu besar, batu-batu besar, gowa-gowa dan juga rumah-rumah yang tanpa tiang penyangga. Diceritakan juga tempat-tempat yang dapat dikunjungi maupun yang tidak.

 
Menjelang peringantan 85 tahun usia beliau, Rama RPS. Sastrosoewignyo berkata:
"Yen mangkene iki trima ora mangerti dhawuhe Gusti Allah, dhawuh ing tahun iki tansah mung anggelakake aku terus-terusan. Nanging yen dak gagas, saya yen aku ora meruhi dhawuh-dhawuh iku mau luwih dhisik, mesthi luwih gedhe gelaku, dadi luwih apik mangerteni dhawuh luwih dhisik tinimbang ora."

 
Murid-murid beliau hampir tidak tanggap mengenai hal itu, dan ternyata tidak begitu lama setelah itu menantu beliau (istri R.Yasir) meninggal, diikuti dengan cucunya, anak dari Marta Asmara. Tidak hanya sampai disitu saja, kesedian masih terus berlanjut yang bisa terlihat dari kata-kata beliau setiap hari: "Baya bakal ana apa maneh?”
Menjelang kepulangan beliau ke Jagalan: "Kangjeng Nabi Suleman, lan uga Prabu Anglingdarma, padha bisa lan mangerti rerembuganing kutu-kutu walang atag. Ing Layang Menak nyebutake yen Kangjeng Nabi Mohamad bisa ngandikan lan Gunung Kud. mangkono uga Pustaka Raja Purwa (Sunan Kalijaga) bisa rerembugan lan tugu waja. Anak Putuku, murid-muridku kudu bisa rerembugan karo manuk perkutut iki. Mulane aku manut Darmawasita, perkutut telu iki endi kang dakgawa, gelem melu aku, sesuk mulihku jam sanga.”

 
Dengan ujian yang sangat mendadak dan pendek (hanya semalam) Darmawasita harus berpikir keras. Seandainya toh sudah pernah disuruh untuk menanyai kerikil yang digenggam beliaunya, itu adalah dengan waktu yang tidak terbatas hingga berbulan-bula. Dari petunjuk Gusti Allah kemudian Darmawasita bahwa perkutut punya SMH. Sirwoko yang harus dibawa, sebab itu adalah benar milik beliau. Terkait ketika waktu itu SMH. Sirwoko memintakan kesembuhan untuk anaknya Susasti yang sakit keras dan sudah dibawa ke Jakarta ditangani oleh dokter-dokter disana tidak juga sembuh. Dan perkutut dari Marta Suwita dibawa boleh ditinggal juga nggak apa-apa, tetapi sebaiknya dibawa untuk melegakan hatinya. Tetapi yang satunya benar-benar tidak boleh dibawa karena tidak akan tahan menjadi piaraan beliaunya. Sebenarnya semua itu sudah dipahami oleh beliaunya, tetapi perlu juga ditegaskan untuk keperluan makrifat.

 
Tak lama setelah itu, ibu (istri Rama RPS. Sastrosoewignyo) sakit boyok, mungkin juga cuma terkilir, sehingga hanya berbaring saja. Banyak sudah ahli-ahli kesehatan maupun dukun-dukun yang datang untuk mengobati, tetapi tidak ada yang manjur. Rama RPS. Sastrosoewignyo sendiri tidak berbuat apa-apa karena katanya baru mendapatkan hukuman dari Gusti Allah. Meskipun sebentar-sebentar bisa juga bangun untuk menemui tamu, juga apabila mau meminta (nyenyuwun) kepada Gusti Allah yang tentu saja atas bimbingan beliaunya. Hal ini membuat rumah beliaunya sepi tidak seperti biasanya, dan putra-putrinya banyak ada juga yang menengok. Apa tidak menjadikan olok-olok, istri sendiri saja sakit tidak diapa-apakan kok malah memberikan pertolongan (tombo/syarat/tumbal) kepada orang lain. Orang yang demikian itu tentu saja tidak mengerti mana yang sudah menjadi kodrat Gusti Allah, dan mana yang terpengaruh oleh makhluk jahat, dan mana-mana yang masih bisa dirobah atau tidak.

 
Saat itu juga sudah waktunya untuk perletakan batu pertama Bale Suci Agung Gedung Pran­Soeh Tlaga Maharda, sebab Astana Waja sudah hampir selesai, hanya tinggal menghaluskan saja. Acara ini dirancang untuk sederhana saja, mengingat beliaunya baru saja kehilangan anggota keluarganya, yang penting terlaksana. Setelah jatuh masanya, malam hari sebelum perletakan batu pertama banyak yang tirakatan di Tlaga Maharda, pagi harinya Rama Rama RPS. Sastrosoewignyo (tidak bersama istri) dan disertai beberapa murid terkasihnya berangkat ke Tlaga Mharda. Perletakan batu pertama dilakukan oleh SMH. Sirwoko dan Martaradana yang menggunakan busana Jawa Mataraman. Beliaunya sendiri menggunakan destar caplangan yang masih baru, jas hitam dan kain yang dihiasi dengan rangkaian bunga melati yang ujungnya bunga kanthil. Semua itu tentu saja atas petunjuk beliau, dan menjadikan pertanyaan buat SMH. Sirwoko yang disertai isak tangis setelah usai acara itu.

 
Astana Waja yang tinggal sedikit lagi selesai, pembangunannya dilakukan dengan cara gotong-royong. Banyak para pemuda-pemudi yang ikut membangun Astana Waja dengan kebisaannya sendiri, ada yang bisanya hanya mencari kerikil, atau hanya mencari pasir di kali, menumbuk batu bata menjadi semen merah dan lain sebagainya. Toh akhirnya selesai juga bangunan Astana Waja itu, dan semuanya merasa gembira bisa ikut campur memberikan baktinya yang semoga nanti bisa menjadikan berguna bagi anak cucu.

 
Sakit Ibu (istri Rama RPS. Sastrosoewignyo) makin lama makin bertambah parah. Kemudian putra-putrinya mengharapkan agar dirawat di Rumah Sakit, beliaunya mengijinkan kemudian dirawat di RS. Panti Rapih, Yogyakarta. Namun demikian penyakitnya tidak kunjung juga berkurang, maka diputuskan untuk dirawat di rumah saja. Hari Kemis Legi tanggal 23 Desember 1954 jam 13.00 Ibu meninggal, dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Dengan seketika berita itu menyebar ke seluruh penjuru pelosok, terutama tempat dimana putra-putrinya berada. Jenazah kemudian diurus, dan mulai saat itulah kemudian beliaunya membuat beberapa peraturan mengenai tata-cara memperlakukan jenazah.

 
Rama RPS. Sastrosoewignyo masih dalam keadaan yang berduka, dan selalu bersedih apalagi ketika ada muridnya yang datang memberi ucapan bela sungkawa sambil menangis, beliaunyapun ikut menangis pula. Yang kemudian mejadikan beliaunya agak bangga adalah kenyataan bahwa tamu yang datang sangat banyak, untuk hal itu beliau berkata: "Samono katresnane anak-putuku marang biyunge. Lha iya biyunge ta, kang sok ngrembug, aku besuk malah durung karuwan."

 
Setelah prosesi selesai SMH. Sirwoko memberikan sedikit pembicaraan, kemudian jenazah diangkat oleh putra-putri, kemudian digantikan sesepuh organisasi dan akhirnya dibawa ke Astana Waja. Yang terdepan adalah barisan pemuda-pemudi dengan karangan bunga, lemudian jenazah, yang diikuti oleh saudara-saudara dekat dan sesepuh organisasi, yang terakhir adalah khalayak ramai. Dalam peringatan meninggalnya Ibu juga banyak putra-putrinya yang datang, dan pada saat itu pula batu nisan buat tanda segera dipasang tumpang tundha 9, yang mengingatkan Ibu mempunyai bakti yang sangat besar dalam membantu penyebaran ilmu Gusti Allah.

 
Ketika Pemerintah Pusat mengadakan Panitya Penyelidikan Aliran Kepercayaan Masyarakat, yang umumnya disebut dan disingkat Panitya PAKEM, maka ketika menyebut-nyebut mengenai keyakinan/ kepercayaan/ kasuksman, dengan tidak ragu-radu lagi beliau memberi keterangan: "Bab rochani, donya boten wonten ingkang sumerep nyataning rochani punika, mekaten ugi bab nyataning Gusti Allah, kajawi murid-murid kula. Yen atur kula punika dora, kula purun dipun tengkel-tengkel gulu kula."

 
Dan sudah menjadi kepribadian beliaunya, akan menghormati siapa saja yang memang menghormati dirinya, sebaliknya akan sangat menghina apabila orang itu juga menghinanya. Dan untuk hal ini beliau berkata: "Murid-muridku, yen wani aja wedi, dadi sepi ing pakewuh, yen wedi aja wani kareben slamet.”

 

 

 
Q. PERINTAH UNTUK BERTUMBAL DAN SYARAT-SYARAT LAIN

 
Belum juga setahun Ibu (istri Rama RPS. Sastrosoewignyo) meninggalkan beliaunya, tetapi beliaunya ingin punya pendamping lagi. Ketika putra-putri beliau minta tolong kepada para Sesepuh Organisasi untuk mencegah hal itu makanya beliaunya berbicara: "Aku iki sadrema nindakake dhawuhe Gusti Allah, kapriye kok ora padha mangerti, aku rak wis suwe yen iket-iketan caplangan nganggo sidhangan jambon, aku rak gumagus to? Dhek perletakan batu pertama Bale Suci Agung Gedong Pran-Soeh, aku rak nganggo kembang roncen, ta? Kapriye kok padha ora tanggap yen bakal ana penganten? Karo maneh aku iki nyambut gawe ngawula Negara, tamuku akeh saka pegawe-pagawe pamarintah, sapa kang bakal ngrembug? Lan sing dak weruhi, yen uwong tuwa nandhang suker-sakit, anak durung mesthi rahap kaya bojo, luwih-luwih yen mbuwangi kotoran. Saya yen ngelingi anak-putuku/murid-muridku kang ewon cacahe, lha yen ana anak-putuku wadon kang teka, sing nemoni sapa? Yen aku sing nemoni andhak ora wagu? Apa yen ana tamu tak tolak? Aku sruwa-sruwi luput lan ora kebeneran."

 
Sebenarnya itu tidak begitu saja terjadi. Dengan meninggalnya Ibu, Rama RPS. Sastrosoewignyo amat sangat berduka, dan tetap dengan laku prihatin yang maksudnya agar suksma Ibu lekas bisa kembali ke alam kasampurnan (manunggal dengan Gusti Allah). Rama RPS. Sastrosoewignyo sering berkata, kecintaan terhadap anak istri itu jangan setengah-setengah, harus sampai ke alam batin (alam halus). Istri beliaunya adalah pemberian Gusti Allah ketika beliaunya minta waktu itu, dan sudah lama sekali bersatu sampai mempunyai anak cucu yang tidak terbilang, begitu juga dalam hal menyebarkan ilmu Gusti Allah. Namun demikian Ibu belum bisa sampai tamat/khatam dalam mempelajari ilmu yang tiga perkara itu, dengan demikian harus diruwat. Ketika dalam pengruwatan itu (memisahkan antara nafsu dan suksma), beliaunya mengantarkan suksma suci itu pecahan nafsu itu berwujud wanita lain yang secara hakiki adalah milik beliau. Dan ketika beliaunya mohon petunjuk lebih lanjut, maka diharuskannya untuk menikahi wanita itu. Dan wanita yang tergambar dalam perintah Gusti Allah adalah Ny. Dasinah, janda yang sudah berusia 60 tahun. Meskipun toh akhirnya belum dapat diperoleh suara yang bulat.

 
Dan ketika berada di rumah salah satu siswanya Martasuwita di Semanu, banyak sakali para siswanya yang berkesempatan untuk datang berbakti, dan juga banyak sekali yang memberikan tanggapan, pengalaman-pengalaman maupun ilmu-ilmu yang berkenaan dengan perkawinan usia tua. Dan setelah lewat tengah malam dan hampir pagi, ketika tinggal sedikit yang masih ikut perjamuan itu maka beliaunya berkata: "Aku golek bojo kuwi ora kaya butuhe uwong enom-enom. Tak kandhani ya, yen uwong lanang sing wis ngumur 75 tahun tahun munggah, kuwi wis ora mbutuhake perkara iku. Aku iki wis luwih saka 10 tahun, wis ora nglakoni. Yen ora ngandel ambahen. Dene yen uwong wadon umur 57  tahun tekan 60  tahun iya wis ora apa-apa. Dak pujek-pujekake anak-anakku duwe umur dawa kaya aku, kareben bisa nekseni dhewe omongku goroh apa temenan. Embuh bener, begja apa cilaka, bathi apa tuna, yen uwong kuwi wis nindakake dhawuhe Gusti Allah. Lan apa ana ta, Gusti Allah kuwi murih sangsara lan dhawuh supaya tuna? Apa banjur aran ala ta, yen uwong tuwa butuh urip rerukunan kanthi cara-cara kang absyah miturut peraturane Agama? Saiki aku mung manut Darmawasita sakancane, kapriye aku iki kudune miturut dhawuhe Gusti Allah. Awak-awak !!”

 
Beliaunya berkata demikian tetapi dengan tidak raut muka yang dipaksakan, tetapi biasa saja dan sedikit tertawa atau bercanda. Hal semacam ini menjadikan orang-orang yang masih terjaga semakin merasa jengah. Sehingga mereka semua para Sesepuh Organisasi mengupayakan hal apa yang terbaik, tentu saja dengan cara minta petunjuk dari Gusti Allah. Dan setelah banyak para Sesepuh yang mendapatkan petunjuk yang jelas, maka kemudian mereka menyetujuinya dengan suara bulat, tentu saja dengan pertimbangan-pertimbangan bahwa beliaunya adalah orang yang tidak seperti kebanyakan, dan pasti ada sesuatu yang harus dikerjakan dan belum selesai. Beliaunya sanggup untuk menjalankan lakon apa saja yang kalau memang itu adalah perintah Gusti Allah.

 
Marta Asmara (menantu) kemudian mengatarkan beliaunya pulang ke Jagalan, dan kemudian mendiskusikan hal itu terhadap seluruh keluarga besar Rama RPS. Sastrosoewignyo, dan semuanya sudah menyetujui tanpa halangan apapun. Semuanya tentu karena sudah menjadi kehendak Gusti Allah semata. Dari pihak penganten wanita ketika dihubungi juga semuanya menyetujuinya dan tidak ada masalah.

 
Berhubung suksma Ibu almarhum sudah medapatkan kesempurnaan dengan kesaksian, jadi tidak harus menunggu sampai 330 hari dari ketentuan seseorang untuk kawin bila ditinggal mati. Dan beliaunya kemudian juga memerintahkan apabila ingin meruwat suksma orang yang sudah meninggal tidak perlu lama-lama cukup sampai 110 hari saja, karena apabila setelah waktu itu belum juga berhasil, untuk mendapatkan keberhasilannya juga susah. Meskipun demikian beliaunya meruwat ayah sendiri sudah 40 tahun dan tetap akan dilanjutkan.

 
Perhelatan pernikahan Rama RPS. Sastrosoewignyo akan dilaksanakan oleh para Sesepuh Organisasi. Ijab-qobul dilaksanakan di rumah SMH. Sirwoko di Semanu. Dan tidak banyak upacara adat hanya sekedar saja dan sangat sederhana. Tetapi malam harinya diadakan pertunjukan wayang dengan dalang adalah siswa yang sudah (baru saja) lulus/katam dalam mempelajari ilmu-ilmu beliaunya. Dalang itu adalah Sastrabusana dan lakon yang dibawakan Bratalaya Janji, sebuah lakon yang dianggap cukup penting untuk menggambarkan ilmu-ilmu yang diajarkan Rama RPS. Sastrosoewignyo. Pada akhirnya dalang ini sering diundang untuk mengadakan pertunjukan di berbagai tempat.

 
Setelah kembali ke Jagalan Rama RPS. Sastrosoewignyo tinggal di rumah istri yang baru, yang tidak jauh dari tempat tinggal sebelumnya (sebelah Utara). Meskipun demikian dimanapun beliau berada di situ pula murid-muridnya akan berkumpul, dan beliaunyapun tidak selalu berada di rumah istrinya, kadang dan sering berada di rumahnya sendiri. Katakanlah diibaratkan seperti tawon madu, yang kemanapun rajanya hinggap maka di situ akan menjadi sarangnya, demikian pula beliaunya ini, sebenarnya murid-muridnya hanya ingin bertemu beliaunya saja, ya kalau sudah ketemu ya sudah meskipun kadang-kala harus menempuh suatu perjalanan yang cukup jauh.

 
Ibu (istri baru) mempunyai perangai yang sangat berbeda dengan istri beliau sebelumnya. Ibu sangat mendukung atas semua yang dilakukan beliaunya dan hampir tidak pernah membantah (istri beliau yang sebelumnya sering membantah, sehingga hingga akhir hayatnya tidak bisa meng-katam-kan ilmunya). Dengan demikian dengan waktu yang cukup singkat akhirnya istri beliau segera katam. Dan ini adalah menjadikan pekerjaan beliaunya lebih ringan, dimana banyak hal bisa diberikan kepada istri untuk diselesaikan. Lebih-lebih murid-muridnya yang wanita, maka setelah dibantu oleh ibu akhirnya bisa katam. Tentu saja hal inilah yang dimaksud bahwa petunjuk Gusti Allah adalah tidak akan pernah menjerumuskannya. Hal ini tentu saja menjadikan semakin cintanya terhadap beliau dan istrinya untuk para murid-muridnya. Dan di alam haluspun dapat dijumpai pula bahwa kehadiran Rama RPS. Sastrosoewignyo selalu disertai ibu. Dan sebaliknya pula apabila para siswanya memerlukan hadir dalam alam halus kepada beliaunya maka selalu pula dijumpainya ibu. Dan siswa yang seperti ini adalah yang dinamakan katam yang benar-benar katam karena dapat saling bersaksi. Yang demikian ini Rama RPS. Sastrosoewignyo sering mengatakan: ”Kowe wis mlebu stambuk, iku caraha lahire.”

 
Dengan perkawinan ini dan perkembangan yang seperti itu tentu saja murid-murid beliau semakin lama semakin bertambah banyak, dan rumah istrinya tidak dapat lagi menampung, maka diperlukan untuk diperluas. Dan belum ada perintah sedikitpun dari beliaunya, maka murid-muridnya yang berasal dari Kali Angkring dan Bandung Paten sudah mengetahui hal itu, maka tidak banyak bertanya lagi langsung semuanya dikerjakan. Dengan rumah yang sudah semakin besar maka beberapa hal menjadi lebih mudah, disamping itu ibu juga sudah biasa membantu untuk hal yang kecil-kecil. Tinggal urusan yang besar-besar saja yang harus dipikirkan oleh beliaunya, anatara lain bagaimana perkembangan dunia, dan ketentuan-ketentuan apa yang harus dilakukan hal ikhwalnya dengan ilmu Gusti Allah.

 
Bagi Rama RPS. Sastrosoewignyo, untuk mengetahui muridnya yang sedang tertimpa halangan adalah mudah. Halangan disini berarti muridnya sedang berlaku menyimpang karena keduniawian. Apabila ada muridnya yang tidak pernah hadir dalam alam halus meskipun setiap saat datang dalam alam wadag, bisa dipastikan bahwa muridnya itu sedang berlaku menyimpang, namun demikian walaupun muridnya tidak pernah hadir secara nyata di alam wadag namun selalu hadir di alam halus, bisa dipastikan tidak terjadi apa-apa.

 
Dan untuk memudahkan murid-muridnya agar lekas dapat menyelesaikan ilmunya (katam) dan akan mendapatkan jalan terang, maka beliaunya kemudian memberikan berbagai cara untuk menempuh hal tersebut, dan hal itu tentu saja setelah diperolehnya di alam halus, adalah antara lain:
a.   Sekali waktu pernah seorang muridnya yang ingin cepat katam maka agar supaya minta syarat kepada Martaradana di Ngleri.
b.   Dan juga pernah agar seorang muridnya yang belum katam dan sama sekali belum menyaksikan nyawa (hawa nafsu) agar minta syarat kepada Darmawasita di Kranon, Wonosari. Yang disertai pula dengan hal-hal/barang-barang  yang harus dibawa dan cara menggunakannya. Dan yang seperti itu tidak hanya sekali, akhirnya banyak orang yang datang ke rumah Darmawasita sehingga polisi mencurigainya. Namun demikian bisa dibuktikan bahwa itu bukan kegiatan yang menyimpang.
c.   Rama RPS. Sastrosoewignyo juga mengatakan bahwa kebun milik Marta Suwita di Semanu, bagian sebelah Barat rumah bisa digunakan untuk besemadi (tidur) yang dengan ini maka akan terkabul permintaannya. Dan juga bagian sebelah Barat sumur milik Poejosoewito di Jeruk bisa dipakai untuk mendapatkan ketentraman.
d.   Pernah juga ada seorang muridnya yang dikasihi, tetapi dianggap melakukan kesalahan besar. Kepada murid tersebut beliaunya menyuruh untuk mandi di kali yang ada di pinggir jalan dengan memakai kain dan pakaian jelek. Kain tadi agar dijemur agak jauh dari tempat mandi sehingga diambil orang. Dan kalau mandi malam agar kain yang basah dipakai untuk selimut sehingga kering dengan sendirinya. Hal seperti itu harus dilakukan berulang-ulang. Akhirnya harus berpindah-pindah rumah, yang terakhir harus mengabdi pada SMH. Sirwoko serta Ong Sion Gien. Tetapi apabila semua yadi dijalankan dengan ikhlas maka yang dicaripun akhirnya didapat juga, pengakuan dari beliaunya dan suksmanya sendiri bisa disaksikan.
e.   Rama RPS. Sastrosoewignyo menyuruh apabila ingin mendapatkan jalan terang agar mau cuci muka di sumur Jala Tunda (dekat Asatana Waja). Kalau ingin cepat bertemu dengan hawa nafsu supaya mandi di Tlaga Maharda, dan kalau ingin ketemu dengan Utusan harus menghafalkan tembang Pangkur berikut ini: “Kawula Bambang Senggana, Prabancana nenggih Rama Dayapati, Anjani ingkang sesunu, Wangsul teja-leksana, Radyan kalih sinten sinambating arum, Yen sira takon maring wang, Dyan Legawa aran mami.”  
f.    Dan beberapa tempat yang sifatnya lokal adalah: buat murid-murid yang berada di sebelah Barat kota Yogyakarta dengan syarat mengelilingi pasar Godean, untuk murid yang ada di kota Yogyakarta adalah alun-alun Utara sebelah Tenggara. Murid yang di Semanu adalah kebun milik SMH. Sirwoko sebelah Tenggara, dan Kali Pangkah samapai Kali Suci. Tirakat atau laku prihatin tadi harus ingat akan perintah beliaunya yaitu tapa ngrame ing guwa samun, jangan sampai laku yang demikian itu diketahui oleh orang lain, maka sebaiknya lakukanlah di malam hari.
g.   Karena sifat manusia yang kadang-kadang baik kadang-kadang buruk, kadang-kadang inget kadang-kadang tidak, maka kemudian beliaunya menetapkan orang-orang yang dapat menentukan seseorang sudah katam atau belum adalah Darmawasita, Martaasmara (menantu), Marta Wiyogho dan Martasuwita. Untuk daerah Kedu hanya Kamil dan Pujiya. Daerah kota Yogyakarta untuk laki-laki Ong Sioe Gien, wanita Ny Ong Sioe Gien. Ny Poedjosoewito dan Ny Martasuwita untuk kaum wanita di Gunung Kidul. Meskipun hal yang seperti ini itu sudah jelas ada dalam petunhuk yang jelas, tetapi adakalanya manusia itu selalu berubah karena sesuatu hal. Kadang-kadang seseorang bisa saja menemui masalah yang menyebabkan berpikir kurang sempurna, bila hal itu sedang menimpa maka seyogyanya janganlah ketentuan itu diteruskan, adalah untuk menjaga sesuatu hal yang tidak sewajarnya terjadi, misalnya orang tersebut kemudian menjadi gila dan lain-lain, yang menjadikan kerugian buat orang lain.

 
Orang-orang yang sudah katam dan sudah diberi wewenang khusus ini bisa diibaratkan seorang anak yang sudah disapih, yang tidak perlu lagi mengharapkan sesuatu dari beliaunya, dan hal ini tentunya akan menjadikan beban beliaunya lebih ringan tentunya di dalam batin. Dan bisa dikatakan kalau sudah begitu itu mempunyai rasa belas-kasih yang tinggi terhadap beliaunya.

 
Ibu (istri baru) dalam hal kasih sayang terhadap anak-anak bisa dikatakan sudah seperti anak sendiri. Dan ketika punya hajat untuk menikahkan anaknya yang bungsu yang bernama Rr. Tun, yang mendapatkan Kardana putra dari Secaharjana dari Tebon, maka ibu dan beliaunya tetap sebagai tuan rumah dan sedikit dibantu oleh putra-putri lainnya. Hajat yang kali ini sangat meriahnya, dari mulai pasang tarub hingga selesainya seluruh rangakaian acara seminggu lamanya dan para tamu datang dengan tak henti-hentinya.

 
Pertunjukan wayang purwa hingga dua hari dua malam dengan mengambil lakon yang pertama Gatutkaca Rabi, dan yang kedua Wisanggeni Rabi. Masih ditambahi satu malam lagi yaitu sandiwara Jawa (ketoprak) dengan lakon Wiropati yaitu seorang pahlawan yang gigih melawan Belanda pada saat perang Diponegoro. Tentu saja hal ini punya maksud agar anak cucu mempunyai rasa cinta terhadap tanah air, sekaligus mengingat akan leluhur beliaunya Kyai Wiropati, dan semua itu terselenggara atas petunjuk dari Gusti Allah. Rama RPS. Sastrosoewignyo mempunyai enam orang dan empat adalah berasal dari murid-murid beliau sendiri. Seseorang akan sangat merasa sangat beruntung apabila menjadi besan beliaunya.

 

 
R. MENGGANTI KATA GUSTI ALLAH MENJADI RAMA PRANSOEH

Pada suatu hari Rama RPS. Sastrosoewignyo mendapatkan petunjuk dari Gusti Allah, bahwa Tlaga Maharda itu mempunyai saluran pintas (saluran tembus) yang bernama Sendhang Nirmayasandi yang berada di kebon beliau sendiri dekat jembatan Kali Lamat, Jagalan. Sebenarnya kebon itu akan diberikan kepada putra beliau R. Wenang. Di dalam petunjuk tadi mengumpamakan bahwa Sendhang Nirmayasandi di dalam cerita wayang adalah sebagai Cibuk Cangkiran, yaitu Padhepokan milik Dewi Anjani (Ibu Anoman). Sedangkan Anoman itu adalah juga merupakan gambaran Sri yang sedang mendapatkan hukuman dari dewa. Sehingga pada akhirnya nanti tempat itu bisa digunakan untuk tirakatan buat murid-murid beliau yang wanita apabila mendapatkan masalah, dan juga agar cepat selesai dalam mempelajari ilmu-ilmunya.

Rama RPS. Sastrosoewignyo mempunyai keinginan untuk membuatkan rumah putra beliau R. Wenang di tempat itu juga. Tetapi para murid-murid beliaulah yang akhirnya membuat rumah itu dengan cara bergotong royong, terutama untuk kaum perempuan, karena mengingat bahwa tempat itu adalah akan mempunyai fungsi dan nilai yang sangat tinggi pada akhirnya. Mereka semua bekerja dengan cara apa yang bisa mereka lakukan dan sangat disadari bahwa pekerjaan itu merupakan kebutuhan mereka sendiri, misalnya ada yang hanya mengangkut kerikil, mengangkut pasir, atau apa saja. Namun demikian mereka bekerja tidak didiamkan begitu saja, setiap harinya ibu selalu memasak di dapur untuk keperluan makan mereka semua. Rama RPS. Sastrosoewignyo sendiri memang tidak menginginkan apabila rumah itu jadi seluruhnya atas pekerjaan laki-laki, karena ada pepatah bahwa seorang laki-laki (suami) seharusnya memang mencari nafkah dan seorang perempuan (istri) adalah yang mengelola nafkah tadi, dan keduanya harus seimbang dan tidak boleh saling menggerutu. Dan Rama RPS. Sastrosoewignyo juga tidak menginginkan apabila rumah itu jadi atas prakarsa (biaya) seseorang atau beberapa orang saja, karena rumah itu pada akhirnya nanti merupakan rumah buat orang banyak, jadi pembuatannyapun harus demikian.

Selain masalah-masalah ke-suksma-an, Rama RPS. Sastrosoewignyo juga sering memberikan perintah-perintah yang berhubungan dengan tata-krama dan kesusilaan kepada murid-muridnya:

  1. Tidak diperkenankan berpakaian dengan asesoris berlebihan, dan lebih-lebih untuk bagian yang mestinya tertup rapat, maka harus benar-banar tertutup.
  2. Tidak diperkenankan tertawa hingga terpingkal-pingkal keras sekali, dan fas foto tidak diperbolehkan kelihatan giginya, dan ganti-ganti gigi palsu.
  3. Tidak diperkenankan makan dengan tangan kiri kecuali berhalangan, dan makan sambil jalan ataupun jajan di sembarang tempat.
  4. Tidak diperkenankan berkata kasar dan porno.
  5. Berpakaian harus bersih dan lengkap serta prasojo, sikat gigi sebelum tidur. Untuk anak muda tidak boleh sampai keterlanjuran dalam berbicara.
  6. Tidak diperkenankan berbuat semena-mena di atas tempat tidur, tidak tahu bahasa isyarat, mengumbar waktu serta bermusuhan.

Masih banyak lagi masalah-masalah kesusilaan yang dilarang ataupun yang harus dilakukan, misalnya taruhan dan berjudi yang sampai mendarah daging, madad, narkoba, dan lain-lain. Kemudian harus selalu giat bekerja, untuk hal ini beliau memberi contoh: "Uwong urip kudu ngrembug uwonge, iya kuwi kudu nyambut gawe sakuwat-kuwate, kanggo nyandang, mangan, kanggo kabutuhan ngrembug tetanggungane. Dene yen wis mapan turu ngrembug uripe/suksmane, nyuwun pangapura lan pasrah marang Gusti Allah, apa dene nyadong dawuh, kareben oleh pepadang. Esuke ora klera-kleru makartine. Conto nyambut gawe ngenger melu negara kuwi aku, kongsi meh sawidak tahun lawase ora tau kaluputan. Besuk yen aku wus ngemohi aku tumuli bali, gaweyanku wus rampung. Kang nyambung lelakonku iya wus akeh."

Tentu saja yang mendengarkan (murid-murid dan anak cucu) waktu itu menjadi geragapan berhubungan dengan akan pensiunnya beliau dan pulang (mati). Dan untuk hal itu maka beliaunya berkata:
"Yen aku bali aja padha kuwatir, anak putuku rak mung ora bisa metuki aku ana ing alam wadag, besuk lan sateruse bisa kepetuk suksma suciku ana ing alam alus. Kabeh rak wis pada duwe piranti kang kanggo metuki aku. Wruhanamu aku sanajan wis bali, bakal tansah nganglang ana ing alam antara, perlu ngayomi anak putuku kabeh. Rak pada isih eling marang Bratalaya janji ta? Aku wis omong yen Utusane Allah iku duwe urip langgeng tan kena rusak, iya iku kang kudu kok goleki. Aja nyembah marang kijing, lan aja nyembah foto, lan sing perlu pada anggolekana uriping gambar dak tanggung mesthi ketemu. Eling lho aku wis gawe Resi Bratanirmaya kang raine abang, iku kang bakal ngadili sakabehing umat, aja kleru, yen kleru bisa kleru uripe lho."

Beberapa bulan kemudian ada perubahan dalam tatacara bersembahyang, Adam Suci Utusane Allah diganti menjadi Rama Resi Pran-Soeh. Rama RPS. Sastrosoewignyo kepada murid-muridnya terkasih kemudian memerintahkan untuk mencari Dalang Mengger yang mempunyai darah putih. Dan apabila sudah ketemu agar mencari Roh Suci sebelum adanya jagad (dunia), dan sebelum turunnya Adam di bumi. Dan setelah itu agar mencari Yang mejadikan jagad dan seisinya, yaitu bibit para manusia, bibit hewan-hewn di daratan, bibit hewn-hewan di air, bibit tumbuh-tumbuhan dan juga gunung. Perintah-perintah tadi agar supaya dicari di alam semadi tidur/impan/alam halus, dengan kata lain secara ke-suksma-an. Selanjutnya agar mencari Gusti Allah dan siapa yang mempunyai cahaya-Nya. Beberapa murid yang terkasihnya sudah mendapatkan itu semua, dan akhirnya mereka memerlukan untuk bertemu beliaunya. Setelah berkumpul Rama RPS. Sastrosoewignyo berkata:

"Rak wis pada ketemu ta? Rak ora pada pangling to? Apa ana kang ketemu Gusti Allah? Mung ketemu sapa? Sapa kang nduweni cahya iku? Apa Gusti Allah apa sapa-sapa?”

Semua yang menghadap saat itu, memberikan saksi bahwa sebenarnya di alam terakhir dalam alam kesucian sama sekali tidak dapat ditemukan yang disebut Gusti Allah, dan yang dapat dijumpai hanya suksma suci beliaunya, dengan sumpah. Mulai saat itu juga istilah Gusti Allah diganti Rama Resi Pran-Soeh dengan dasar apa yang sebenarnya ada dalam alam halus tadi. Rama RPS. Sastrosoewignyo berkata:
"Yen jagongan kaya ngene iki, ana ing alam wadag kowe ngarepake aku, iya kuwi Rama Resi Pran-Soeh Sastrosoewignyo. Yen ana ing alam antara kowe iya alusmu (suksma suci) arep-arepan karo Utusane Rama Pran-Soeh iya iku Rama Resi Pran-Soeh. Dene yen ana ing alam pungkasan (akerat), suksma sucimu adep-adepan karo Rama Pran-Soeh, bisa malah manuggal pisan, samono mau uwong sing suci temenan lan katrima. Ana ing alam Antara lan alam Kasucian (alam Kuning) rak iya nganggo nyebut Rama-rama, kaya ana ing alam donya ta? Iya Rama Pran-Soeh kuwi kang kagungan Cahya. Utusan iya Utusane Rama Pran-Soeh, yen Panutan iya Panutane para anak-putuku lan iya Panutane sapa-sapa, ning sing pada gelem, Aku ora akon"

Menurut beliaunya, setelah diteliti oleh beliau untuk para rasul dan nabi, dari asal mula terjadinya jagad sampai munculnya beliau di dunia, hanya tiga orang yang mengerti perkara kasunyatan yang berhubungan dengan Allah, Utusan lan Panutan (Penuntun). Itupun belum sempurna dan jelas sampai alam kasampurnan (kasidanjati). Kecuali hanya beliaunya saja yang sudah lengkap mengerti akan kesemuanya itu, misalnya: Wahyu Sejatining Kakung/Putri, Wahyu Roh Suci, sampai alam kasampurnan. Mereka bertiga itu adalah:

  1. Kong Hu Cu. Beliau sudah mengetahui bahwasannya jagad kasucian itu bulat, kemudian menyuruh membuat nisan dan bangunan-bangunan yang serba bulat.
  2. Yesus Kristus, mempunyai Trinitas/Tritunggal. Allah itu satu berjajar tiga yaitu: Rama (yang dimaksud adalah Sang Utusan), Putra (yaitu yang dimaksudkan sebagai Nabi/Penuntun/Panutan), dan Roh Suci (adalah yang dimaksudkan sebagai Gusti Allah).
  3. Nabi Muhammad SAW, karena adanaya perkataan Allah-Muhammad-Rasul. Allah itu Gusti Allah, Muhammad di tengah sebagai Nabi/Penuntun/Panutan, dan Rasul adalah yang dimaksud Utusan.

Hanya saja (menurut beliaunya) yang mengerti tentang hal itu hanyalah Nabi/Penuntun sendiri, sedangkan murid-muridnya tidak mengerti sama sekali. Murid-muridnya tidak mengerti kalau Gusti Allah itu adalah suksma sucin nabi tadi yang ada di alam kesuksmaan (alam terakhir), dan itu dikira ada perwujudan yang lain. Mereka menganggap bahwa suksma suci nabi ora kena kinayangapa (dibawa-bawa). Padahal mestinya tiga itu adalah satu, saling berhubungan erat dan manunggal. Apabila masih ada di dunia tiga itu menjadi satu, di alam antara (alam kubur) atau pangresikan atau kandhawaru hanya tinggal dua, dan di alam yang terakhir (akhirat) hanya tinggal satu. Hal seperti ini sebenarnya sudah beliau ajarkan semenjak tahun 1921 hingga tahun 1937, yang mana seringnya beliau melantunkan gending berikut ini:
"Sontoloyo angon bebek ilang loro, kari siji sing putih kanggo ing Gusti, ireng-ireng dewe, kuning-kuning dewe, putih-putih dewe."

Rama RPS. Sastrosoewignyo berkata:
"Murid-muridku kudu bisa kaya aku, yen aku bisa mikrot nratas langit sap pitu, murid-muridku kudu bisa uga. Yen aku bisa nampa dawuhe Rama Pran-Soeh, murid-muridku iya kudu bisa. Yen aku bisa lan saguh tumindak suci, awit wis meruhi lan ngalahake hawa-nafsuku, murid-muridku kudu meruhi lan ngalahake satruning suksmane dewe-dewe, dadi bisa tansah tumindak suci."

Dan untuk larangan-larangan ataupun anjuran-anjuran beliaunya berkata:
”Aja pada nerak nrajang wewalerku iya iku aja pada tumindak bandrek jina, iku bisa nampa paukuman. Bisa tanpa awer-awer, yen timbul maneh ora bisa dadi manungsa maneh, bisa-a dadi kewan. Elinga Nabi Adam diukum, wewadine kang tinutup ing godong ruda-mala, awit saka anggone nglanggar angger-angger. Mula ngenani ijab Roh, kang ateges ngakoni wetengan kang ora absah, ora kena. Awit iku aweh dalan marang ijajil, jim, lelembut, setan, mangka setan kuwi bolongan dom bisa anggoda, mlebu (artinya melanggar ketentuan yang sedikit saja) lali, setan cepet-cepet nrobos anggodha. Manehe aku biyen tau omong, yen pada gawe omah, upamane bisa gawe omah loji, gedong pisan kudu nganggo cagak saka, ora ketang mung siji apa loro. Dene yen dudu gedong iya bisa nganggo cagak saka apa umume. Sebab pada suwunen, omah sing ora ana cagake kuwi panggonane sapa? Uwong sing mati suksmane kesasar, ana ing paukuman iku, ana sing manggon omah tanpa saka cagak. Ing kamar paturon, sanduwure lawang kang mlebu menyang kamar, gawenen, wenehana simbul jemparing cacahe pitu ngener satengah bunderan, lan ing tengah-tengahe mawa aksara A.”
Apa yang diperinthkan tadi supaya jangan hanya ditulis saja, tetapi dilaksanakan dengan bahan dari apa saja, katu besi, seng dan lain-lain.


S. MENJELANG MENINGGALNYA SANG PENUNTUN

Perintah Rama RPS. Sastrosoewignyo untuk merubah nama Gusti Allah menjadi Rama Pran-Soeh di dalam sembahyangan dengan cepat bisa lekas tersebar. Dengan demikian maka kata-kata dalam bersembahyangan juga harus dirubah, dan juga untuk sebutan setiap harinya. Dan untuk kata-kata Gusti Allah, Tuhan Yang Manon,Yang Suksma Kawekas, Kang Murbeng Dumadi, Kang Maha Kuwasa, dan masih beberapa lagi, ternyata beda bangsa beda bahasa, jadi tergantung dari kebutuhan masing-masing yang biasanya adalah masalah kesusastraan atau untuk mempertegas sebagai keterangan tambahan. Yang seperti ini pada awalnya pasti menimbulkan sesuatu perkiraan yang tidak semestinya, tetapi setelah beberapa waktu toh akhirnya biasa saja, tetapi pasti akan  merambat sampai kemana-mana.

Perubahan tidak hanya itu saja. Belum ikutnya nama beliaunya di dalam sembahyangan, kemudian kata-kata supena (lupa), nekseni (bersaksi) dan ngakeni (mengakui). Tentu saja semua itu atas perintah beliaunya, dan selanjutnya kemudian kata-kata dalam sembahyangan itu disempurnkan. Beliaunya pernah berkata, bahwa ketika beliaunya sedang mencari tahu keadaan putra-putri/murid-murid beliau di alam halus maka beliau mengetahui bahwasannya murid-muridnya yang ada di sekitar Godean suksmanya sedang terpikat oleh jim/makhluh halus, yang akan dibawa ke Gunung Himalaya dengan kereta hingga beberapa gerbong. Tetapi berhubung ketahuan oleh beliaunya maka kemudian diberhentikan dan diselamatkan, kemudian beliaunya memerintahkan untuk wayangan di daerah Godean. Beliaunya sendiri hadir, dan kemudian memberikan wejangan sebagai berikut:
"Anak putuku pada ngopahi apa marang aku? Sing duwe pangkat dak jaga pangkate, kang pada duwe anak dak emong anake, kang pada duwe ingon-ingon dak jaga, jebul pada ora tresna karo aku, pada lali karo aku. Buktine pada kapikut jim, arep kagawa menyang Gunung Himalaya. Tujune konangan aku. Mulane nganti ana kedadeyan mangkono amarga anak-putuku akeh kang durung nekseni lan ngakeni ing alam batin kanti ceta temenan marang Panjenengane. Mula sembahyangane kudu katambah, kudu nganggo tembung nekseni lan ngakeni".

Rama RPS. Sastrosoewignyo memanggil murid-muridnya yang terkasih satu demi satu, kemudian setelah semua mendapat giliran dengan ditanyai yang bermacam-macam dan diberitahu pula hal yang bermacam-macam, dan yang belum paham akan sesuatu maka akan dijelaskan dengan sejelas-jelasnya mumpung beliaunya masih ada, dan semua ilmu yang dimilikinya diusahakan untuk dapat ditransfer kepada murid-muridnya seluruhnya, jangan sampai ketika nanti beliaunya sudah wafat menjadikan ragu-ragu. Kepada muridnya terkasih beliaunya berkata:
"SMH. Sirwoko lan Broto (Ong Sioe Gien) ketara kinthil aku bae, lan iya kinthil Ibune, mulane dijaluk potrete, arep dipasang dening Ibune ana kono. Dene aku yen kepepet ing mungsuh (menghadapi bahaya) ana ing alam batin, tansah dietutake Martaradana. Lha yen aku nyerbu mungsuh, kang katut Martawiyogho. Uwong Jawa kuwi aja lali karo Jawane, yen menganggo genep cara Jawa ana ing alam alus iku, kudu sikep gegamane nganggo keris."

Alkisah seorang murid baru bangsa China bernama Sioe Han, dapat menamatkan ilmunya dengan jelas adalah karena diberi restu oleh ibu. Sioe Han berguru karena baru saja banyak anggota keluarganya yang meninggal, dan dianya sendiri baru sakit. Dan setelah lulus dari semua ilmu beliaunya menjadikan kesetyaan kepada Rama RPS. Sastrosoewignyo dan ibu. Hampir setiap malamnya datang dan membantu yang bermacam rupa seperti seorang abdi. Dan apabila beliaunya terbangun langsung disambutnya dan dituntun untuk naik turun tangga menuju ke belakang. Beliaunya berkata:
"Sioe Han kuwi rumeksa banget marang aku, setyane ing kelahiran prasasat Sirwoko loro."

Dan ketika murid-muridnya yang sudah tamat belajar memerlukan untuk datang, dengan maksud untuk memintakan kesehatan buat saudaranya yang sedang terkena sakit agak parah, beliaunya berkata:
"Apa kowe ora ngerti yen uwong lara iku diukum dening Rama Pran-Soeh, luwih-luwih kowe uwong kang wus katam. Amarga diukum, jalaran nglakoni luput, dadi kowe mbelani uwong luput, sebab tunggale uwong dosa."

Rama RPS. Sastrosoewignyo sendiri jaeang sekali terkena sakit, apabila sakit hanya sebentar dan ringan saja, misalnya pusing, batuk, penyakit biasa mengingat usianya yang sudah 80 tahun. Apabila murid-muridnya ada yang melanggar aturan-aturan yang sudah diberikan beliaunya pasti marah, dan murid yang bersalah tadi tidak diperkenankan untuk datang menghadap, apabila memaksa maka beliaunya tidak akan menemuinya dan kebanyakan malah ditinggal pergi. Beliaunya selalu mengetahui apabila ada muridnya yang berlaku kurang pada tempatnya.

Dan ketika Ong Sieo Gien, Darma Wasita dan Poedjosoewito menghadap beliaunya pada siang hari karena hal perubahan kata-kata dalam sembahyangan dengan menambahi nekseni dan ngakeni, beliaunya berkata:
"Wigatine iya supaya kabeh pada nekseni, yen wis nekseni lagi ngakoni."

Rama RPS. Sastrosoewignyo kemudian meminta kepada pemerintah untuk pensiun, berhenti sebagai carik karena sudah tua, ditakutkan nanti pekerjaannya akan mengganggu banyak orang. Dua bulan kemudian pemerintah mengabulkan permintaannya. Kemudian beliaunya berpesan yang khusus berhubungan dengan Astana Waja dan Bale Suci Pran-Soeh:

  1. Halaman Astana Waja disebut Asmara Data, yang bisa masuk hanya yang sudah menamatkan ilmu, yang belum dilarang.
  2. Laki-laki harus berada di sebelah kanan batu nisan beliau, dan wanita harus disebelah kiri batu nisan ibu.
  3. Di Asmara Data, hanya diperbolehkan sembahyangan saja, tidak boleh menyembah batu nisan maupun kuburan.
  4. Pot yang dipasang oleh Ong Sieo Gien di sebelah kiri agar ditanami bunga berwarna putih, dan yang dipasang oleh SMH. Sirwoko sebelah kanan agar supaya ditanami bunga berwarna merah atau jambon.
  5. Pintu Astana Waja sebelah atas (di bawah anak panah) agar ditulis sengkalan "Katon Sare Jawata Luwih” yang artinya tahun 1957, tahun peletakan batu pertama bangunan itu.
  6. Beliaunya memberikan tuah apabila tiang penyangga (saka guru/cagak) Bale Suci Pran-Soeh yang empat itu berasal dari kayu sawit.
  7. Di bagian atas Bale Suci Pran-Soeh, agar supaya dipasangi arca Manyar Seta yang menjadi perlambang ketentreman/kesucian.
  8. Di parit bagian depan Bale Suci Pran-Soeh, yang sebelah kiri dipasangi arca Ditya Ganggas Kara, dan yang sebelah kanan arca Naga Wasesa. Maksudnya adalah untuk orang-orang yang menginginkan pangkat, Naga Wisesa adalah untuk orang-orang yang menginginkan kekayaan harta benda.
  9. Diperingatkan agar yang membuat Bale Suci Pran-Soeh, yang dapat menentukan bangunan itu bagus dan bagaimana cara penggarapannya adalah Martadimeja dan Sayuti.



T. SAAT-SAAT RAMA RESI PRAN-SOEH SASTROSOEWIGNYO WAFAT

”Caraa tanduran tembakau, aku iki rak mung kari kelip-kelip." Begitulah kata-kata beliau saat dihadapan banyak para muridnya. Semua hal sudah diberikan/ditransfer kepada murid-muridnya. Mungkin hanya sembahyangan yang nomer 5 saja yang perlu diperbaiki, dan sebenarnya tidak diperbaiki juga tidak apa-apa, karena toh yang mengerti hanya diri-sendiri saja. Dan setelah itu beliaunya mendongeng yang bermacam-macam, dari lakon Bratalaya Racut, yang tentunya nanti akan banyak yang menangis. Beliaunya juga menginginkan agar putra-putri ataupun murid-muridnya tetap untuk mengunjungi ibunya, mengingat ibu sering beda pendapat dengan beliaunya. Ibu sangat sering dikalahkan oleh murid-murid beliau dan juga banyak orang yang datang maupun dari golongan lain yang kebetulan bertemu dalam hal kesuksmaan/ kerokhaniaan.

Ketika ada pertunjukan wayang di Sasana Hinggil alun-alun Yogyakarta dengan lakon Baratayuda maka beliaunya berkata: ”Aku iki rak wis wiwit Bratayuda.”
Putra-putri dan juga murid-murid beliau terkasih apa yang dimaksudkannya. Dan beliaunya hanya membelakangi mereka saja tanpa mau memperlihatkan wajah, terlebih kepada putra-putrinya sendiri. Murid-murid beliau yang terkasih diberi pesan agar diberikan kepada murid-muridnya yang jauh tempat tinggalnya, dan setelah menghadap toh hanya diberitahu sekedarnya saja, dan seringnya beliau tidak berbicara dengan tatap muka dan dengan suara yang berat, tidak seperti biasanya.

Sebenarnya murid-murid beliau terkasih sudah mengerti lewat hubungan alam halus bahwa beliaunya akan segera meninggalkan dunia fana ini. Ong Sioe Gien mendapatkan bahwa beliaunya pulang ke rumah lama, Marta Asamara melihat beliaunya sudah bersatu kembali dengan almarhum ibu, Martaradana sudah dipamiti, Marta Suwita sudah merasa membawa jenazah, Darmawasita merasa menuntun beliaunya tetapi kemudian musnah, dan lain sebagainya. SMH. Sirwoko sendiri di dalam alam halus sudah mengumumkan nya di dalam sebuah pertemuan.

Bagaimanapun caranya maka harus diusahakan agar beliaunya tidak merasa terganjal dalam batin, jadi semua apa yang diinginkan agar dilaksanakan saja. Begitu juga dengan hari-hari besar yang nanti harus ditetapkan, ada empat:

1.      Hari kelahiran.
2.      Hari penerimaan Wahyu Sejatining Putri.
3.      Hari penerimaan Wahyu Sejatining Kakung dan Wahyu Utusan (Wahyu Roh Suci).
4.      Hari meninggalnya beliau. (Baru  kemudian hari, karena saat itu beliaunya masih sugeng).

Masalah tentang hari-hari yang perlu diperingati sudah dilaporkan kepada beliaunya oleh Poejosoewito dan diulangi lagi oleh Ong Sioe Gien, semua sudah direstui. Dan ketika ada salah seorang murid yang orang tuanya meninggal karena gantung diri, kemudian beliaunya berkata:
”Uwong mati nista iku, ing alam batine pancen tetimbrah. Samangsa durung bisa diresiki, disentek, iya ngudi ngelmu telung prangkat nganti bisa katam turune uwong mau lagi bisa ilang timbrahe. Dene yen durung katam tetep isih nimbrah. Mula anak putuku kang nduweni embah-embahne lelakon kang kaya mangkono, supaya pada nyenyuwun marang Rama Pran-Soeh, bisaa ketemu babuning kang ora kena pati wirang. Mulane yen anjodokake bocah kudu ngati-ati paniti priksane. Bocah mau apa turune uwong sing nduweni timbrah apa ora. Bab timbrah ora mung mati nglalu, nanging isih ana tunggale iya iku lara edan, ayan, lara lepra.”
Pada tahun 1957 ada gempa, beliaunya memerintahkan agar supaya mencari tahu kepada Rama Pran-Soeh, dengan adanya gempa itu apa yang akan terjadi?

Pada suatu malam (Minggu Pon) ada kurang lebih 300 putra-putri maupun murid-murid beliau yang hadir, untuk menyambut keberhasilan dari 20 orang murid baru. Sesudah dan sebelum upacara itu beliunya berpesan sangat banyak agar tidak usah merasa kecil hati ketika beliaunya sudah tidak ada, kerana beliau akan menjangkung kepada semua putra-putri dan murid-muridnya semua. Pagi harinya beliau pergi ke sawah dan pulang agak siang, sepertinya ingin segera menyelesaikan panen tembakau agar tidak keburu turun hujan. Sore hari beliau merasa kurang enak badan (merasa gerah), dan ketika akan dipanggilkan tukang pijat beliaunya tidak memperkenankan. Pagi berikutnya beliau menunggui anak-anak yang sedang merajang tembakau di rumah yang lama, beliaunya berkata:
"Endang dirampung-rampungake imbone kang wis mateng-mateng. Dina Kemis lan Jumuah bae anggone ngrajang. Leren, prei disik, awit bakal sugih dayoh, aku lagi duwe gawe.”

Buat para murid-murid beliau hal seperti itu, hanya menjadikan pertanyaan saja, tetapi buat ibu yang sudah mengetahuinya dalam alam halus adalah merupakan suatu yang luar biasa, dan ibu juga menyaksikan ketika beliaunya sembahyangan maka tidak seperti biasanya, ada perkataan yang ditambah:
"Mangga Rama Pran-Soeh kula nderekaken kondur.”

Dan ketika ibu ingin mencari tahu maka beliaunya berkata:
”Ora apa-apa, kowe bojoku kang wiwit biyen mula setya karo aku. Kowe aja susah yen dak tinggal, kowe rak digawekake omah anak-anakmu cilik-cilik wis watu ditumpuk-tumpuk, dadi awet lan ora gampang rusak. Lan kowe aja sumelang wis dak tinggali kadang golongan samono akehe, padha rembugen."
Dan ketika beliaunya diingatkan untuk tidak usah berpikir yang tidak-tidak maka beliaunya berkata:
"Aku iya ora apa-apa, awakku krasa sumuk, bab watuk mono wong wis tuwa".

Hari Selasa dan Rabo beliau sudah tidak keluar dari rumah sama sekali, dan putra-putri beliau kemudian diberi tahu, tetapi toh hanya sekedarnya saja dan beliaunya langsung membuang muka. Dan kepada putra beliau R. Mukri berpesan agar nantinya sesudah meninggal agar beliaunya dirias dengan pakaian Jawa (deles Mataraman), terus kemudian jubah dan baru dibungkus dengan kain mori seperti orang Islam tetapi tidak perlu diikat. Beliau tetap menginginkan makan meskipun hanya nasi putih saja, dan hanya dengan cawan (piring kecil) dan itupun hanya ketika siang tengah hari saja. Dan ketika ibu menyuruh untuk makan yang bermacam-macam malah mendapatkan amarah dari beliaunya, yang katanya hanya memberi godaan saja dan agar menjauh untuk istirahat saja.

Hari Rabo malam Kamis Paing tanggal 24 Oktober 1957 (30 Maulud 1889 Jawa) kurang lebih jam Beliaunya meninggal dengan tenang tanpa ada sesuatupun yang mengganjal dari hati yang ikhlas dan enak. Pada saat itu juga setelah semua yang menunggui (memang diperintahkan oleh ibu sebelumnya karena sudah mendapatkan firasat yang jelas) merasa tentram, maka kemudian wafatnya beliau disebarkan kepada semua sanak-saudara terutama yang jauh-juah. Dan bagi murid-muridnya meskipun semua sudah mengerti akan hal itu di dalam alam halus (firasat) tetap juga toh terkejut dan tiga hari menjelang meninggalnya beliau juga merasakan hal yang sama dengan beliaunya, terasa gerah. Ada sebagian muridnya yang baru mengerti ketika dalam 40 hari belakangan ini diperintahkan untuk menanam bestru yang maksudnya adalah jangan kabesturon (ketiduran), dan juga gempa yang belakangan terjadi ketika beliaunya memerintahkan untuk mencari tahu maknanya, adalah pengaruh dari akan kepergian beliaunya untuk selama-lamanya. Tentu saja banyak murid-muridnya yang merasa kecewa karena tidak bisa menunggui pada saat-saat terakhirnya, yang semua pada akhirnya merasa memang dikelabuhi. 

Kemudian khabar-khabar, surat-surat, telpon dan telegram serta siaran RRI Yogyakarta semua digunakan untuk menyebar berita meninggalnya beliau, dan cepat menyebar ke seluruh pelosok penjuru negri. Dan pada akhirnya yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir maupun menyampaikan bela sungkawa sangat banyak, dengan kendaraan yang bermacam-macam pula, dari bus, taksi, dan kereta api yang menuju stasiun Muntilan penumpangnya sangat berjubel. Banyak sekali karangan bunga yang datang dan memenuhi halaman berjajar hingga sampai ke Asatana Waja.

Seperti pesan beliaunya yang disampaikan kepada R. Mukri, maka kemudian jenazah akan diperlakukan seperti itu. Jasad beliaunya tidak seperti pada umunya, hanya seperti orang tidur saja dan tidak kaku, sehingga memudahkan dalam memperlakuannya. Mula-mula diberi busana Mataraman, kemudian jubah dan terakhir dengan kain mori rangkap sebelas dan tanpa diikat, kemudian dimasukkan ke dalam peti. Jenazah disemayamkan semalam untuk menunggu kedatangan putra-putrinya yang ada di Blitar dan Jakarta.

Atas permintaan putra-putri beliau maka setelah sembahyangan, jenazah juga disemayamkan di rumah yang lama (Selatan). Yang mengatur seluruh rangkaian upacara adalah diserahkan kepada para Sesepuh Golongan. Dari rumah hingga ke Astana Waja sudah diatur, untuk kaum pria ada di sebelah kanan dan kaum wanita ada di sebelah kiri jalan, semua berjajar empat baris dan tidak boleh ada antara ataupun tidak boleh meninggalkan tempat dan diharapkan semua bisa melihat jenazah beliaunya. Setiap duapuluh meter telah bersedia enam orang pemuda yang menggunakan pakaian serba putih yang nantinya akan membawa jenazah. Dan setelah waktu yang ditunggu-tunggu, dan semuanya sudah siap, kemudian peti jenazah yang dihias dengan sangat asri, diangkat oleh putra-putri beliau dan diberikan kepada Sesepuh Golongan dan diusung ke halaman, selanjutnya dibawa oleh pemuda-pemuda yang sudah siap berganti-ganti hingga samapai ke Asatana Waja. Dan semua yang ikut mengantar jenazah menggunakan pakaian serba putih dan tidak satupun yang berpakaian seronok, menjadikan suasana yang sakral dan penuh keprihatinan, serta memberikan rasa bela sungkawa kepada yang ditinggalkannya. Di Astana Waja semua sudah tertata rapi, maka jenazah kemudian dikubur dengan sangat hati-hati dan pengaji-aji. Dan semua prosesi upacara berjalan dengan lancar tidak ada halangan sedikitpun. Sebagai keterangan tambahan, bahwa di sawah-sawah dan atap-atap rumah sebelah kanan dan kiri Astana Waja banyak sekali dipenuhi dengan orang-orang umum yang ingin menyaksikan beliaunya, Rama Resi Pran-Soeh Sastrosoewignyo untuk yang terakhir kali.





 

 
Ref: